
Isi paket yang merupakan foto Ziana dengan lingkaran merah dan cipratan darah yang telah mengering. Hal itu yang membuat kemarahan Aditya memuncak ada orang yang sedang mengincar istrinya.
Setelah terdiam beberapa saat lama nya karena ia tengah berpikir siapa saja kemungkinan orang yang telah berani menantangnya. Karena Aditya adalah seorang pebisnis sukses tentu saja banyak orang yang tak menyukai keberadaannya dan menganggapnya saingan berat dalam dunia bisnis, di tambah dengan sikapnya yang tak kenal ampun terhadap siapa pun yang berani melawannya dapat di pastikan ada beberapa orang yang menyimpan dendam pribadi terhadapnya.
Ia sering mendapat teror yang sama tapi jika hanya untuk dirinya sendiri tak masalah baginya karena ia mempunyai sistem keamanan dengan tingkat tinggi. Aditya bekerja sama dengan agen keamanan yang akan selalu menjamin keamanannya di mana pun ia berada, ia tak pernah pernah ragu untuk bepergian sendiri tanpa di dampingi oleh pengawal pribadi karena akan selalu ada pengawal bayangan yang selalu mengikutinya, tetapi kali ini menyangkut wanita yang sangat berharga bagi dirinya maka ia tak akan tinggal diam.
Tak sedikit dana yang ia gelontorkan untuk team Eagle yang menjadi team keamanan dirinya tapi baginya tak masalah asalkan keselamatannya terjamin, maka dari itu ia di kenal sebagai pebisnis yang tak kenal rasa takut. Karena di belakangnya selalu ada orang yang akan melindunginya.
"Angga hubungi team Eagle berikan perlindungan berlapis untuk istriku." Ucapnya dengan nada datar dan dingin.
"Baik Tuan."
"Dan periksa seluruh cctv perusahaan lihat apakah ada yang mencurigakan dan segera temukan siapa pengirim teror ini." ucap Aditya dengan amarah yang tertahan saat ia mengingat isi paket teror yang ia terima.
"Baik Tuan." Angga pun berpamitan untuk segera mengerjakan apa yang di perintahkan oleh atasannya.
Aditya menghela nafasnya kasar, ia memejamkan matanya mencoba untuk berpikir dengan jernih. Langkah apa yang harus ia ambil tak mungkin ia berterus terang pada Ziana tentang apa yang ia terima saat ini, Aditya tak mau membuat Ziana ketakutan. Baginya melindungi istrinya tanpa membuat kekhawatiran berlebih yang akan menimbulkan dampak psikis dari Ziana terganggu karena rasa takut yang akan selalu menghantui nya.
Ia terus mencoba mengatur ritme nafasnya, karena sekarang bayangan masa lalu dari traumanya kembali bermunculan, Aditya terus menggelengkan kepalanya untuk mengusir setiap memori yang terus berputar di dalam pikirannya. Keringat dingin terus membanjiri keningnya, Aditya terus berusaha melawannya tapi tetap saja ia kalah melawan trauma masa lalunya.
"Arggggggghhh jangan ambil dia!" Kedua tangannya menutup kupingnya dan ia terus menggelengkan kepalanya, tubuhnya ambruk dan jatuh terduduk dengan kedua kaki di tekuk.
"Jangan ambil dia, ambil saja nyawaku!" teriak Aditya dengan mata terpejam dan memukulkan dada nya berulang kali.
Angga merasakan hal tak enak, saat ini ia sedang berada di ruang cctv. Ia mengecek ruangan Aditya karena cctv ruangan atasannya hanya ia dan Aditya yang bisa mengaksesnya. Aditya tau sewaktu - waktu dirinya pasti kambuh jika ia tengah di hadapkan dalam situasi yang membuat mentalnya down maka ia hanya memberikan akses cctv pada Angga yang tak boleh di ketahui oleh orang lain.
Dengan cepat Angga berlari menuju ruangan Aditya, ia tau saat ini Tuannya sedang tak baik- baik saja. Angga menerobos masuk ruangan Aditya tak lupa ia pun mengunci pintunya agar tak ada orang yang tau.
"Tuan anda bisa mendengar saya?" tanya Angga yang kini berjongkok untuk menyetarakan diri dengan Aditya yang tengah terduduk di lantai.
Tatapan Aditya kosong, dengan matanya yang sembab. Ia seperti orang linglung yang lupa akan segalanya, dengan cepat Angga pun memapah Aditya dan mendudukannya di sofa. Ia pun mencari obat yang biasa Aditya konsumsi jika ia tengah kambuh. Setelah meminum obatnya tak berapa lama Aditya tertidur.
"Anda tenang saja Tuan ada saya dan team Eagle yang akan selalu menjaga keselamatan Tuan dan Nona. Akan saya cari sampai kemanapun orang yang berani mengusik kebahagiaan anda." gumam Angga yang kini tengah duduk menghadap Aditya yang tengah tidur dan berbaring di sofa.
Dengan cepat Angga pun menghubungi team Eagle sesuai apa yang yang di perintahkan terhadapnya. Jadwal yang sudah tersusun rapi terpaksa di batalkan oleh Angga karena melihat Aditya yang tak mungkin untuk dapat memimpin rapat setelah kejadian ini.
Aditya melihat sekertaris pribadinya ada di hadapannya.
"Tuan apa sudah lebih baik?" tanya Angga dan dengan segera ia mengambil air minum yang ada di meja dan memberikanya pada Aditya.
"Hmm, apa semuanya baik - baik saja?" setelah itu Aditya meminum air yang di berikan Angga hingga tandas.
"Jangan khawatir Tuan semua sudah saya kerjakan sesuai apa yang Tuan perintahkan, dan untuk Nona Ziana team Eagle telah menambah pengawalan berlapis dan sekarang Nona sedang berada di kampus tak ada yang perlu Tuan khawatirkan." terang Angga dengan panjang lebar agar atasannya itu tenang.
"Bagus, aku tak ingin terjadi sesuatu pada istriku. Jika sewaktu - waktu trauma ku kambuh lagi saat istri ku dalam bahaya, aku percayakan keselamatan istriku pada mu. Hanya kau dan team Eagle yang aku percaya." ucap Aditya dengan menatap Angga dengan intens.
"Baik Tuan tenang saja saya akan berusaha untuk selalu menjaga Tuan dan Nona."
"Sekarang kau boleh pergi, aku sudah baik - baik saja."
"Baiklah Tuan saya permisi dulu." Angga pun berlalu pergi keluar dari ruangan Aditya.
"Aku akan selalu melindungi mu sweety walau nyawa taruhannya sekalipun." gumam Aditya dengan tangan yang terkepal kuat menahan luapan amarahnya.
***
"Hey Mumun, gue kangen banget sama lo." Lena yang baru saja datang dari arah belakang langsung memeluk erat sahabatnya yang telah lama tak bertemu dengannya.
"Isshh lepas Odah malu di liat orang tuh, di kira kita cewek apaan." Ziana seolah memberontak untuk melepas pelukan Lena.
"Apaan sih lo sombong banget nggak mau gue peluk, semua orang di kampus ini juga udah pada tau kali lo udah merried dengan seorang pengusaha sukses nan tampan tapi sayang dingin nya melebihi kulkas frezer di abang es cream." Lena terus berbicara meluapkan kekesalannya terhadap Ziana.
"Kata siapa dingin, suami gue hangat banget tau kompor abang gorengan aja kalah hangat sama suami gue." cibir Ziana membela Aditya.
"Abis berapa ronde sih lo?" selidik Lena dengan menyipitkan kedua matanya melihat jejak kepemilikan yang Ziana tutupi dengan foundation tapi masih terlihat jelas meski samar oleh Lena.
"Apa sih nanya gitu, mana ada!" seru Ziana mengelak.
"Cih mata gue masih normal Mun, noh lo tutupin pake foundation juga masih bisa gue liat." Lena menunjuk leher Ziana.