
Jam berputar begitu cepat tidak terasa hari pun sudah gelap, Ziana yang tadi tertidur langsung mengerjapkan matanya ia melihat jam di dinding yang menunjukan pukul 6.
"Ah gue kira udah isya, syukurlah gue bisa mandi dengan tenang." ia pun beranjak pergi dari kamarnya menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
"Untung kamar mandi kosong pasti lagi pada solat."gumam Ziana.
Setelah beres ia langsung pergi menuju kamarnya dan mulai menjalankan kewajiban nya sebagai muslim. Sesudah itu ia menuju meja rias untuk segera bersiap-siap, Ziana memoles tipis wajahnya dengan make up natural yang membuat nya terlihat jauh lebih fresh dan sangat cantik.
Gaun potongan sabrina membuat bahu nya yang putih telihat sangat kontras dengan baju yang berwarna hitam dengan panjang selutut. Ia pun memakai high heels berwarna senada, dan rambutnya di buat curly.
Ia terus mematutkan dirinya di depan cermin merasa aneh dengan tampilan nya yang sangat berbeda dari biasanya. Tak berapa lama ada yang mengetuk pintu kamar nya.
Tok...Tok...Tok
"Zi buka pintu nya ada tamu di luar." Ibu berteriak dan terus mengetuk pintu kamar.
"Iya sebentar Bu." Ziana berdiri dari meja rias nya dan mengambil tas kecil lalu pergi keluar.
"Di luar ada tamu ganteng banget itu pacar kamu?" Bu Rina berbicara setengah berbisik agar tidak terdengar sampai depan.
"Ih Ibu kepo deh, aku berangkat dulu ya." Ziana mencium tangan Bu Rina.
"Mau ke pesta kamu?"
"Iya Bu." Ziana menjawab asal.
Aditya yang sedang menunggu di teras langsung berbalik badan mendengar ada suara langkah kaki yang mendekat. Ia diam tak berkedip melihat penampilan Ziana yang tampak sangat cantik dengan gaun yang ia berikan itu.
Cantik, sangat cantik.
"Ehm sudah siap?" tanya Aditya tersadar dari lamunannya.
"Iya ayo." Ziana tersenyum mengangguk.
"Kami permisi dulu Bu." ucap Aditya dengan mengangguk sopan kepada Bu Rina.
"Ah iya silahkan titip Zi ya."
"Baik." sahut Aditya.
Mereka berjalan menuju mobil sport Aditya dan kejadian yang tak pernah di duga Ziana, seorang Aditya membuka kan pintu untuknya. Itu membuat Ziana merasa terbang dengan perlakuan manis nya.
Mobil pun melaju dan meninggalkan rumah Ziana, di dalam mobil terlihat kecanggungan di antara mereka. Jika sebelum nya Aditya akan bersikap seolah keberadaan Ziana tak terlihat tapi tidak kali ini, tapi ntah apa ia sendiri tidak tau.
Sesaat kemudian mobil sudah terparkir manis di halaman mansion yang sangat luas, mansion yang besar dan mewah dengan beberapa pilar yang sangat tinggi dan kokoh menjulang tinggi. Dan taman yang indah dan asri sebagai pemanis ada di depan mansion.
Gilaa ini rumah apa istana, ya ampun kaki gue gemeteran ini apa bisa ntar akting gue mulus tanpa ketauan. Bisa habis gue kalau ketauan, ini bukan orang sembarang pasti kelar nasib gue ini.
"Ayo masuk, jangan gugup dan harus natural." Aditya pun menggengam jemari Ziana dengan melangkah ke arah mansion.
Degg
Hey jantung tetap tegar ya, ini hanya fiktif belaka jangan terlalu berlebihan oke, berirama lah seperti biasa nya.
Ziana tersenyum lalu ikut melangkah mengikuti aditya. Mereka memasuki ruang tamu yang sangat megah dengan interior yang elegan dan mewah, di sana telah berdiri dua orang paruh baya yang terlihat mirip dengan Aditya, Mom Irene dan Dad Gamma menyambut kedatangan mereka dengan binar bahagia.
"Hay sayang apakabar?" Mom Irene langsung memeluk Ziana.
"Baik Mom." jawab Ziana dengan ikut memeluk Mom Irene.
"Gamma, panggil aja Dad ok?" Dad Gamma menjabat tangan ziana dengan senyum yang mengembang.
"Ah iya da..dad" ucap Ziana gugup.
"Aku nggak di anggap ini?" Aditya yang dari tadi memperhatikan interaksi di antara mereka ikut berbicara.
"Ah Mom sudah bosan kalau liat kamu, sudah malam yuk ah kita langsung ke ruang makan." ajak Mom Irene dengan menggandeng tangan calon menantunya itu.
"Makan yang banyak ya sayang karena Mom tau menghadapi Aditya itu butuh kekuatan hihi.." Mom Irene tertawa mengingat kelakuan putranya jika berhadapan dengan lawan jenis.
"Iya Mom pastinya." Ziana pun tersenyum mengangguk.
Setelah acara makan malam selesai mereka kembali duduk di ruang tamu.
"Sayang apa yang kamu suka dari anak Mom?" tanya Mom Irene dengan wajah yang menatap intens Ziana.
"Aku menyukai nya karena dia tampan Mom." Ziana tersenyum malu-malu.
Aditya yang menjadi objek pembicaraan hanya diam dengan kaki yang bersilang dan sebelah tangan nya bertumpu pada dudukan sofa karena di samping sebelah kiri ada Ziana.
"Ish itu sih semua orang juga tau kalau anak Mom itu memang tampan, apa ada yang lain?"
"Selain tampan, Ditya juga sangat pekerja keras itu membuktikan jika dia adalah pria yang bertanggung jawab dan tidak akan menyengsarakan keluarganya kelak. Aku suka pria pekerja keras Mom, kerja keras yang ia hasilkan dari setetes keringatnya untuk keluarga nya itu lebih berkah dari pada hanya berpangku tangan kepada orang tua." Ziana menjawab dengan hatinya karena di hapalan kertas itu tidak ada.
"Terima kasih sayang." Aditya tersenyum menatap Ziana.
"Ah calon mantu ku ini memang terbaik, sweet banget kan Dad?" Mom Irene memandang d
Dad Gamma lekat.
"Iya." sahut Dad Gamma.
"Hobby kamu apa sayang?" Lanjut Mom Irene.
"Baca novel online atau nggak nonton drakor Mom."
"What drakor?? Mom juga suka nonton drakor.
baiklah sayang kita satu frekuensi ternyata, lain hari kita wajib untuk nobar, ok?" Mom Irene bertanya dengan sangat antusias.
"Oh tentu Mom aku pasti akan sangat senang jika kita nobar drakor pasti akan sangat menyenangkan. apa mom sudah nonton yang drama terbaru cha eun woo? aku fans banget sama dia Mom, klo k-pop nya aku suka v bts hihi.." Ziana yang tadinya canggung merasa mendapat teman baru yang satu hobi dengannya.
"Ah sayang ternyata kamu pengagum pria tampan ya. Pantas saja kamu memilih Ditya sangat tepat sekali." Mom Irene ikut tertawa.
"Tentu Mom, apa Mom tidak sama seperti ku? tapi aku yakin kita sama."
"Oh jelas dong sayang lihat lah Mom tidak akan mau menjadi istri Dad, kalau ia tidak tampan."
Kedua wanita beda generasi itu kembali tertawa bersama, seakan tak ada jarak antara mereka yang baru satu jam bertemu.
Sedangkan Ditya dan Dad Gamma hanya menghela nafasnya dan menggelengkan kepala setelah itu menepuk kening mereka dengan kompak.
Kenapa jadi begini akan sangat sulit ke depan nya untuk memisahkan mereka dan pasti akan sangat merepotkan tentunya. Aku lupa kalau mom sama berisiknya dengan gadis ini. batin Aditya.
Tuhan kenapa kau kirim kan duplikat istriku untuk anak ku tapi semoga mereka selalu bahagia. batin Dad Gamma.