In Memories

In Memories
part 101



Setelah beberapa jam tak sadarkan diri Ziana pun mulai tersadar ia mencoba membuka matanya dan melihat sekeliling ruangan dan pandangan nya berakhir pada Aditya yang tengah tertidur di samping ranjangnya dengan posisi duduk dan kepala yang berada di dekat lengannya dan tangan yang tak pernah lepas dari genggamannya.


"Suamiku." Kata pertama yang keluar dari mulut Ziana dan langsung membuat Aditya yang tertidur pun bangun dan menegakkan tubuhnya, ia dengan segera mencium tangan istrinya yang terlihat lemah.


"Apa ada yang sakit sweety?"


"Aku haus."


"Tunggu aku ambilkan." Aditya mengambil air putih yang ada di samping nakas, lalu membantu Ziana untuk minum.


"Kepalaku sedikit sakit ya." Ziana tersenyum saat mengatakan rasa sakitnya.


"Aku panggilkan dokter dulu." Aditya pun beranjak berdiri tetapi kemudian tangannya di cekal oleh Ziana.


"Jangan pergi aku tak apa - apa, aku hanya takut." ucapnya lagi dengan mencengkram erat tangan suaminya, kejadian itu masih terputar jelas di memori nya saat ini.


"Jangan takut, aku di sini dan aku tak akan pernah meninggalkan mu sendirian lagi." Aditya pun mengelus lembut kepala Ziana.


"Bagaimana keadaan Evan?"


"Dia masih di rawat tapi untung nya tidak ada luka serius yang perlu di khawatirkan."


"Ah syukurlah, kau tidak marah kan suami ku?"


"Marah untuk apa?"


"Karena aku pergi tanpa izin mu, tadinya aku ingin memberikan mu surprise tapi ternyata." Ucap Ziana dengan suara yang semakin lirih karena mengingat kembali kecelakaan yang menimpa dirinya.


"Sudah jangan di teruskan, apa kau lapar?"


"Iya aku lapar."


Aditya pun dengan telaten menyuapi istri nya, ia terus mengucap syukur di dalam hatinya karena Ziana selamat dari kecelakaan dan sekarang ia masih ada di hadapannya.


"Setelah ini makanlah obat mu ya, agar kau istirahat lagi, apa kepala mu masih pusing, hmm?


"Tidak hanya sedikit mungkin setelah minum obat nanti akan lebih baik."


"Beristirahat lah sweety." Aditya menyelimuti Ziana kembali setelah makan dan minum obat, agar istrinya itu bisa memulihkan kembali kesehatannya dengan baik.


Ziana hanya mengangguk pelan dan tersenyum kemudian ia pun mencoba memejamkan matanya hingga nafasnya yang mulai teratur karena ia kini mulai terlelap dalam tidurnya.


Dengan segera Aditya pun mendial nama orang yang paling ia tunggu saat ini.


"Bagaimana?" tanya nya setelah panggilan tersambung.


"Kami berhasil menangkap pelakunya Tuan."


"Good sebentar lagi aku datang." Aditya pun memutus sepihak panggilannya.


Setelah itu ia pun menghampiri Ziana yang tengah tertidur dan mengusap kepalanya dengan lembut.


"Aku pergi sebentar sweety, tidurlah yang lelap."


Ia menitipkan Ziana pada perawat agar menjaga nya di dalam kamar dan juga dua orang pengawal yang selalu ada menunggu di depan kamar rawat Ziana. Aditya tidak ingin terjadi lagi sesuatu yang buruk menimpa istrinya, cukup kali ini ia kecolongan.


Ia pun melangkah pergi ke tempat parkir untuk mengambil mobilnya dan segera melajukan kendaraanya ke markas team Eagle. Begitu sampai ia pun turun dengan langkah yang begitu cepat dan terburu - buru karena ia sangat ingin tau siapa sebenarnya orang yang berada di ballik ini semua.


"Dimana dia?" matanya menatap tajam ke segala arah demi melihat orang yang selama ini di cari.


"Di ruang belakang Tuan."


Dengan langkah yang cepat dan emosinya yang seakan mau meledak, menahan rasa amarah di dada nya. Teringat kembali istri yang ia cintai terbaring lemah karena orang yang kini ingin Aditya hajar sampai tak berdaya.


Begitu sampai ruang belakang di lihatnya ada seorang pria yang tengah di ikat di kursi dengan wajah yang sudah tak karuan, mungkin karena penyiksaan dari pengawalnya.


"Selamat malam Tuan, orang ini lah yang menabrak nona Ziana secara sengaja. Ia merupakan suruhan dari bos nya yang juga meneror anda juga Nona Ziana. Semuanya adalah orang yang sama Tuan."


"Bagus lah aku tak perlu mengotori tangan ku dengan menyentuh nya." ucap Aditya datar dan dingin.


Aditya berjalan mendekati pria yang kini menunduk diam dengan terus meringis menahan rasa sakit di seluruh tubuhnya.


"Siapa bos mu?"


"Kau mau bermain dengan ku? Bram sudah kau pastikan keluarganya aman?" ucap Aditya kembali karena pertanyaan sebelumnya tidak mendapatkan jawaban, pria itu hanya diam menunduk.


"Sudah Tuan ini." Bram menyerahkan sebuah tab kepada Aditya.


"Tunjukan yang mana dulu yang akan kau selamatkan di antara mereka." Aditya menunjukan tab dengan layar foto semua anggota keluarga pria tersebut di bawah ancaman senjata api.


"Aku mohon jangan sakiti keluarga ku!"


"Kau bernegosiasi dengan ku?" Aditya pun menyeringai mendengar jawaban darinya.


"Katakan!!" teriak Aditya karena kesabarannya sudah habis jika ia mengingat lagi Ziana menjadi korban dari teror ini.


"Nona Elena Tuan."


"Elena." Aditya mengepalkan tangannya dengan rahangnya yang mengeras mengingat sosok gadis cantik bernama Elena yang menjadi dalang dari semua teror terhadapnya.


"Kau dengar itu."


"Baik Tuan akan kami bawa sekarang juga." Team Eagle pun bergerak cepat untuk membawa Elena ke hadapan Tuan nya.


Setengah jam berlalu Elena di bawa oleh team Eagle dengan tangan terikat juga mulut dan mata yang tertutup. Ia kini berhadapan langsung dengan Aditya yang tengah berdiri dengan kedua tangan yang menyilang di depan dada nya.


Dengan cepat pengawal pun membuka semua ikatan di tubuh wanita cantik itu. Dengan mengerjapkan matanya ia pun akhirnya melihat dengan jelas siapa yang kini berdiri di hadapannya.


"Aditya." lirihnya dengan suara yang bergetar.


flashback on


Elena di minta oleh Mami nya untuk menemui Aditya di sebuah cafe agar mereka bisa saling mengenal lebih dekat lagi, saat itu pikirannya yang sedang kalut karena cinta pertamanya menolak untuk kembali bersama dengan nya. Membuat nya berpikir untuk mencoba membuka hatinya dengan menerima perjodohan yang di lakukan Mami nya dengan sahabat nya Mommy Irene yang merupakan Ibu dari Aditya.


"Baiklah Mam nanti siang aku akan menemuinya di cafe."


"Anak baik jangan selalu murung ya sayang, masih banyak laki - laki yang menginginkan diri mu, kau cantik, baik dan juga menarik. Tidak akan sulit bagi mu mendapatkan penggantinya." Di usapnya lembut kepala anak gadisnya yang tengah murung beberapa bulan terakhir ini.


"Iya Mam." ucap Elena tersenyum.


Siang itu pun Elena bersiap untuk pergi menemui Aditya, ia pun memakai dress berwarna merah dengan polesan make up natural dan perhiasan berlian yang nampak membuatnya terlihat mewah dan berkelas.


Saat ini ia duduk sendirian di cafe yang menjadi lokasi pertemuannya, setelah sekian lama ia melihat Aditya datang dan Elena pun melambaikan tangannya agar Aditya mengetahui posisinya. Aditya berjalan dengan senyum nya yang mengembang tetapi bukan ke arahnya melainkan ke arah meja lain dan duduk di meja wanita yang bersebrangan dengan meja yang ia duduki saat ini.