
Di dalam ruang kerja nya Aditya terlihat gelisah, ia terus saja melihat layar ponselnya. Menunggu kabar dari kekasihnya yang sudah lebih dari satu jam ia tunggu tapi tetap tak ada notif apa pun dari nya.
"Shitt!!! menunggu itu hal yang paling ku benci." gumam Aditya, karena memang dalam hidupnya ia tak pernah bersedia untuk menunggu jika ada rapat atau acara apa pun itu ia lebih baik tepat waktu jika orang yang di janjikan telat lebih dari 5 menit ia akan langsung meninggalkan pertemuan tersebut.
Aditya memang di kenal dengan yang paling disiplin dengan waktu, baginya kehilangan waktu 5 menit sama saja kehilangan pundi-pundi rupiahnya. Tetapi apa yang di lakukannya saat ini ia menunggu seorang wanita yang bahkan tak ada kaitannya dengan bisnis, bukan hanya menit tapi hingga hampir satu jam lebih membuatnya tidak fokus pada pekerjaan nya.
"Arrrrgggghhhh lebih baik aku telpon saja." Ucapnya lagi dengan mengendorkan dasinya, dan rambut yang tadinya rapi sekarang menjadi berantakan karena tangan nya yang terus mengusap kasar berkali - kali hingga kini penampilannya sangat kacau.
Tuuuuttt...tuttttt
Dan panggilan pun tersambung.
"Haloo." Jawab Ziana di sebrang sana.
"Kemana saja kamu?" tanya Aditya yang mulai kesal padanya.
"Aku masih di acara pesta Kak ini baru mau pulang." jawab Ziana dengan terus melangkah masuk ke dalam mobil bersama Lena.
"Oh seperti itu kau lupa masih berhutang penjelasan padaku?"
"Apa harus di jelaskan sekarang di telpon?"
"Tahun depan." Aditya pun memutuskan sepihak panggilan tersebut karena kesal dengan jawaban Ziana yang terkesan menggagapnya hal itu tak penting.
"Hallo...halllo?" Ziana terus saja berbicara ia mengerutkan kedua alisnya menatap ponselnya yang sudah terputus.
Apa dia marah?? issshhh lucu sekali ia marah pada ku karena cemburu, ahhhhhh berarti dia benar-benar cinta padaku. Aku akan menggodanya lebih dulu biarkan saja sampai dimana ia tahan seperti itu hihihi..
Ziana pun tersenyum mengingat hal yang baru saja ia pikirkan. Lena dengan tatapan menyelidik di sampingnya terus saja mengguncangkan tangan Ziana yang belum tersadar dari lamunannya.
"Heh lo nggak ke sambet jin iprit hotel kan Zi?" Lena pun mengibaskan tangan nya di depan wajah Ziana.
"Issshhh apaan sih lo? mana ada jin masuk ke badan gue si anak soleh ini yang ada baru liat gue aja silau dia." Jawab Ziana asal.
"Lo pikir lo dewi quan in liat lo silau hayalan lo ketinggian, bangun woyy jatuh dari ketinggian itu bikin sakit sepantat semua." Lena misuh - misuh tak jelas.
"Kan aura gue dari kejauhan juga udah terpancar." Ziana terus menggoda sahabatnya.
"Terserah lo deh." Lena yang mulai kesal dengan jawaban tak jelas yang ia dengar.
"Ini si patung es nggak jelas banget dia nelpon tapi langsung di tutup gitu, marahnya kayak bocah gemesin." Ziana bukannya khawatir akan tingkahal Aditya yang marah padanya, ia malah tersenyum jika membayangkan wajahnya yang sedang merajuk padanya.
"Lo emang nggak takut kalau dia ngamuk?" Leena bergidik ngeri membayangkan Aditya marah hingga membanting Ziana seperti yang ada dalam pikirannya.
"Apaan lo geleng - geleng pasti bayangin gue ribut ya ma Kak Ditya?" cibir Ziana.
"Kebanyakan nonton drama lo."
"Iya kan buat referensi mun, jadi bisa di antisipasi." Lena terkikik geli membayangkan Ziana sedang melawan Aditya seperti di dalam drama kolosal film.
Karena perdebatan tak berfaedah dari kedua nya sehingga tak terasa mobil yang mereka tumpangi telah sampai di depan rumah Ziana.
"Gue turun ya makasih buat hari ini kalau nggak ada lo yang ngajak gue ke pesta saudara lo, sampai Pak Wanto jadi pinter juga gue nggak bakal bisa jadian sama Kak Ditya." Ucaap Ziana sebelum turun dari mobil Lena.
"Ampun deh lo Pak Wanto nggak usah di bilangin juga sampai lebaran kuda juga nggak bakal." mereka berbicara dengan saling berbisik karena membicarakan orang yang ada di hadapan mereka, supir Lena yang tulalitnya melebihi ponsel jadul jaman dulu yang susah bersaing di jaman yang sudah canggih ini.
Ziana dan Lena pun tertawa dengan apa yang mereka bicarakan, setelah itu Ziana turun dan melangkah menuju ke dalam rumahnya.
"Assalamualaikum putri kayangan baru pulang." teriak Ziana dari arah depan.
"Waalaikumsalam." Jawab bu Rina yang sedang memasak di dapur.
"Ya ampun dari mana kamu pulang dari pesta?" tanya Bu Rina.
"Iya Bu tadi si Lena yang ngajak dadakan banget ke pesta nikahan saudaranya." Jawabnya dengan berlalu pergi meninggalkan Ibunya untuk membersihkan dirinya dari riasan yang menempel di wajahnya. Ia pun ingin segera berganti pakaian dan merebahkan dirinya karena merasa lelah seharian ini terus saja berjalan dengan perut yang penuh kekenyangan.
***
Di SMA Merdeka bel tanda berakhirnya pelajaran pun berbunyi, dengan serempak semua murid bersorak penuh suka cita karena itu merupakan jam pulang yang mereka tunggu seharian. Dengan beragam aktifitas siswa setelah pulang sekolah merupakan kesenangan tersendiri di hati mereka karena masa muda adalah masa yang paling penuh energi dan semangat rasanya tak ada rasa lelah bagi mereka.
"Zian lo mau langsung balik?" tanya Luki di samping tempang duduknya dengan sibuk memasukan buku dan bolpoint yang berserakan di meja ke dalam tas nya.
"Emang ada acara apa? kok lo nanya gitu?" Zian yang tengah melakukan hal yang sama pun menoleh ke arah Luki.
"Latihan band yuk, minggu depan ada acara biasa lah kita ikutan ngisi lumayan kan bayarannya." Dimas yang menghampiri mereka pun ikut menimpali ucapan Luki.
"Boleh juga tuh dapat job dari siapa lo?" tanya Zian.
"Si Hendrik kemarin nawarin gue, katanya acara buat weekend jadi udah bisa di pastiin kita pasti terima dia langsung bilang oke aja sama panitia acara." Jawab Darma.
Mereka memang mendirikan band bersama, dulu awal nya tak sengaja hanya iseng saja untuk melatih keahlian mereka di bidang alat musik yang mereka kuasai tapi ternyata di luar ekspektasi sambutan penonton sangat bagus. Mungkin karena di tunjang wajah dan penampilan meraka yang semuanya rupawan membuat nama mereka makin di kenal, dan sering mendapat panggilan manggung.
"Oke lah mau langsung apa pada balik ke rumah dulu nih?" tanya Zian lagi
"Langsung aja deh biar nggak lama jadi pulangnya juga nggak malam banget." Ucap Darma dengan tangan nya yang sibuk mengetik pesan pada orang rumah memberi kabar bahwa ia pulang telat.
"Oke deh gue kabari dulu orang rumah biar nggak pengeng ntar kuping gue kalau pulang." Ucap Zian.
Mereka pun dengan tanpa aba - aba mulai menunduk mengetik pesan yang sama seperti sedang mengheningkan cipta bersama.