In Memories

In Memories
part 21



Ziana yang telah selesai mengikuti mata kuliah dengan segera bersiap untuk segera keluar dari kelas.


"Zi kita makan di luar yuk, gue yang traktir gimana?" ucap Lena.


"Ayo lah kita cuss."


Mereka berdua lalu pergi meninggalkan kelas nya untuk menuju parkiran dan setelah itu mereka masuk ke dalam mobil.


"Enaknya kita nongki dimana ya?" tanya Lena.


"Kita ke cafe biasa aja yang di mall xxx kan nggak jauh juga dari sini, gimana?" tanya balik Ziana dengan tangan yang terus sibuk dengan ponselnya.


"Ah bener juga udah lama gue nggak ke sana."


Lena pun melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh karena perutnya sudah tidak sabar untuk di isi.


Tak lama kemudian mereka sampai di tempat yang dituju, setelah mobil terparkir mereka lalu naik ke lantai atas untuk menuju ke cafe. Saat sedang berjalan dirinya di kejutkan oleh tepukan di pundaknya dari belakang.


"Lo mau kemana?" suara yang sangat ia kenal dan Ziana pun berbalik melihat orang tersebut yang ternyata adalah Zian.


"Lo ngapain di sini bolos lo? Ziana tidak menjawabnya malah balik bertanya pada Zian.


"Enak aja udah balik gue, gurunya rapat kan mau ada acara camping."


"Lagian nggak mungkin lah Zian anak nya baik gini masa bolos." sahut Lena menimpali.


"Terus aja lo belain Len makin besar kepala dia."


"Bener tuh, lo nya aja yang selalu nething sama gue." ucap zian


"Lo sama siapa ke sini?" tanya Ziana.


"Sama anak-anak tuh lagi pada makan, gue dari toilet ini."


"Eh ngomong soal toilet gue jadi kebelet ini, lo sama Zian dulu ya gue ke toilet bentar." Lena langsung berlari menuju toilet meninggalkan Zian dan Ziana.


Zian yang saat itu menggunakan hoodie hitam seperti berjalan beriringan dengan Ziana untuk pergi ke cafe yang sama dengan cafe yang sama dimana teman-temannya berada.


Mereka tertawa saling bercanda dengan berjalan beriringan dan di saat bersamaan ia melewati restoran yang Aditya tempati. Aditya duduk di dekat kaca yang bertepatan dengan Ziana melintas di depan nya.


Rasanya ada yang mengganjal di dalam hati nya, tapi entah apa yang ia tau saat ini ingin sekali dirinya marah tapi marah untuk apa? dan kepada siapa? ia tak mengerti.


Saat makanan datang pun ia hanya diam.


"Tuan makanan nya sudah datang, apa semua makanan ini tidak sesuai selera Tuan? sekertaris angga yang merasa heran dengan tingkah atasannya.


"Hmm.." Aditya mulai memakan makanannya meski hanya sedikit karena selera makan nya sudah hilang menguap entah kemana.


Setelah selesai mereka langsung pergi meninggalkan restauran untuk kembali ke perusahaan. Begitu sampai di ruangan kerjanya Aditya langsung menghempaskan tubuhnya, ia diam dengan tatapan tajam nya seolah sedang berusaha mengontrol emosi nya.


Tanpa sadar ia mengeluarkan ponselnya dan mendial nama seseorang yang tengah menjadi pusat kekesalan nya.


"Hallo.." ucap Ziana di sebrang sana.


"Dimana?" tanya Aditya.


"Aku sedang di cafe xx, ada apa?


"Tidak ada hanya tadi Mom menanyakan mu."jawab nya.


"Hmmm.." setelah itu seperti biasa panggilan di tutup sepihak oleh Aditya.


"Orang aneh kirain ada apaan, nelpon gitu doang. nggak jelas banget." gumam Ziana.


Untungnya Lena yang sedang asik berselancar di media sosialnya ia tidak menyadari keadaan sekitar, sehingga ia tidak mengetahui Ziana sedang berbicara di telpon tadi.


"Apa yang aku lakukan berbuat hal konyol seperti tadi, memalukan!!" ia pun menyugar kasar rambutnya dan mengendorkan dasi nya sehingga membuatnya sedikit berantakan.


***


Menjelang sore Ziana yang sudah lelah berkeliling belanja menemani Lena yang membeli gaun dan tas dan sepatu yang senada untuk persiapan pesta pernikahan saudaranya.


"Lena udah belom?? balik yu udah pegel gue."keluh Ziana.


"Oke udah beres ko, lo coba pilih satu gaun pokok nya wajib." Lena yang sedang memilih gaun berkata dengan nada memerintah agar Ziana mau membeli gaun.


"Nggak usah gue buat apaan coba, cukup lo beli martabak pesenan Ibu biar lo nggak di kutuk jadi cangkir."


"Hampir lupa gue." Lena menepuk jidatnya sendiri.


"Iya buat ke pesta Oneng masa lo mau gaun tidur malam buat dinas kan lo belum kawin."


"Pikiran lo tuh ya mikir baju dinas malam segala." Ziana menoyor kepala lena.


"Udah yu ah cabut ntar gampang kalau ada pesta gue tinggal pinjem baju lo."


Meski lena selalu royal pada Ziana tetapi baginya itu bukan suatu alasan untuk ia selalu bergantung pada nya atau pun memanfaatkan Lena. Karena sahabat yang sebenarnya hanya butuh untuk saling mengisi kekosongan dan melengkapi di situasi apa pun.


"Kebiasaan banget deh lo, ya udah kalau gitu kita pulang." ucapnya seraya melangkah meninggalkan butik pakaian tersebut.


"Eh kita beli martabaknya di ujung jalan sana dekat perkantoran gitu katanya di situ enak banget." ucap Lena dengan membuka pintu mobilnya karena mereka telah sampai di parkiran.


"Oke lah gue ikut aja yang penting martabak, bisa ceramah ntar kalau nggak di bawain." Lena pun duduk di kursi penumpang.


Setelah 15 menit perjalanan mereka tiba di tempat martabak yang ternyata berhadapan dengan perusahaan Erlangga Corp, letaknya di seberang jalan perusahaan Aditya.


Ia harus rela antri karena pembelinya juga banyak ini bertepatan dengan jam pulang kantor. Ziana dan Lena yang duduk di depan dekat dengan jalan raya tengah berbincang santai.


Di saat yang bersamaan Aditya yang baru keluar dari parkiran tak sengaja melihat Ziana, hatinya yang tadi tak karuan karena kesal kini tersenyum tipis melihat Ziana walau hanya di seberang jalan.


Saat tengah memandang Ziana dari dalam mobil ternyata di saat bersamaan Ziana menoleh ke arah mobil Aditya, seketika itu pandangan mereka bertemu. Ziana tersenyum mengangguk melihat Aditya, wajah yang sangat ia rindukan dari semalam.


Aditya yang kaget lalu memutus kontak mata mereka kemudian melajukan kembali mobilnya.


Cih si patung es kalau dekat tadi udah gue cium dia, gaya nya ampun so cool banget mau nyaingin beruang kutub. Ah kalau beruang kutub enak buat di peluk kalau dia enak buat di kekepin. Gue kasih lem perekat ketek aja biar dia selalu nempel di ketek gue dan inget trus wangi gue.


"Heh lo kenapa Zi kok melamun?" Lena menyenggol lengan Ziana karena dari tadi ia melihat Ziana tengah melamun tatapan nya kosong.


"Nggak apa- apa ko gue bingung aja ini nungguin antrian lama banget, udah gerah gue pengen mandi." Ziana mengelak kalau ia memang tadi sedang melamun.


"Halah paling lo lagi ngelamunin si Evan." cibir Lena.


"Dih nggak ya enak aja."


Drrrrt drrrt


Ponsel Ziana berbunyi dari orang yang menjadi topik perbincangan mereka Evan Marcello karena tadi ia langsung menyimpan no nya Evan.