In Memories

In Memories
part 97



Pagi ini adalah hari yang sangat menyenangkan bagi pasangan yang baru saja merasakan kembali hangatnya kebersamaan setelah kemarin mereka sempat salah paham karena teror pesan yang di terima oleh Ziana.


"Sweety apa kau yakin hari ini akan masuk kuliah?" bagaimana kepalamu?" Mereka kini tengah sarapan bersama, Aditya mengusap pelan kepala Ziana.


"Iya suamiku, hari ini aku harus masuk karena akan ada ujian, dan mengenai kepalaku ini sudah jauh lebih baik sekarang aku sudah tak meraskan pusing lagi." ucap Ziana tersenyum menatap manik mata Aditya.


"Jangan di ulangi lagi, jika kau ingin minum harus ada aku di samping mu."


"Aku tidak mau minum lagi, cukup kemarin untuk pertama dan terakhir kalinya. Rasanya sungguh tak nyaman perut dan kepala ku bereaksi dengan cepat." Ziana begidik membayangkan rasa yang ia alami setelah menenggak minuman beralkohol.


"Good girl aku harap juga begitu, kau tak akan mengulanginya lagi."


"Tentu."


Sebenarnya Ziana heran kenapa suaminya bisa mengetahui keberadaannya kemarin dengan cepat padahal ia dan Lena sama sekali tidak memberi tahu siapa pun jika mereka akan pergi ke tempat karaoke. Ia ingin bertanya pada suaminya tapi ia urungkan mungkin saja ada orang yang mengenalnya kemudian melaporkannya pada suaminya begitu pikirnya.


Ah sudahlah yang penting semua permasalahan ku telah teratasi dengan baik.


"Apa kau sudah selesai, sweety?


"Ah iya sudah kita berangkat sekarang saja." Ziana dan Aditya berdiri dan melangkah pergi untuk melakukan rutinitas seperti biasanya.


Begitu sampai di kampus Ziana langsung berjalan dengan cepat ia ingin segera bertemu dengan sahabat gesreknya yang telah menjerumuskannya ke tempat karaoke dan menenggak minuman keras tersebut, dengan langkah pasti Ziana pun bergegas menghampiri gadis cantik yang tengah duduk dengan malas seperti tak ada gairah untuk melewati hari ini.


"Heh Odah, lo itu bukannya bantuin masalah gue cepet beres malah jerumusin gue." Ziana menoyor kepala Lena dengan wajah yang cemberut.


"Kan lo yang mau Mun, malah lo yang girang banget mau gue ajak ke tempat karaoke. Kenapa jadi nyalahin gue, itu cuma sekedar ide brilian yang lewat begitu aja di pikiran gue. Nah malah lo yang semangatnya kan? terus salah gue dimana coba?" Lena terus saja mengomel tanpa henti karena ia tak terima jika ide nya di salahkan oleh Ziana. Meskipun memang apa yang di katakan Ziana ada benarnya, ia juga sama ikut terkena dampak dari ulahnya. Setelah sadar Lena langsung mendapat pukulan dari Oma nya plus bonus ceramah yang panjang hingga ia menahan kantuk yang amat berat saat ceramah panjang Oma berlangsung.


"Ide brilian kata lo? ide sesat lo tuh!" Ziana mencibir Lena yang kini tengah menatapnya kesal.


"Emang nya lo di marahin habis - habisan ya Zi sama laki lo?" Jiwa kepo nya mulai muncul saat ini, ia menata Ziana dengan sangat antusias untuk mendengar jawaban.


"Nggak di marahin sih, gue malah di giling terus sama dia katanya sih hukuman buat gue."


"Gila hukumannya itu sih bikin lo yang ketagihan." Kini Lena yang menoyor kepala Ziana, dan mereka pun tertawa bersama.


"Eh iya lo kemaren pulang di anter siapa?"


"Dokter Bara." ucap Lena singkat.


"Apaan kalau bukan mulut ember itu dokter, nggak akan gue kena omel Oma sampai berjam - jam sampai gue nahan ngantuk dengerin ceramah Oma, yang entah mungkin emang Oma dulu bercita- cita jadi ustazah tapi sampai sekarang malah jadi ustagaaa bikin kesel."


"Ah lo belum juga rasain kehangatan dokter Bara ntar juga kalau udah nyoba sekali aja, lo pasti bakal nangis bombay liat dia deket sama cewek lain."


"Udah ah malah bahas gue, gimana sekarang masalah lo beres?" tanya Lena.


Ziana pun mengangguk dan menceritakan semuanya bahkan adegan giling menggiling yang di dramatisir oleh Ziana. Ia hanya ingin sahabatnya itu bisa segera mengakhiri keegoisannya terhadap Bara, ia ingin sahabatnya juga merasakan apa yang ia rasakan kini setelah mendapatkan pendamping hidup.


"Otak lo udah nggak beres Zi, udah ah gue males denger cerita lo." dan Ziana pun tertawa terbahak - bahak melihat ekpresi wajah Lena.


"Panas kan lo makanya udah sih buka hati lo buat calon lo itu, toh gue liat Bara nggak jauh beda dari laki gue."


"Nggak usah di bahas mending sekarang fokus biar nilai kita naik."


Mereka pun mengakhiri perbincangannya karena dosennya sudah datang, hingga mereka pun kini fokus untuk mulai menjawab semua soal pada ujian semester kali ini.


***


Evan terus saja memperhatikan Ziana dari jarak yang cukup dekat karena baru saja selesai kuliah, Ia melihat dengan tatapan dan sorot mata yang sendu karena sejak datang ke pernikahan Ziana hatinya begitu sangat hancur entah kenapa rasa kecewa yang ada di hatinya begitu dalam hingga ia merasa tak mungkin lagi jatuh cinta pada wanita manapun.


Saat tengah asyik memperhatikan Ziana, seseorang menepuk pundaknya dengan lembut.


"Jangan menyakiti diri sendiri Van, kau berhak bahagia, semua sudah di gariskan oleh yang di atas. Jangan menentang takdir yang sudah ada Van." Ucap seorang gadis berparas cantik itu.


"Cinta tak harus memiliki bukan?" ucap Evan kini ia pun duduk di bangku dengan menghela nafasnya kasar.


"Aku tau apa yang kau rasakan seperti apa yang aku rasakan saat ini. Posisimu saat ini sama seperti ku, mencintai orang yang tak pernah berbalik dan mengulurkan tangan untuk kita." ucapnya lirih.


"Maaf Elena, maafkan aku. Cinta memang hanya sebuah rasa dan tanpa paksaan, maka jika harus seperti ini aku rela. Dan kau harus berusaha bangkit dan carilah laki - laki yang jauh lebih menyayangimu dan memperlakukan mu dengan sangat baik nantinya."


"Kau tenang saja Evan jangan mengucapkan kata maaf dengan terus menerus, aku masih bisa berteman dengan mu saja itu sudah lebih dari cukup untukku." Elena tersenyum cerah seperti tak ada beban dalam hidupnya. Elena adalah gadis cantik yang termasuk dalam kriteria wanita idaman bagi setiap lelaki hanya Evan yang tak tersentuh olehnya. Evan adalah cinta pertamanya meski dulu mereka pernah mempunyai hubungan yang spesial. Bagi Elena rasa yang masih ada dalam dirinya tak pernah sedikit pun berkurang untuk mantan kekasihnya itu. Bahkan ia pun menyatakan ingin kembali bersama dengan Evan.


"Aku hanya tak ingin berbuat jahat pada mu, aku tak ingin kau juga menungguku terlalu lama. Carilah kebahagiaan mu, karena aku tak yakin akan bisa menghapus namanya di hati ku. Maaf."


"Kau tenang saja ya." ucapnya dengan tersenyum getir, hanya kata singkat yang keluar darinya tetapi mampu meremukan hatinya yang menahan rasa kecewa karena kini cintanya telah jauh pergi meninggalkannya meski bagi Elena, Evan masih tetap mengisi ruang hatinya.