
"Oma jangan bercanda berlebihan dengan orang yang nggak di kenal ya." ucap Lena yang tersadar dari rasa terkejutnya.
"Apa sih kamu Lele, Oma itu dengan Omanya dokter ini bersahabat dan sejak dulu memang kita berencana menjodohkan cucu kita agar persahabatan kita menjadi keluarga." Oma yang tengah berada di kursi roda menatap ke dua anak manusia yang kembali terkejut.
Whatt?? gue pikir ini hanya hayalan Oma saja tapi
melihat reaksi si dokter sombong itu hanya diam
berarti ini benar. Ya Tuhan tolong A'im...hikssss
Apa tadi panggilannya Lele?? kenapa tidak sekalian dugong, dia lebih mirip seperti itu. Oh Ya Tuhan akan seperti apa ke depannya jika aku bersamanya nanti, kenapa semua doa ku tak ada yang terkabul?? Aku harus membicarakannya dengan Oma, mendengar bicaranya saja kepalaku sudah pusing, apa lagi seumur hidup aku harus bersamanya?? Noooo
"Ah Oma sebaiknya kita bicarakan lagi nanti sekarang kita pulang terlebih dahulu ya." Lena mencoba membujuk Oma nya agar menurut padanya.
"Baiklah, Oma juga sudah rindu dengan kamar Oma."
"Baiklah Pak Dokter kami permisi dulu dan ku harap kau tak menanggapi lelucon Oma ku ini." Lena berkata dengan berbisik saling berdampingan di telinga Bara.
"Aku juga tak berharap ini jadi kenyataan." Mereka pun melangkah bersamaan dengan arah yang berlawanan.
"Dadah cucu mantu Oma." Oma Rita membalikan badannya melambaikan tangan pada Bara, begitu juga Bara demi menghormati teman dari Oma nya ia pun sama berbalik dengan mengangguk dan tersenyum pada Oma Rita.
Lena hanya diam dan terus mendorong kursi rodanya menuju parkiran mobil untuk segera beranjak meninggalkan rumah sakit.
***
"Kenapa kau telihat gelisah Kak?" tanya Ziana yang kini tengah berada di cafe untuk mengisi perut kosongnya.
"Aku kenapa aku harus gelisah?" Aditya malah balik bertanya pada Ziana.
"Ya sudah lupakan." Ia pun kembali menyantap makanan tadi telah di pesan oleh mereka.
"Apa Kak Ditya suka nonton?" Ziana kembali bertanya untuk mencairkan suasana.
"Sedikit hanya jika jenuh maka aku akan menontonnya." Ucap Aditya.
"Apa sekarang Kak Ditya ada waktu? aku ingin merasakan kencan seperti orang lain Kak, menonton bersama dengan pasangan." Mata Ziana terlihat berbinar dengan hanya mengajaknya untuk nonton di bioskop seperti halnya gaya pacaran orang lain.
"Baiklah akan ku luangkan waktu seharian ini bersamamu, tapi apa tidak terlalu formil dengan apa yang kita pakai saat ini?" Aditya yang memakai kemeja tanpa dasi yang di gulung sampai sikunya dengan celana bahan juga pantofel yang mengkilap, sedangkan Ziana yang memakai gaun terusan selutut yang membuatnya tampak sangat cantik, dengan warna merah hati,meski riasan di wajahnya sudah di hapus agar tak terlalu tebal setelah acara pemotretan itu.
"Tak apa Kak mumpung kita masih di sini." Ziana tersenyum penuh rasa bahagia akhirnya ia bisa merasakan apa yang orang lain rasakan.
"Kalau itu bisa membuatmu senang, aku akan mengikuti apa yang kau mau." Aditya tersenyum dengan menyelipkan anak rambut Ziana di belakang telinganya dan tersenyum manis.
"Ah senangnya, kalau begitu lebih baik sekarang saja Kak." Ziana menarik tangan Aditya dengan penuh antusias untuk pergi ke lantai atas mall XX, sedangkan Aditya hanya tersenyum tipis tanpa adanya perlawanan ia hanya menurut kemana Ziana membawanya.
Saat membeli tiket untuk film komedi romantis yang mereka pilih ternyata sudah habis, hanya tersisa film horor. Ziana hanya mengangguk dan menyuruh Aditya untuk membeli tiketnya karena ia tak mau kehilangan momen seperti ini.
Habis lah aku, kenapa harus kehabisan tiket? Aku bahkan bisa menyewa satu studio. Tapi apa ini??
"Apa tak sebaiknya kita pindah saja, cari studio yang lain dan lebih bagus?" Aditya mencoba peruntungannya kali ini.
"Itu akan memakan waktu lama Kak, mana hari sudah sore pasti jalanan macet. Apa Kak Ditya takut dengan film horor?" Ziana memicingkan matanya menatap curiga pada Aditya. Padahal sebenarnya ia sudah tau pada saat kejadian di rooftop tadi.
"Oh kalau hanya itu tak masalah, aku pun sama Kak tak terlalu suka film horor tapi yang penting kita jadi nonton bareng." Ziana menyungingkan senyumnya pada Aditya.
"Baiklah." Melihat binar bahagia di mata Ziana, ia tak tega untuk menolaknya.
Mereka pun memasuki studio setelah ada pemberitahuan bahwa film akan segera di putar. Setelah mencari tempat duduk yang sesuai yang dengan tiket, mereka pun duduk.
Lampu studio mulai di padamkan, Aditya mulai gelisah dalan duduknya, ia terus bergerak kesana kemari membuat Ziana merasa heran.
"Kak Ditya kenapa?" tanya Ziana.
"Tidak hanya saja aku merasa kepanasan."
"Apa suhu di ruangan ini kurang, ini dingin lho Kak?
Ah liat filmnya sudah mulai." ucap Ziana dengan kembali menghadap ke arah depan.
Aditya memejamkan matanya dan menggengam kursi yang ia duduki dengan erat dalam hati ia terus merapalkan doa apalagi mendengar suara teriakan dan jeritan yang memekakkan telinga. Bukan apa - apa dulu ia pernah menonton film horor dengan sekertarisnya karena ia tak mau di anggap penakut maka ia pun mengikuti ajakannya. Tapi sepulang dari bioskop ia tak bisa tidur semalaman, seolah hantu - hantu itu mengikutinya.
Karena terlalu lama memejamkan mata, ia pun tak sadar jika tertidur selama film di putar. Ziana hanya menoleh dan menggelengkan kepalanya.
"Ternyata di balik sikap arogan mu, kau sangat takut dengan hantu." gumam Ziana yang tertawa kecil melihat sang kekasih yang kini tertidur di pundaknya.
"Bangun Kak." Ziana menepuk pipi Aditya karena film telah selesai di putar dan semua pengunjung bergegas keluar.
"Ada apa?" ia mengerjapkan matanya yang terasa berat dan memijit keningnya, kemudian ia tersadar dan duduk dengan tegapnya menyadari sekeliling studio yang sudah mulai kosong.
"Apa aku tertidur selama itu?" Aditya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Tidak apa yang penting Kak Ditya sudah mau menemani ku." Ziana pun tersenyum dan segera beranjak berdiri. Mereka berdua pun keluar dari studio dengan bergandengan tangan.
"Sekarang kau mau ke temani kemana lagi?" tanya Aditya begitu mereka sampai di luar bioskop.
"Pulang saja Kak."
"Baik lah."
Mereka pun bergegas keluar untuk menuju tempat parkiran, dan dengan segera Aditya melajukan mobilnya. Saat di tengah perjalanan ponselnya bergetar.
Drrrrt...Drrrttt
"Hallo, bagaimana?" ucap Aditya begitu telpon sudah tersambung.
"Sudah aku kirimkan lewat email Tuan segala bukti dan siapa dalang di balik foto - foto itu." ujar Angga dari sebrang sana.
"Good job." Aditya pun memutuskan sepihak panggilan telponnya.
"Siapa Kak?" tanya Ziana.
"Angga." Aditya memacu dengan cepat kendaraannya ia sudah tak sabar ingin melihat siapa dalang yang ada di balik surat kaleng yang dikirim padanya, dan yang sudah berani menyentuh gadisnya itu.