
Di sebuah appartement mewah, Aditya yang baru sampai langsung merebahkan dirinya di atas tempat tidurnya yang nyaman tapi tidak dengan hatinya yang sangat begitu kesal mengingat apa yang telah Ziana lakukan padanya.
Sampai saat ini dia tidak ada menghubungiku, apa dia bersikap jual mahal setelah resmi menjadi kekasihku. Arggggghhhhhh awas kau nanti !!
Ia yang sudah sangat kesal terus saja mengumpat sampai akhirnya ia pun kelelahan dan tertidur.
Di tempat yang berbeda orang yang sedang menjadi objek kemarahannya malah sedang terlelap dengan nyenyaknya, Ziana tertidur setelah membersihkan dirinya.
Sore pun mulai menjelang untuk berganti waktu menjemput gelapnya malam, Ziana yang tertidur cukup lama mengerjapkan matanya karena masih terasa berat.
Ia terus meraba permukaan tempat tidurnya untuk mencari benda pipih yang selalu ia lihat pertama kali saat bangun tidur. Dengan segera ia bangun matanya membulat sempurna mengingat bahwa ia telah melupakan satu hal, yaitu Aditya.
"Mampus gue, tadi langsung tidur aja gue belum nelpon si patung es. Masa iya baru jadian udah berantem aja nggak bisa, gue harus ngasih penjelasan sekarang biarpun terlambat." Ziana terus saja berbicara sendiri mengingat akan kesalahannya kali ini.
"Tenang Zi, inhale...exhale" gumamnya menenangkan dirinya sendiri.
Ia pun mendial nomor kekasihnya yang namanya belum sempat ia ganti masih dengan tulisan yang sama. Panggilan pun tersambung tapi tak ada jawaban, tak putus harapan Ziana kembali menghubungi Aditya tapi nihil tetap sama tak ada jawaban juga.
"Ishhh terserahlah yang penting aku sudah menghubungi mu, mau marah ya silahkan kamu itu seperti perempuan yang tengah datang bulan, sensitif, ngambekan pakai rok aja sana besok kalau kerja." Ziana terus saja mengumpat menatap layar ponselnya seolah Aditya yang sedang ada di hadapannya saat ini.
Tok..tok..tokk
"Zi udah bangun kamu?" Bu Rina mengetuk pintu kamar putrinya dengan kencang dan berteriak.
"Iya Bu."
"Si Ibu kebiasaan banget tiap bangunin orang kayak ngajak ribut, orang pingsan juga bisa bangun denger teriakannya." sungut Ziana di dalam kamar.
Ia pun berjalan ke arah pintu kamar untuk membuka kan pintu.
"Ada apa Bu?" tanya Ziana.
"Ini ada amplop surat dari perusahaan kosmetik yang waktu itu, katanya mereka ada hubungi kamu tapi nggak kamu angkat." Bu Riina menyerahkan amplop yang berukuran sedikit besar itu.
"Di buka coba Ibu penasaran jangan - jangan itu isi kontrak kamu." Bu Rina yang memang berjiwa wartawan ini acap kali membuat orang berpikir mungkin cita - citanya dulu adalah menjadi reporter berita.
"Mana mungkin Bu." dengan segera Ziana pun membukanya ia membaca nya dengan sangat teliliti sampai ia pun membulatkan matanya tak percaya.
"Wah Bu ternyata aku di terima dan besok harus langsung menghadap untuk segera tanda tangan kontrak." Ziana meloncat dan memeluk Ibunya erat, ia masih tak percaya akan apa yang di alami nya hari ini. Dua keberuntungan yang tengah ia dapat dalam satu hari, apakah ini memang keberuntungan baginya atau kah ini adalah ujian hidup nya yang sebenarnya.
Keberuntungan yang di dapat adalah merupakan suatu ujian apakah kita bisa dengan bijak menjalankan nya atau malah sebaliknya bersikap dengan angkuh karena kita merasa sedang di atas angin.
"Ah syukurlah Zi, Ibu ikut senang tapi ingat kamu harus tetap fokus pada kuliah mu, coba besok kamu bicarakan dengan pihak perusahaan itu." Ucap Bu Rina.
"Baiklah Bu, besok aku akan coba membicarakannya." Ziana mengangguk dan mengikuti Ibu nya yang mulai melangkah ke arah toko laundry nya.
"Kamu mau ikut Ibu?" tanya Bu Rina yang melihat Ziana mengikutinya dari belakang.
"Memangnya Ibu mau kemana?" tanya Ziana yang berhenti melangkah karena Ibunya yang tiba - tiba berhenti dan membalikan badan.
"Issh janganlah Bu malu lagian kan belum tentu juga, semuanya belum jelas." Ziana mencoba untuk menahan Ibunya dengan memegang lengan sang Ibu.
"Apanya yang nggak jelas tadi kan buktinya Ibu juga udah baca sendiri, udah ah Ibu pergi dulu udah di tungguin tuh lagi pada beli bakso mang udin di depan mumpung masih jam setengah 5." Bu Rina yang tak akan pernah menyerah jika berita yang sudah sampai di tangannya pasti tak akan lama ia simpan.
Ziana pun menyerah percuma saja menahan Ibu nya. Ia berbalik menuju dapur karena ia merasa tenggorokan nya sangat haus.
"Si Zian mana ko sepi?" Ziana menatap seisi rumah melihat keberadaan Adiknya dan hanya melihat Bapak di depan garasi yang tengah mencuci mobil pick up nya.
Tak lama suara deru motor memasuki rumahnya, Zian pun masuk ke dalam rumahnya langsung menuju dapur karena perutnya lapar setelah latihan tadi.
"Heh pulang rumah mandi dulu langsung makan aja lo." Ziana yang duduk di ruang tv pun hanya di lewatinya begitu saja.
"Laper gue bodo amat lah ntar aja mandinya dari pada gue pingsan di kamar mandi." Jawabnya dengan melahap makanan yang ia ambil dan duduk di kursi samping Ziana.
"Mana ada lo pingsan kayak nggak makan aja lo tadi. Abis nguli lo?" sahut Ziana mencibirnya.
"Berisik lo." Ucap Zian sewot.
Sementara itu Aditya yang baru terbangun dari tidurnya langsung mengambil ponselnya untuk melihat apakah sudah ada notif dari orang yang ia tunggu dari tadi.
Ia tersenyum melihat ada 10 panggilan tak terjawab dan 2 pesan dari Ziana yang hanya ia buka dan tak berniat untuk membalasnya.
Baginya itu adalah sebuah hadiah terbesar dalam hidupnya lebih besar dari proyek ratusan milyar sekalipun yang ia dapatkan.
"Rasakan saja apa yang tadi ku rasakan, menunggu itu melelahkan." ia pun tersenyum miring dan mengusap ponselnya, ada rasa hangat di hatinya jika ia mengingat kekasihnya itu.
Ziana yang tengah mengecek ponselnya itu malah ia yang uring - uringan tak jelas karena pesannya yang hanya di baca tanpa ada balasan apa pun.
Apa sebegitu marahnya Kak Ditya padaku hanya karena itu?? bahkan aku tak selingkuh tapi seperti aku yang melakukan salah huaaa
Malam harinya saat semua keluarga tengah berkumpul di ruang tamu membicarakan Ziana yang telah di terima di perusahaan kosmetik menjadi topik hangat mereka kali ini.
"Wah gue jadi ojol lo juga nih." Ucap Zian yang tetap pada kesepakatan awalnya.
"Iya gue gaji lo dua rebu sekali anter." Jawab Ziana
"Enak aja jajan si upen ipen juga nggak bakal cukup apalagi gue."
Ziana mencibir mendengar jawaban Adiknya, ia menoyor kepala Zian yang duduk di sampingnya itu.
"Sudah cukup kalian itu umur aja yang makin nambah kelakuan tetap saja bikin Bapak sama Ibu pusing." Ucap Pak Risman menengahi.
Tok...Tok...Tok
"Biar Zii yang bukain." Ia melangkah menuju pintu depan.