
"Maafkan kami, percaya lah Ditya sangat mencintai mu dan dia melakukan ini agar semua tetap baik- baik saja. Dia ingin kau tak mengkhawatirkan kondisinya setiap saat." Ucap Bara menjelaskan apa yang harus Ziana ketahui agar tak terjadi kesalah pahaman yang berlanjut.
"Tapi aku istrinya! kenapa di sini malah aku sendiri yang tak tau kondisi suami ku, jika tau begini aku pasti akan merawatnya dengan baik. Dia suami ku!" Seru Ziana dengan isak tangis yang tak henti, Ziana memukul dadanya sendiri.
"Sabar Zi, jangan begini." Lena kembali memeluk Ziana untuk menenangkan sahabatnya itu.
"Sebenarnya sakit apa suami ku?" Ucap Ziana menatap Bara dan Lena bergantian.
"Leukimia." ucap Bara.
Seperti tersambar petir, apa yang kini tengah ia dengar membuatnya mematung. Ia kini mencoba untuk bisa mencerna semuanya dengan baik, penyakit yang di sebutkan oleh Bara seolah terngiang terus di telinganya.
Seketika Ziana tersadar, kakinya lemas tak dapat menopang tubuhnya. Ia jatuh terduduk di lantai rumah sakit dengan tangisannya yang menyayat hati bagi siapa pun yang mendengarnya.
"Kenapa kalian tega pada ku, penyakit Kak Ditya begitu serius. Apa harus menunggu seperti ini?" ucapnya dengan suara tercekat. Dan Lena langsung memapah Ziana agar duduk di kursi.
"Aku sudah berusaha membujuknya tapi dia bersikeras untuk tak memberi tau apa pun tentang penyakitnya pada mu. Aku hanya orang luar Zi, jika aku ikut campur lebih dalam itu tak mungkin."
"Langkah pengobatan apa yang harus di jalani suami ku?" Tanya Ziana setelah ia sedikit tenang dan mulai berpikir jernih, karena sekarang yang terpenting adalah kesehatan suaminya.
"Dia harus segera mendapatkan penangan yang lebih baik, bukan hanya obat saja tapi kemoterapi bahkan operasi adalah jalan satu- satunya agar ia bisa sembuh."
"Aku tak pernah melihatnya minum obat, Ya Tuhan istri macam apa aku ini bahkan suami ku sakit parah pun aku tak tau." Ziana kembali memukul dada nya sendiri merasakan sesak di hatinya jika mengingat suaminya hanya berjuang sendiri dan benar - benar sendiri.
"Udah Zi, lo jangan nyalahin diri lo sendiri. Sekarang yang terpenting lo harus bersikap tenang, dan berpikir positif bahwa semuanya akan baik - baik saja. Kita akan berjuang bersama demi kesembuhan Kak Ditya." Lena mengusap air matanya yang sedari tadi ikut mengalir, melihat betapa rapuh sahabatnya itu.
"Makasih Len tanpa kalian gue nggak tau apa yang harus gue lakukan ke depannya."
"Zi bujuk lah Ditya agar ia mau segera berobat bahkan aku sudah memberinya daftar rumah sakit di luar negri yang punya peralatan lebih lengkap. Hanya kau yang bisa membuatnya berjuang untuk sembuh." Bara menepuk pelan pundak Ziana, dengan menatap matanya, ia mengangguk seolah meyakinkan jika ia bisa melakukannya.
"Baiklah nanti aku pasti akan membujuknya."
Setelah itu pintu terbuka dan keluarlah dokter Fiko yang tadi memberikan tindakan medis pada Aditya.
"Bagaimana keadaan suami saya, dok?" Ziana langsung menghampiri dokter Fiko.
"Saat ini kondisinya sudah stabil, mungkin beban pikiran yang terlalu berat menjadikannya drop. Saya sarankan beliau untuk tak terlalu lelah dan juga jangan biarkan beliau banyak berpikir apa lagi itu hal berat yang bisa menyebabkan tubuhnya tak kuat dan daya tahan tubuhnya yang lemah akan sangat rentan bagi kesehatannya." terang dokter Fiko menjelaskan kondisi Aditya.
"Baik dok, saya pasti akan menjaganya dengan baik. apa suami saya sudah sadar?"
"Terima kasih dok."
Dokter Fiko tersenyum mengangguk dan sebelum melangkah pergi ia menepuk pundak Bara sebagai bentuk simpati terhadapnya.
"Apa ada yang aku tak tau lagi tentang kondisi suamiku? agar aku dapat merawatnya dengan benar." ucap Ziana menatap Bara dengan rasa ingin tau.
"Ada, Ditya menderita PTSD atau gangguan stress pasca trauma." Bara pun menjelaskan nya dengan sangat detail termasuk peristiwa yang di alami Aditya yang menyebabkan ia mengalami trauma dan juga langkah yang harus Ziana lakukan jika sewaktu - waktu traumanya kambuh.
Selama menikah dengannya Ziana belum pernah melihat gelagat aneh dari sikap Aditya. Ia bersikap biasa saja karena kehidupannya dengan Ziana membuat nya tenang dan Aditya menganggap jika hidupnya sudah sempurna mendapatkan pendamping hidup yang begitu ia sayangi hingga traumanya sudah jarang sekali kambuh.
Tetapi saat ini keadaanya kembali di titik rendah, Bara yakin Aditya akan memikirkan penyakitnya dan itu akan berdampak buruk pada emosinya. Ziana harus tau yang sebenarnya, sehingga ia siap jika nanti sikap Aditya berada di luar kontrol dirinya sendiri.
"Ya Tuhan suamiku, begitu berat ujian mu." gumam Ziana dengan tangis yang semakin pecah mendengar penuturan tentang kondisi suaminya dari Bara.
"Kau harus kuat Zi, kita akan selalu membantu mu." ucap Bara.
"Antar aku ke ruangan nya, aku ingin jadi orang pertama yang ia lihat saat ia siuman." Ziana menyeka air matanya, ia mencoba berdiri dan menguatkan langkahnya untuk menemui suaminya.
"Baiklah." Mereka bertiga pun melangkah bersama untuk menuju ke lantai atas tempat dimana Aditya di rawat.
Saat sampai di depan pintu, Ziana menekan handle pintu untuk ia buka dengan tangan yang bergetar. Entahlah ia merasa sangat gugup untuk bertemu Aditya saat ini. Pintu kamar pun terbuka di lihatnya tubuh suaminya yang terbaring lemah tak bedaya dengan selang infus yang ada di tangannya juga oksigen yang menempel di hidungnya.
Wajah tampannya yang pucat seolah memperlihatkan jika kini ia sangat lelah, Aditya masih belum siuman. Ia seperti orang yang tengah tertidur lelap.
"Zi kau pasti butuh waktu berdua dengan suami mu, kita pamit pulang dulu dan jika ada apa- apa segera hubungi aku." Bara memberi kode pada Lena agar ia menuruti apa yang Bara katakan dan untuk kali ini Lena sepertinya setuju dengan Bara, ia pun mengangguk mengiyakan.
"Lo jangan kaya orang baru kenal sama gue ya kapan pun waktu lo butuh, hubungi gue malam ato subuh sekali pun gue pasti siap." Lena ikut menyauti.
"Terima kasih sekali lagi, ya benar aku butuh waktu untuk berdua bersamanya."
Setelah pamit Lena juga Bara pergi meninggalkan ruang rawat Aditya. Sedangkan Ziana duduk di samping Aditya, ia menggenggam tangan suaminya, dan tak henti menciuminya. Melihat keadaan Aditya saat ini membuat air matanya kembali deras menganak sungai membasahi pipinya yang chuby.
Ziana terus menangis jika mengingat penderitaan yang suaminya alami akibat penyakitnya. Dua penyakit serius yang membuat Aditya tak berdaya.
Saat ia tengah menangis, Aditya pun membuka matanya.Terlihat jelas istri yang sangat ia cintai tengah menangis di hadapannya, hal yang sangat ia takutkan akhirnya terjadi.
"Jangan menangis sweety, aku baik - baik saja." Aditya berusaha menggapai wajah Ziana untuk menghapus air matanya yang tak henti menangis saat tau Aditya sudah siuman.