
Pagi hari yang cerah secerah hati Ziana yang saat ini tengah berbunga - bunga, ia merasa langkahnya terasa ringan setelah semalam berbincang dengan keluarganya. Baginya yang kala itu hanya mengharapkan bagaimana rasanya mempunyai kekasih hati nyatanya takdir memberikan kejutan yang tak pernah ia duga sebelumnya. Aditya hadir dalam hidupnya memberikan warna pelengkap menemani harinya dengan memberikannya berjuta cinta kasih yang selama ini ia harapkan dari orang yang tepat.
Senyum selalu mengembang di bibir tipisnya yang berwarna pink alami, Ziana terus berjalan menuju ke ruangan tempat biasa ia menuntut ilmu. Saat tengah asyik berjalan matanya di tutup seseorang.
"Ini siapa sih?" tanya Ziana dengan berusaha membuka tangan yang menutupi matanya.
Tapi yang di tanya hanya diam saja, ia terus menutup mata Ziana.
"Buka Odah gue tau ini lo."
"Kalau lo tau ini gue kenapa tadi lo nanya sih Mun." Lena pun segera melepaskan tangannya dan berdiri di hadapan Ziana.
"Biar lo seneng, walaupun lo nyamar jadi cat woman sekalipun, bau lo tuh udah kecium sama gue. Udah hatam gue." cibir Ziana
"Lo kira gue ******." Lena mengerucutkan bibirnya.
"Emmm ngambek lo, yakin nggak mau denger berita terhot, terhangat dan bombastis di pagi yang syahdu ini?" Ziana mendramatisir keadaan membuat Lena yang tadinya tampak acuh malah berbalik dengan mata yang berbinar penasaran dengan berita apa yang akan di sampaikan sahabatnya itu.
"Emang berita apaan pagi gini ada berita hangat kayak baru keluar dari oven aja."
"Gue di lamar sama Kak Ditya." ucap Ziana dengan cepat.
"Whatttt?? serius lo secepat itu?" teriak Lena.
"Berisik lo malu tau noh yang lain pada liatin semua." Ziana membekap mulut Lena dengan tangannya karena teriakannya menimbulkan perhatian mahasiswa lainnya.
"Asli ini sih beneran hot news, lo bentar lagi kawin dong?"
"Nikah kali ah, sekalian aja lo teriak pakai toa biar seisi kampus tau." Ziana yang tengah kesal karena teriakan Lena yang sempat membuat menjadi pusat perhatian.
"Ya sorry deh gue kaget banget soalnya." jawab Lena.
"Udah yuk ah mending kita kantin aja, gosip bentar di sana gue pengen tau detail cerita lo." Lena menarik tangan Ziana.
"Emangnya jam ini kosong gitu?" tanya Ziana.
"Iya makanya gue bawa lo ke kantin." Mereka pun berjalan menuju kantin dengan canda tawa yang tak henti keluar dari mulut mereka. Seperti biasa Lena memang selalu harus mendapat laporan secara rinci jika ia mendapat gosip terbaru apalagi ini menyangkut sahabatnya sendiri.
***
Sementara itu di perusahaan Erlangga Corp, Aditya yang tengah duduk menunggu tamu yang telah ia undang secara khusus hari ini. Ia sengaja mengosongkan jadwalnya hari ini demi tamu yang akan datang kali ini.
Tok..Tok..Tok..
"Masuk." ucap Aditya yang kini tengah duduk di kursi kebesarannya dengan menatap laptopnya tangan kanannya bertumpu pada pegangan kursi dan kakinya yang bersilang membuatnya terlihat begitu santai.
"Tuan ada Nona Rania." ucap sekertaris Angga.
"Ah iya silahkan." Aditya bersikap sangat manis kali ini berbeda dari biasanya.
"Terimakasih atas undangannya." Rania terlihat begitu bahagia, ia mengenakan pakaian terbaiknya kali ini. Masih tampak seksi dan menggoda namun tetap anggun.
"Maaf sudah merepotkanmu untuk datang ke perusahaanku." Aditya pun menghampiri Rania yang kini tengah duduk di kursi tempat biasa ia menerima klien nya.
"Ah tidak masalah, kebetulan jadwalku sedang kosong."
"Hmm,, begitu ya, mau minum apa?" Aditya kembali bertanya mereka kini duduk saling berhadapan dengan senyum yang tak pernah surut dari bibir Aditya.
"Apa aja." Jawab Rania dengan sorot mata yang mendamba melihat Aditya yang selalu tersenyum dari semenjak ia menginjakan kakinya di ruangan pujaan hatinya.
"Jika aku memberimu minuman racun apa kau juga mau meminumnya?" tanya Aditya dengan mimik wajah yang serius.
"Maksudnya?" Rania terkejut dengan apa yang keluar dari mulut Aditya.
"Aku hanya bercanda." Aditya tertawa dengan penuh arti.
"Ah kau ini." Rania kembali tersenyum.
Tak lama berselang Ob mengantarkan minuman ke dalam ruangan Aditya.
"Kau gadis yang cantik dan seksi mengapa aku baru menyadarinya ya." Aditya mulai membuka percakapan.
"Terimakasih pujian nya." Rania mulai merasa tingkat percaya dirinya berkali lipat mendengar pujian dari orang yang selama ini ia cintai.
"Kau juga merupakan wanita berpendidikan tinggi. Ah satu lagi kau juga menarik." ucap Aditya.
"Ah kau terlalu berlebihan." Rania terus tersenyum mendengar semua perkataan yang keluar dari mulut Aditya.
"Tapi sayang kelakuan mu lebih rendah dari wanita malam sekalipun." ucap Aditya dengan tatapan tajamnya.
"Apa maksud mu?"
"Cih kau pikir aku tak tau kau dalang di balik foto yang di kirimkan pada ku. Kau bahkan berani menggunakan gadis ku dengan membayar laki - laki yang telah menyentuh tubuh gadis ku." Wajah Aditya kian memerah kemarahan yang ada mengingat kembali cctv yang ia lihat.
"Apa kau tau aku paling tak suka jika apa yang menjadi milik ku di sentuh orang lain, apalagi di usik oleh orang yang sangat tak penting bagi ku." Aditya mencengkram dan mengangkat dagu Rania yang sudah bergetar ketakutan, ia bahkan dengan susah payah menelan saliva nya.
"Kau mau bermain dengan ku, hmm?"
"A..aku minta maaf, aku hanya.. aku mencintai mu sejak dulu sampai sekarang, dan aku tak rela jika kau di miliki oleh gadis lain." Rania mengungkapkan semua yang ada di dalam hatinya selama ini dengan tangis yang mulai membanjiri pipi nya yang halus.
"Itu bukan cinta tapi kau terobsesi dengan ku. Dengar karena kau telah berani mengusik kekasih ku maka jangan salahkan aku, jika apa yang ku lakukan pada hidupmu setelah ini akan membuatmu menyesal."
"Apa aku harus membuat cacat wajah mu dulu? agar kau tau diri siapa diri mu, hah!!" Aditya berteriak di depan wajah Rania.
"Jangan aku mohon, jangan lakukan itu pada ku. mulai detik ini aku janji tak akan pernah mengganggu kehidupan kalian lagi. Aku akan melupakan mu bila perlu aku akan menghilang dari jangkauan mu." Rania terus saja memohon bahkan ia sampai berlulut di hadapan Aditya.
"Apa aku harus mempercayaimu? dan apa jaminannya?"
"Kau bisa mempercayai ku, jaminannya apa pun yang kau mau selagi aku mampu memberikannya aku sanggup, asal tolong lepaskan aku jangan membuat ku cacat demi apapun aku juga seorang perempuan sama seperti kekasihmu." rengek Rania dalam permohonan dan tangisan pilunya.
"Jangan pernah kau sama kan kekasihku dengan mu. Dia seribu kali lipat lebih baik dari mu, bersiap lah anak buahku yang akan mengurusmu." Aditya berlalu pergi keluar dari ruangannya, kemudian masuklah 2 orang anak buah Aditya membawa pergi Rania.