
"Tunggu Nona masih ada lagi bunganya di mobil." ucap kurir bunga tersebut.
"Memang berapa banyak lagi Mas?" tanya Ziana dengan mengerutkan keningnya.
"Satu mobil itu semua mau di taruh bagian mana aja ya Mba, saya rasa kalau di depan sini saja tidak akan cukup."
"Apa?" teriak Ziana yang kaget mendengar penjelasannya.
"Ada apa Zi?" Bu Rina yang mendengar teriakan Ziana dengan cepat menghampiri putrinya itu.
"Ini Bu, Kak Ditya mengirimkan bunga tapi bukan cuma satu buket tapi satu mobil."
"Apa? ya ampun Zi kamu harus mulai memberitau calon suami mu, meskipun uangnya banyak tapi beli lah sesuai kebutuhan, aduh kepala Ibu." Bu Rina memegang kepalanya yang terasa berdenyut melihat begitu banyak bunga tertata rapi di depannya.
"Ya sudah Ibu duduk dulu nanti aku akan berbicara dengan Kak Ditya Bu." ucap Ziana yang juga sama terkejutnya dengan sang Ibu.
"Mas yang lainnya bawa masuk ke dalam rumah aja ya."
"Baiklah Nona."
Setelah semua bunga di turunkan kini rumah Ziana penuh dengan bunga bahkan orang mengira jika ia tengah berjualan bunga. karena terlalu banyak maka jika ada pelanggan Ibu nya datang maka akan menjadi bonus untuk mereka membawa satu bunga untuk di bawa pulang.
Tuuutt...tuuuttt..
"Hallo bagaimana apa kau suka?" Suara di sebrang sana langsung menyahut.
"Kak aku sangat menyukai nya tapi jangan terlalu berlebihan, kasian Ibu jadi kerepotan karena terlalu banyak bunga di rumah." jawab Ziana
"Hmm baiklah." ucap Aditya tak bersemangat, mungkin ia merasa sedikit kecewa niat baiknya tak di sambit antusias oleh Ziana.
"Kak dengarkan aku, semua yang Kak Ditya berikan pada ku itu sangat membuatku bahagia tapi jauh lebih baik jika Kakak tak menghamburkan uang seperti itu jadi beli lah sesuai kebutuhan, lebih baik uangnya kita sedekahkan sebagian ke panti asuhan atau panti jompo yang membutuhkan. Aku calon istrimu jadi aku berhak memberi tahu mu, mana yang perlu atau tak perlu untuk di beli." terang Ziana panjang lebar agar Aditya tak kecewa dan salah paham dengan maksudnya.
"Baik lah aku mengerti, aku hanya tak mengerti bagaimana memberi barang pada calon istriku agar bahagia dengan apa yang aku beri, tapi jika itu yang kau mau baik lah aku setuju."
"Terimakasih Kak, kau selalu berusaha membuatku tersenyum bahagia. Asal kau tak macam - macam dan selalu memberiku kabar itu sudah jauh lebih dari cukup untuk ku. Aku menyayangi mu Kak."
"Aku juga, ya sudah hari ini aku ada rapat. Kau istirahat lah."
"Baiklah Kak." panggilan pun berakhir dengan senyum dari keduanya yang tak berhenti mengembang dari bibir mereka meski di tempat yang berbeda.
***
Pertemuan yang di minta oleh Oma Rita waktu itu batal, karena Bara ada operasi dadakan yang tidak bisa di tinggalkannya, maka jadi lah siang ini Bara juga Lena bertemu dalam satu cafe.
Menolak pun akan percuma karena Oma mereka punya banyak cara untuk membuat mereka bertemu. Dan di sini lah mereka berada di cafe XX tempat kejadian dulu mereka saling berjejal di pintu cafe.
"Ada yang harus kita bicarakan ini penting juga darurat." Ucap Lena mengawali pembicaraan mereka.
"Iya aku pun sama tentang perjodohan kita." Bara ikut menimpali, kini keduanya berada di posisi saling berhadapan tetapi sekarang dengan bangku yang sama.
"Kita harus menggagalkan perjodohan konyol ini, aku tak mau seumur hidupku harus terjebak dalam pernikahan dengan mu." ucap Lena sengan pandangan lurus ke arah Bara.
"Kita harus cari jalan keluar dari permasalahan ini."
"Tentu, aku juga sedang mencari cara untuk menggalkannya."
"Kau ini dokter yang tak kreatif dari tadi selalu saja mengikuti semua perkataan ku." Lena mendengus kesal.
"Lalu aku harus bagaimana lagi memang begitu kenyataannya kan."
"Ya berpikirlah, sekarang aku tanya apa yang ada dalam pikiranmu untuk menggagalkan perjodohan ini?"
"Kita bicarakan saja langsung sama Oma kita kalau kita sudah punya pasangan masing - masing."
"Apa kau bodoh hmm? aku tanya sekali lagi apa kau pernah mengenalkan wanita lain pada Oma mu?" tanya Lena dengan memicingkan matanya.
"Belum." ucap Bara dengan polosnya.
"Dan sekarang dengan tiba - tiba kau mengatakan sudah punya pasangan, apa kau pikir Oma mu akan percaya?" Lena menupuk jidatnya sendiri menyadari bahwa orang yang ada di depannya ini dokter sombong yang berotak cetek.
"Terus aku harus bagaimana?"
"Begini saja nanti kita pasti akan di kenalkan pada keluarga kita masing - masing nah bersikap yang tidak wajar saja yang membuat keluarga kita tak mau menerima kita, bagaimana?" tanya Lena dengan antusias.
"Idenya lumayan juga." Bara pun meminum pesanannya dengan kembali fokus pada pembicaraannya kali ini.
"Cih ide yang lumayan, itu ide yang cemerlang dari pada ide konyolmu yang aneh." Lena menyela ucapan Bara dengan mencebikkan bibirnya.
"Terserah kau saja, masalah ini saja sudah membuatku pusing, otakku sudah buntu."
"Aku masih saja penasaran kenapa sampai sekarang kau belum pernah membawa wanita ke rumah mu? kau itu kan sudah cukup umur, atau memang benar dugaan ku selama ini, kalau kau.." Lena yang hendak berbicara lagi langsung di potong oleh Bara.
"Heh bocah sebaiknya kau cuci dulu otak mu dengan detergen yang banyak, kau selalu menilai orang seenaknya. Aku ini laki - laki normal enak saja kau menuduhku hanya karena aku belum mempunyai pasangan." Bara terlihat kesal dengan apa yang Lena hendak bicarakan tadi.
"Enak saja mengataiku bocah, aku yang kau bilang bocah juga bisa sudah bisa membuat bocah sendiri." Lena pun tak mau kalah.
"Ah aku jadi punya rencana lain, aku akan menerima perjodohan ini dan akan ku buktikan ucapan ku kalau aku adalah laki - laki normal yang bisa membuat bocah seperti mu untuk membuat bocah, bagaimana?" Bara memainkan kedua alisnya di depan Lena.
"Kau jangan macam - macam ya."
"Tidak akan hanya itu saja, ah sepertinya kita sudah mencapai kesepakatan kita, jadi sebaiknya aku pulang saja." Ucapa Bara hendak berdiri.
"Hey tunggu." ucap Lena yang seperti kelabakan dengan apa yang Bara katakan.
"Kau jangan semaunya saja ya, kesepakatan yang mana yang kau maksud, hah?" Lena tetap ingin penjelasan pada Bara.
Bara langsung beranjak pergi menuju kasir di susul Lena yang mengejar Bara karena ia takut apa yang Bara katakan akan menjadi sebuah kenyataan.
"Wah nggak nyangka saya ternyata kalian berdua datang ke sini lagi berdua lagi, ucapan saya jadi nyata ya, pasti sebentar lagi mau nikah ya?" ucap kasir itu dengan menatap Bara dan Lena bergantian.
"Bodo amat." ucap keduanya kompak.