
Saat mendengar pertanyaan seperti itu, Aditya berusaha untuk bersikap tenang agar tidak terlihat gugup. Ia berusaha menguasai dirinya dan meyakinkan istrinya bahwa tidak ada yang ia tutupi lagi.
"Tidak ada sweety, hanya itu saja." ucap Aditya dengan senyumnya berusaha untuk menenangkan Ziana yang nampak tak percaya dengan apa yang ia katakan. Bukan maksud hati untuk tidak terbuka hanya saja ia tidak ingin jika harus selalu di khawatirkan oleh Ziana. Karena baginya pria itu adalah pelindung yang paling di butuhkan oleh seorang istri, ia tak mau terlihat lemah di mata istri nya.
"Kau yakin?" tanya Ziana dengan memicingkan matanya menatap ke arah Aditya.
"Ya."
"Baiklah kalau begitu kita berangkat sekarang, kau harus banyak beristirahat suami ku."
"Tapi ada yang harus ku urus..." Belum sempat Aditya meneruskan kata - katanya, tapi Ziana menatap tajam Aditya.
"Baiklah kita pulang." baginya ini merupakan sesuatu hal yang baru, ia yang tak pernah pernah menurut pada siapa pun kecuali orang tua nya, kini malah menjadi seorang yang sangat penurut di hadapan makhluk bertubuh mungil nan cantik, istrinya yang paling berharga.
"Good boy." Ziana mengacungkan jempolnya dengan mengedipkan matanya dan senyuman yang sangat Aditya suka.
Dengan menginjak pedal gas mobil melaju dengan cepat, membelah jalanan ibu kota yang tengah ramai di siang hari karena jam makan siang yang membuat hampir sebagian besar orang keluar untuk sekedar mengisi perut mereka yang kosong setelah lama beraktifitas.
Jalanan yang ramai dan antrian kendaraan yang mengular adalah hal yang biasa apalagi di ibu kota yang terkenal dengan kemacetannya. Hawa panas di cuaca yang begitu terik membuat pelengkap saat masih terjebak dalam kemacetan yang panjang, dan itu kadang membuat emosi orang lebih mudah naik.
Beruntunglah bagi mereka yang memiliki mobil bagus dengan pendingin yang baik, akan lebih berkurang kadar panas di tubuh karena hawa yang di timbulkan dari pendingin itu sendiri sehingga memuat mood masih tetap stabil sampai di tempat tujuan.
Setelah terjebak kemacetan yang lumayan panjang akhirnya Ziana juga Aditya sampai di appartemennya. Dengan segera Aditya langsung menuju bathroom, ia ingin membersihkan dirinya terutama tadi setelah hidungnya mengeluarkan darah badannya terasa lengket dan kotor.
Karena rasa tak nyaman di tubuhnya Ziana pun kemudian pergi menuju bathroom di luar kamarnya, jika menunggu suaminya itu pasti akan membutuhkan waktu yang lama.
Mereka pun selesai dengan waktu bersamaan, saat keduanya memasuki walk in closet. Aditya tersenyum smirk sudah lama rasanya ia tak menyentuh istrinya itu.
"Kau menggodaku sweety." Ia melangkah menghampiri istrinya, keduanya kini hanya menggunakan handuk yang menutupi sebagian tubuh mereka.
Dengan cepat Aditya melepaskan handuk Ziana, dan handuk pun terlepas sempurna yang kini hanya menyisakan tubuh Ziana tanpa sehelai benang pun. Dengan cepat ia pun membuka lilitan handuk di pinggangnya.
Ziana hanya tertunduk malu, entah kenapa ia masih selalu merasa tak nyaman jika dirinya tak memakai pakaian sekalipun itu dengan suaminya sendiri.
Aditya mencium dengan rakus bibir Ziana yang selalu membuatnya candu, ciuman rakus yang menuntut itu di balas Ziana. Setelah itu mereka pun melakukan penyatuan di tempat yang tak biasa, walk in closet yang menjadi saksi betapa ganasnya permainan kedua nya karena rindu yang baru tersalurkan setelah kesibukan yang menjadi pembatas mereka untuk bisa saling memanjakan diri.
***
Di perusahaan Erlangga Corp terlihat sekertaris Angga yang tengah gusar menantikan sang big boss yang belum juga datang setelah jam makan siang berakhir. Ia terus menatap jam di tangan kirinya, tetapi setelah setengah jam berlalu belum ada tanda jika Tuannya akan kembali.
Akhirnya Angga pun memutuskan untuk menelpon atasannya yang selalu membuatnya mengelus dada setelah bertemu dengan istrinya itu.
"Isshh Tuan Aditya kemana ini? tak biasanya seperti ini kalaupun tak bisa kembali ke perusahaan pasti selalu memberi ku kabar sebelumnya." gumam Angga yang kini tengah pusing karena menurut jadwal hari ini ada pertemuan dengan klien yang akan membahas tentang masalah perkembangan kerja sama bisnis.
Setelah lelah menunggu dan selalu tak ada jawaban dari Tuannya, dengan terpaksa ia memberikan alasan yang klise jika Tuan Aditya tengah sakit dan tak akan kembali ke perusahaan pada klien yang kini tengah menunggunya.
"Sabar Angga keep smile, kamu pasti bisa ingat cicilan menanti mu. Dan hanya di tempat ini tempat kerja paling nyaman dan paling besar salary nya." Ucap Angga menyemangati dirinya sendiri.
Drrrtt...drttt..
Ponsel Angga bergetar tanda ada notif pesan yang masuk dan itu ternyata dari Tuan Aditya.
Tuan Aditya>>
Atur ulang jadwal untuk besok, hari ini aku ada urusan.
Setelah membaca pesan yang Aditya sampaikan Angga hanya bisa memijat keningnya, kepalanya terasa berdenyut ia harus mengatur ulang jadwal atasannya untuk besok. Satu pesan singkat yang akan membuatnya sibuk hingga sore nanti.
Dan setelah membalas pesan Aditya, dengan cekatan ia pun mulai sibuk bergelut dengan tumpukan berkas untuk di periksa sebelum di serahkan pada Tuannya.
***
Di ruangan yang tak begitu besar dengan bagian depan yang hampir semua terbuat dari kaca, di sinilah tempat Bu Rina yang tengah bergelut dengan pekerjaan nya menerima transaksi penerimaan cucian kotor dan pemberian cucian bersih pada customernya. Karena kini usaha nya yang semakin maju maka Bu Rina menambahkan pegawai baru, untuk membantu Conita dalam menyelesaikan tugasnya yang semakin banyak.
"Engkurr sini cepat ambil cucian yang kotor itu dan segera kerjakan ya, kalau sudah beres segera setrika yang sudah kering lihat berdasarkan tanggal pengambilan di agenda ya." Bu Rina memanggil pegawainya yang bernama asli Kurnia, sama nasib dengan Conita bagi Bu Rina nama mereka terlalu susah jika di panggil maka begitulah jadinya panggilan kesayangan dari Bu Rina.
Setelah selesai memberikan titah pada ke dua pegawainya, seperti biasa Bu Rina akan duduk manis di depan toko untuk menanti Ibu - Ibu yang sefrekuensi dengannya menjadi Kang gibah.
"Hey Jeng Erni, kemana aja lama nggak ketemu?" sapa Bu Rina pada Bu Erni yang melintas di depannya.
"Lah jeng baru dua hari lalu kita ketemu arisan, emang dua hari itu itungannya udah berubah jadi dua abad ya." Jawab Bu Erni dengan menepuk pundak Bu Rina dan duduk di sebelahnya.
"Bisa aja sih jeng."
"Eh Bu Rin tau nggak kemaren aku liat Bu Binsar yang janda itu bawa brondong ke rumahnya."
"Ah masa sih Bu?"
"Iya Bu aku aja heran lho ada yang mau sama dia ya, liat bulu ketek nya aja geli aku melambai gitu kalau pake baju keluar kaya rumput liar tak bertuan." Keduanya pun terikik geli membayangkan bulu ketek yang melambai tertiup angin.