
Setelah beberapa hari di rawat di rumah sakit, Ziana kembali ke appartementnya, ia kini harus bisa mematuhi peraturan baru dari suami nya,.Kemana pun Ziana pergi ia harus selalu izin padanya, tadinya Aditya tetap ingin Ziana selalu ada yang pengawal yang akan menemaninya kemana pun ia pergi beraktifitas tetapi Ziana menolaknya dan mengancam Aditya jika sampai dirinya di kawal ia akan pulang ke rumah orang tua nya. Maka dari itu Aditya pun mengalah tetapi tanpa di ketahui oleh Ziana, ia tetap penggunakan pengawal bayangan.
"Apa kepala sudah tidak sakit lagi sweety?" tanya Aditya saat mereka tiba di kamar, Aditya membantu Ziana untuk bersandar di headboard tempat tidur.
"Tidak apa suami ku ini sudah jauh lebih baik, pergi bekerja lah kau sudah lama tidak masuk." ucap Ziana menepuk pelan tangan suaminya.
"Kau yakin sudah tidak apa - apa?" Aditya masih tampak khawatir jika meninggalkan Ziana sendirian di appartemen.
"Iya aku sudah tidak apa, nanti aku akan menyuruh Lena ke sini agar aku tak sendirian, bagaimana?"
"Baiklah jika ada yang menunggu mu di sini, aku bisa tenang untuk pergi bekerja."
"Iya sudah sekarang bersiap - siaplah sudah jam 10, waktu yang cukup terlambat untuk seseorang pergi bekerja."
"Jangan lupa aku pemilik perusahaan tidak ada yang bisa memecatku." Aditya tersenyum jumawa sambil berjalan ke arah walk in closet untuk berganti pakaian dengan setelan jas yang telah beberapa hari ini tak pernah ia pakai.
Setelah di rasa cukup rapi, ia pun berjalan ke arah Ziana dengan merapikan bajunya yang terlihat kurang rapi.
"Suamiku tampan sekali, duduk di sini aku rapikan sedikit dasi nya." Aditya pun hanya menurut ia duduk di samping istrinya dan dengan cekatan Ziana pun merapikan dasi suaminya.
Kau sangat cantik meskipun pelipis mu masih tertutup oleh perban tapi kau tetaplah wanita tercantik bagi ku.
"Kenapa kau tampak murung, hmm?"
"Aku hanya sedang memikirkan bagaimana kalau luka di wajah ku berbekas?" lirihnya dengan sendu.
"Maka aku akan mengobati mu sampai sembuh, sekalipun luka itu meninggalkan bekas aku tetap akan selalu mencintai mu apa ada nya. Jangan terlalu mencemaskan hal kecil seperti itu sweety." Aditya mengelus lembut pipi Ziana.
"Tapi aku ingin sembuh, kau janji akan menyembuhkannya kan?" Ziana mengedipkan matanya dan tersenyum pada Aditya.
"Ayolah sweety jangan menggodaku saat aku sudah berniat untuk pergi."
Ah salah mata ku yang tak bisa melihat orang tampan di depan mata ku, selalu saja mata tak tau diri ini ini bergerak tanpa permisi. Jangan sampai dia mengurungku di kamar, tubuh ku saja masih terasa ngilu.
"Apa sih, nanti saja kalau aku sudah sembuh ya. Sekarang berangkatlah bekerja cari uang yang banyak untuk istri mu yang cantik dan imut ini." ucap Ziana dengan terkekeh, ia pun geli sendiri mengucapkan kata itu demi suami nya bisa segera pergi dan tak berubah pikiran.
"Baiklah pastikan sahabat mu itu datang ke sini, dan kabari aku ada atau tidak ada dia ke sini. Aku tidak mau kau sendirian di sini." Aditya pun berdiri dan membenarkan lagi baju yang sedikit kusut.
"Ok Boss." Ziana membuat tanda dengan jari telunjuk dan juga ibu jarinya membentuk huruf O.
"Baik - baik di sini ya, aku akan selalu menghubungi mu. Jika lapar pesan lah makanan dan jangan terlalu banyak bergerak. Aku pergi dulu." Aditya pun mendaratkan bibirnya pada kening Ziana, setelah itu ia pun melangkah pergi keluar kamar untuk segera berangkat bekerja.
***
"Apa kau tidak punya kerjaan lain, ini masih pagi tapi kau sudah ada di depan rumah ku?" sungut Lena saat melihat Bara di depan pintu rumahnya.
"Apa kau pikir pekerjaan ku sebagai seorang dokter itu tidak sibuk?" Bara menjawab pertanyaan Lena dengan pertanyaan lagi.
"Aku datang ke sini hanya untuk memberikan vitamin yang Oma pesan tadi malam, jadi sebelum aku pergi ke rumah sakit aku ke sini untuk memberikannya pada Oma. Jangan terlalu besar kepala Nona, aku bukan ingin menemui mu." Bara pun masuk ke dalam rumah untuk menemui Oma Rita.
"Ah cucu mantu ku sudah datang. Ayo sini Oma tau kau pasti di hadang duluan sama tunangan mu." Ucap Oma Rita yang terlihat baru datang dan langsung menyambut Bara, calon cucu mantu kesayangannya.
" Tidak apa Oma, ini vitamin pesanan Oma." Bara pun menyerahkan paper bag berisi vitamin itu pada Oma Rita.
"Terima kasih cucu mantu ku, ah iya hampir lupa Oma ingin minta tolong pada mu. Apa kau bisa bantu Oma?"
" Tentu Oma."
"Ini lihat lah kemarin Oma membeli satu set perawatan kulit, coba tolong di lihat dulu apa kandungannya cocok untuk kulit Oma yang sudah lansia ini?"
"Baiklah Oma, di mana barangnya aku coba lihat."
"Itu sudah Oma simpan di meja." Bara, Oma, dan juga Lena pun kompak menuju meja dan karena penasaran Lena yang tidak begitu menyukai perawatan kecantikan ingin melihat perawatan Oma nya yang meski sudah lansia tapi ia tetap selalu menjaga kulitnya.
"Produknya bagus sih Oma hanya saja ini tidak di peruntukan untuk lansia, takutnya terjadi iritasi jika Oma memakainya nanti dan kandungan yang tertera di sini juga kurang cocok untuk kulit Oma. Karena ini di sarankan untuk usia 20 sampai 40 taun."
"Kau saja yang pakai Lele, sayang kalau di buang itu Oma beli skincare mahal dari luar negri."
"Aku tidak suka perawatan seperti itu Oma, buang waktu saja."
"Pantas saja kulit mu tak seperti gadis lain." sahut Bara ikut menimpali.
"Apa maksud mu?" Lena memicingkan matanya menatap Bara.
"Kau bandingkan saja sendiri, luarnya begini apalagi dalam nya." ucap Bara enteng, ia lupa jika kini tengah ada Oma Rita di antara mereka.
"Enak saja kau bilang apa? kau mau bukti hah?" Lena yang terpancing emosi pun berdiri dengan berkacak pinggang.
"Mana?"
"Kau menantangku? baik akan ku tunjukan pada mu." ucap Lena emosi.
"Boleh." ucap Bara santai dengan menyilangkan ke dua tangannya di depan dada.
Oma Rita hanya berusaha menahan senyum nya, rencana nya berhasil. Oma ingin melihat ke dua cucu kesayangannya itu mengenal lebih dekat lagi dengan intensitas pertemuan yang semakin sering untuk keduanya, agar segera timbul adanya rasa saling tertarik di antara mereka.
Lena yang tanpa sadar dengan ucapan nya itu dengan cepat tangannya menyentuh kancing baju nya, saat akan membukanya dengan kesadaran yang sudah sepenuhnya terkumpul ia pun menggelengkan kepalanya.
"Kyaaa kau menjebak ku kan?" Lena berteriak dan menutupi dadanya yang masih berbaju lengkap dengan cepat Bara pun berdiri ia pun berlari keluar rumah karena kini Lena melempar semua perawatan Oma nya pada Bara.
"Kalian ini seperti kucing dan tikus." gumam Oma dengan menggelengkan kepalanya.