
Setelah menunggu beberapa minggu akhirnya sampai juga pada hari yang paling di tunggu, hari ini adalah hari pernikahan Aditya dengan Ziana.
Ballroom hotel yang merupakan salah satu hotel berbintang di kawasan pusat kota Jakarta menjadi pilihan tempat perhelatan akbar pernikahan pebisnis sukses seorang Aditya Erlangga. Nampak kesibukan di dalam sana, beberapa orang berlalu lalang dengan membawa perlengkapan pernikahan beberapa jam sebelum acara di mulai. Pelaminan yang tertata apik dengan kemewahan yang sangat kentara dalam pemilihan sentuhan hiasan dan juga banyaknya bunga hidup yang membuat siapa pun akan terpukau melihatnya.
Ballroom hotel yang tadinya nampak biasa saja di sulap sedemikian rupa menjadi sangat mewah dan keindahan bunga yang tertata dengan elegan menambah kesan seperti tengah berada di taman bunga yang cantik.
Ziana yang kini tengah selesai di rias, ia menatap wajahnya dengan pantulan cermin kotak dengan banyaknya cahaya lampu yang menyorot wajahnya hingga memperlihatkan dengan jelas hasil dari riasan MUA yang sejak beberapa jam lalu merias dirinya hingga kini nampak sangat cantik.
"Ah lo cantik banget Zi." seru Lena dengan suara nya yang cempreng itu mendekat ke arah Ziana.
"Lo juga." ucap Ziana dengan menatap tampilan berbeda dari Lena, ia kini tengah memakai baju bridesmaid berwarna pink. Karena memang itulah warna yang di pilih oleh mereka berdua warna kesukaan yang mungkin bagi sebagian orang kurang di sukai.
"Apa lo udah siap?" tanya Lena dengan membenarkan apapun yang menurutnya kurang simetris dalam pandangannya terhadap penampilan sahabatnya itu.
"Gue gugup banget tau, apa penampilan gue ada yang kurang?" tanya Ziana lagi dengan memperhatikan seluruh penampilannya dari atas sampai bawah.
"Perfect." jawab Lena dengan mengacungkan kedua jempolnya.
Waktu pun berjalan begitu cepat, suasana semakin ramai. Seluruh anggota keluarga mulai berkumpul, mereka menggunakan pakaian terbaiknya. Mereka sibuk dengan ponselnya masing - masing, ada juga yang memilih untuk mengobrol untuk mengisi kekosongan waktu sebelum acara sakral di mulai.
Saat waktu yang telah di tentukan tiba, Ziana yang tengah bersiap untuk segera keluar dari ruangan nya di apit oleh Lena sebagai pendamping pengantin wanita yang akan menemaninya hingga ke tempat dimana acara yang paling sakral dari sebuah acara pernikahan akan di laksanakan.
Ziana berjalan pelan di karpet merah dengan membawa buket bunga mawar merah kesukaannya, ia sangat gugup kala itu. Tangan dan kakinya bergetar saat berjalan karena semua mata tertuju padanya, banyak tamu undangan hadir bahkan teman kampus nya pun ikut serta datang lebih awal untuk menyaksikan moment bahagianya.
Langkah kakinya terus ia ayunkan dengan di iringi lagu dari Shane Filan yang berjudul Beautiful in White menambah suasana semakin haru dan romantis, bahkan para tamu undangan yang hadir terasa terhanyut dalam alunan lagu yang di putar.
Jarak langkah kakinya mulai mendekati laki - laki yang sebentar lagi akan resmi menjadi suaminya, kedua orang tuanya tengah berdiri menyongsong putri kesayangannya untuk ia bawa kehadapan mempelai pria.
Ziana melihat dari arah belakang punggung calon suaminya yang terlihat naik turun seperti sedang menahan rasa gugupnya. Begitu sampai Ziana langsung di dudukkan oleh kedua orang tuanya di samping Aditya, sesaat pandangan mereka bertemu dan saling melempar senyum.
Ziana juga Aditya bahkan seluruh tamu undangan menghela nafas lega setelah kegugupan yang menyelimuti mereka sebelumnya. Ia kini mencium tangan Aditya yang kini resmi berstatus sebagai suaminya, setelah itu Aditya mencium kening Ziana dengan lembut.
Di sudut mata mereka menggenang cairan bening yang siap untuk menganak sungai, rasa haru yang menyelimuti ruangan itu masih terasa setelah keduanya resmi menjadi sepasang suami istri.
Dilihatnya dengan seksama ke empat orang tua mereka yang hadir menyaksikan moment bahagia keduanya, terlihat mengusap air mata bahagia melihat anak - anak yang mereka sayangi telah memasuki babak baru kehidupannya. Mengawali bahtera pernikahan dengan orang yang akan menemani anak mereka hingga tua nanti, ada rasa lega yang menyeruak di hati mereka. Tugas mereka sebagai orang tua telah selesai, hanya tinggal mendampingi dan melihat anak - anak yang mereka kasihi bahagia dengan kehidupannya kelak.
"Apa kau bahagia sweety?" tanya Aditya.
"Tentu, aku sangat bahagia sekali hari ini." Ucap Ziana dengan matanya yang terlihat sangat berbinar bahagia dengan senyuman di bibirnya.
Kebahagiaan yang terpancar dari keduanya sangat terlihat, dengan senyum yang terus mengembang di bibir mereka, meskipun dari tadi tamu tak hentinya datang memberi ucapan selamat kepada kedua mempelai. Tapi itu tak membuat mereka lelah, keduanya tetap berbinar bahagia melihat tamu undangan yang hadir memberikan doa bahkan setumpuk kado yang telah menggunung di sudut ruangan.
Saat tiba giliran tamu yang paling tidak di harapkan Aditya. Ya saat ini Evan tengah berjalan ke atas pelaminan untuk memberi ucapan selamat kepada kedua mempelai. Meski di ruang sudut hatinya ia terluka melihat gadis yang dulu pernah ia abaikan berdiri dengan pria lain. Gadis yang sempat akan ia rengkuh ke dalam pelukannya setelah menyadari betapa bodohnya ia baru mengetahui rasa itu sesaat sebelum ia benar - benar kehilangan cintanya, gadis yang tak akan pernah bisa menjadi miliknya sampai kapan pun.
"Selamat ya Zi, semoga pernikahan lo selalu di liputi kebahagiaan." Ucap Evan yang kini tengah berdiri dan menyalami Ziana.
"Terimakasih sudah hadir dan untuk doanya." ucap Ziana, ia tau suaminya kini tengah menahan amarahnya untuk tak ia luapkan di acara pentingnya kali ini.
"Tolong jaga Ziana baik - baik, dan aku ucapkan selamat untuk kalian berdua." Evan pun menyalami Aditya.
Tak ada jawaban dari Aditya hanya ada ekspresi datar dari wajahnya. Evan tau kehadirannya di sini tak terlalu di sukai oleh mempelai pria maka dari itu secepatnya ia turun dari pelaminan, saat turun di sudut matanya menggenang air mata yang siap untuk menetes dengan cepat ia pun menengadah ke atas agar air mata yang ia tahan tak terjatuh.
Dalam kebahagiaan yang tengah menyelimuti seluruh ruang sudut ballroom hotel, ada setitik rasa yang tengah teriris pedih. Rasa yang mungkin selamanya hanya Evan yang tau, yang akan terkubur bersama dengan berjalannya waktu. Meski jauh di sudut hatinya Ziana merasa ada ruang kosong di hatinya yang seperti tercubit melihat cinta pertamanya hadir dalam acara pernikahannya, melepasnya dengan laki - laki yang ia cintai kini.
Meski begitu biarlah semua cerita menjadi masa lalu yang tak akan pernah ia ungkapkan, terkubur di sudut ruang hatinya yang kosong untuk tak pernah ia buka pada siapa pun.