
Malam yang panjang telah berganti pagi, fajar yang menyingsing di ufuk timur perlahan naik menyilaukan, dengan cahaya mentari pagi yang mulai menyinari bumi. Ziana yang masih bergelung nyaman dalam selimutnya mendengar ponselnya terus bergetar. Dengan malas ia mengangkat telpon nya.
"Hallo." Dengan suara serak bangun tidur dan matanya yang sedikit terbuka karena rasa kantuk yang masih mendera.
"Zi masih tidur ya?" suara pria yang dulu pernah membuat hatinya bergetar.
"Eh ada apa Van?" jawab Ziana kaget dengan segera ia duduk dan menegakkan badan nya, rasa kantuknya hilang seketika.
"Maaf ganggu ya?"
"Nggak kok, emangnya ada apa ya Van?"
"Emhh gimana nanti jadi ikut kan?" tanya Evan.
"Jadi deh kayaknya." Ziana mengangguk padahal ini bukan video call di sana Evan pasti tak bisa melihatnya.
"Bareng aja yu?" ucap Evan.
"Nggak usah kita ketemu di sana aja ya soalnya nanti gue mau anterin Ibu dulu." Ujar Ziana menolaknya secara halus.
"Ok kalau gitu sampai ketemu nanti."
"Iya sampai ketemu nanti." Ucap Ziana
Kemudian panggilan telpon pun berakhir. Ziana yang masih kaget diam termenung mengingat yang terjadi pada hati nya kini. Dulu memang ia akan sangat senang jika di ajak oleh Evan tapi sekarang hatinya sudah berpaling pada Aditya, tak ada lagi rasa yang menggetarkan, karena yang ada hanya keinginan untuk menghindar agar tak menjadi kesalah pahaman suatu saat nanti.
Ziana yang baru tersadar sepenuhnya mulai beranjak berdiri dari tempat tidur, rasa kantuknya sudah hilang sesaat setelah mendapatkan telpon dari Evan. Kini ia mulai melangkah keluar dari kamarnya untuk ke kamar mandi.
"Tumben kamu hari libur jam segini mau mandi? apa ada janji sama si tampan itu?" tanya Bu Rina yang sedang memeereskan pekerjaan nya.
"Ih apa sih Bu aku kan tiap hari juga rajin, Ibu nya aja nggak tau." Ziana melangkah pergi meninggalkan Ibunya.
"Rajin katanya tidur mau ke kampus aja susah di bangunin apalagi hari libur, kalau nggak ada janji mana mau mandi pagi." Bu Rina terus saja mengoceh tentang putrinya.
Setelah lima belas menit berlalu, Ziana keluar dari kamar mandi. Ibu yang dari tadi sudah tak sabar ingin bertanya padanya dengan segera langsung datang dari arah dapur sebelum Ziana masuk ke dalam kamar.
"Zi tunggu!!" teriak Bu Rina.
"Apa sih Bu?" Ziana pun membalikkan badan mengahadap Ibu nya.
"Heh anak nakal kamu masih hutang penjelasan sama ibu. Siapa laki-laki tampan itu?"
"Ih Ibu itu Kak Aditya yang Zi dulu ceritain itu lho."
"Iya Ibuu tau itu Nak Aditya maksud Ibu ada hubungan apa sama kamu? kan Ibu sebagai Ibu kamu berhak tau Zi."
"Halah Ibu berhak tau apa bingung kalau teman gibah Ibu jadi wartawan dadakan yang nanya-nanyain Ibu?" Ziana mencibir Ibu nya yang sudah tau kemana arah pembicaraan yang sebenarnya.
"Itu kamu tau, ya tinggal jawab aja sih kan Ibu malu kalau Ibunya aja nggak tau. Lagian Zi kalau nantinya ada yang nggak suka dan gibahin kamu yang macam-macam Ibu bisa bela kamu dengan bukti yang akurat." wajah penasaran Ibu nya sangat terlihat jelas.
"Kayak test pack aja akurat, ya tinggal bilang aja itu calon mantu Ibu."
"Emang kamu udah pacaran sama si tampan itu?" tanya Bu Rina tak percaya.
"Ck kan aku bilang calon Bu, calon mantu dan calon pacar juga. Makanya Bu doain." Ziana tersenyum dengan apa yang baru saja di katakan nya.
"Oh jadi masih ngarep ceritanya." Bu Rina mengangguk mengerti.
"Ibu ih tega banget bukan nya ngasih Zi semangat." Jawab Zi dengan bibirnya yang sedikit maju.
"Doa apa itu Bu tapi ya amin ajalah, ya udah Zi ke kamar dulu." Ziana pun melangkah ke dalam kamarnya.
Setelah berganti baju dan berhias memakai polesan make up yang natural, hari ini ia memakai dress berwarna navy dengan sepatu sneakers dan tas selempang yang membuatnya terkesan sangat manis.
Ia lalu berpamitan pada Bu Rina untuk pergi.
"Bu aku mau ke acara reuni dulu ya." ucap Zianq
"Oh kirain mau pergi sama si tampan, ya udah hati - hati kamu ya."
"Iya Bu, Zi pamit assalamualaikum." Ziana pun mencium tangan Ibunya.
"Waalaikumsalam." jawab Bu Rina dan kembali melanjutkan pekerjaan nya yang sempat tertunda.
Mobil yang tadi di pesannya sudah menunggunya di depan rumah, ia pun membuka pintu mobil dan mobil pun berlalu meninggalkan rumahnya.
Setelah 20 menit perjalanan sampailah di cafe x tempat reuni di adakan. Ia pun turun dari mobil dan mulai melangkah ke dalam cafe, di sana sudah hadir sebagian teman nya yang mengikuti acara reuni.
"Zi akhirnya ketemu juga kita."Ucap Irma yang merupakan teman sebangkunya dulu.
"Kangen ih." lanjutnya dengan memeluk Ziana erat.
"Sama tau, kamu sih kuliah aja pake jauh banget jadi nggak pernah ketemu kan kita." sahut Ziana
"Iya gimana lagi Zi itu udah jadi pilihan aku, eh duduk di sana yu mojok kita hahaha.."
"Yuk marii." Ziana dan Irma berjalan menuju sudut cafe yang menjadi tempat duduk mereka.
Satu cafe itu di booking untuk acara reuni sekolah mereka, semakin siang semakin bertambah banyak orang yang datang dalam undangan reuni tersebut.
Acara yang di buat santai untuk silaturahmi ini tidak merencanakan acara apapun hanya makan, ada yang menyumbang lagu, selebihnya hanya mengobrol saling melepas rindu dengan teman yang sudah lama terpisah karena kesibukan masing- masing.
"Zi apa kabar?" tanya Evan yang baru datang kemudian menghampiri Ziana dan duduk berhadapan dengannya.
"Hai Van kabar baik, lo baik juga?" tanya balik Ziana.
Ia merasa pandangan Evan menatapnya dulu dan sekarang itu berbeda, apakah yang di rasakan Ziana dulu sekarang Evan juga merasakannya, entahlah.
"Baik." Evan mengangguk tersenyum menatap lekat wajah cantik Ziana.
"Ehm jadi Ziana doang nih yang di tanyain?" tanya Irma yang membuat kedua nya memutus kontak mata mereka.
"Eh sory gimana kabar lo? lama nggak ketemu kita ya." tanya Evan.
"Dih Evan gue cuma bercanda tadi, tapi kabar gue baik kok." Jawab Irma berusaha menahan tawa melihat reaksi Evan.
"Iya deh yang bercanda bikin gue mati kutu ini." Evan tersenyum dengan wajah canggung menatap Ziana.
Ziana hanya membalas senyum Evan dengan anggun di depannya. Acara yang berlangsung selama beberapa jam itu pun akhirnya selesai juga.
"Zi pulang sama siapa?" Evan menghampirinya.
"Emh gue.." belum sempat Ziana berbicara Evan sudah memotongnya.
"Kali ini jangan nolak lagi, gue mau nganter lo." Evan menatap intens wajah Ziana.