
"Iya kenal." Ziana tersenyum mengangguk kepada Evan.
"Ade kamu Zi?" tanya Evan melihat Zian yang duduk di hadapan nya.
"Ah iya kenalkan dia Zian Adik gue." Ucap Ziana.
Evan dan Zian berjabat tangan dan menyebutkan nama masing-masing.
" Dan Frida itu sepupu gue Zi, dia tadi merengek minta di temani makan di sini."
"Eh pantes aja ya gue pengen banget ke sini ternyata ada lo." Frida terus menatap wajah Zian yang duduk di hadapannya.
Sedangkan Ziana hanya menggelengkan kepalanya ia tau tingkah Frida terhadap Adiknya itu seperti orang yang sedang jatuh cinta.
"Zi besok masuk jam berapa?" tanya Evan.
"Besok bagian siang, kenapa?"
"Oh gitu ya udah besok aja lah di kampus." Ucapnya dengan seutas senyum dan tangannya yang tak henti memutar ponselnya.
"Oh oke deh."
"Mba ini pesanannya sudah jadi." Seorang pelayan datang menghampiri meja mereka dengan membawakan pesanannya.
"Oh iya terimakasih Mba."ucap Ziana dengan tangan terulur menerima paper bag makanannya.
"Van kita duluan ya soalnya ini udah di tungguin orang rumah." Zian mengacungkan paper bagnya.
"Ok deh sampai ketemu besok di kampus ya." Evan mengangguk pelan.
"Ya kamu pulang dong Zian." Frida yang nampak tak rela pertemuan nya yang baru sebentar di luar sekolah itu merasa waktu berlalu sangat cepat.
"Iya lah gue pulang masa iya gue jadi kuncen resto." jawabnya dengan berdiri hendak melangkah pergi meninggalkan Frida dan Evan.
"Kita pulang duluan ya Frida kalau mau lama liat Zian main ke rumah aja." Ucap Ziana dengan tersenyum jail ke arah Zian, yang menyebabkan ia mendapatkan pelototan tajam dari Adiknya itu.
"Wah emang boleh Kak?" tanya Frida dengan sangat antusiasnya.
"Tentu." Jawab Ziana dengan senyumannya ke arah Frida, ia seperti melihat dirinya yang pernah mengejar cintanya dengan Aditya tapi beda nya sepertinya gadis ini lebih tangguh darinya. Tak seperti dirinya yang telah menyerah dan kalah sebelum memulai pikirnya.
"Nanti kapan-kapan Kak Evan anterin ke rumah Zian." Evan ikut menimpali perkataan Ziana yang membuat Zian hanya bisa menutup mata dan menghembuskan nafasnya kasar.
"Kak Evan emang top." ucap Frida yang seperti mendapat angin segar mendengar perkataan Evan.
"Kalau gitu kita pamit ya, byee." Ucap Ziana pada Frida dan Evan dengan melangkah keluar dari restauran menuju tempat parkir mereka.
"Kenapa lo ngomong gitu sih, lo nggak tau tuh cewek nekat tau." Ziana yang dari tadi sudah tak tahan untuk segera memarahi Kakaknya sendiri.
"Iya kan nggak apa-apa Zian namanya main ke rumah teman sekolah sendiri masa nggak boleh?" Ziana sengaja menggoda Zian.
"Apa emang itu cewek lo ya, kalian lagi berantem?"
"Mana ada dia bukan cewek gue ya." Ketus Zian dengan terus menjalankan motornya mereka berbicara dengan saling berteriak karena angin yang bertiup kencang dan suara dari kendaraan yang membuat nya tak bisa mendengar dengan jelas.
"Kenapa lo nggak terima, dia cantik ko."
"Nggak ya mana ada cewek nguber cowok." Ucapnya lagi.
"Mana ada cewek banyak kali nggak cuma dia doang."
"Kejadian baru tau rasa lo, lagian zaman sekarang zamannya emansipasi udah bukan hal yang tabu lagi cewek yang ngejar cowok duluan, apalagi cowok cuek kaya lo nggak bakal maju kalau nggak inisiatif ceweknya duluan."
"Udah diem lo bawel amat." Zian menyudahi obrolan yang menurutnya tak ada faedahnya itu.
Sesampainya di rumah makanan yang tadi di belinya langsung di siapkan di makan karena merasa anggota keluarga telah lengkap semua di meja makan. Bapak yang di cari Ibu ternyata pulang terlambat karena ada order tambahan dari pelanggan nya.
"Alhamdulilah hari ini keluarga kita di beri rejeki lebih, kita bisa berkumpul dan menikmati hidangan mewah ini." Ucap Pak Risman.
"Iya Pqk alhamdulilah." Ucap mereka serempak lalu dengan segera mereka melahap semua hidangan yang ada di meja tersebut.
Setelah selesai makan Ziana langsung menuju kamarnya, ia melihat notif pesan dari Lena jika besok ia akan menghadiri acara pernikahan saudara nya dan ia ingin jika Ziana ikut serta menemaninya. Dengan segera ia menelpon Lena.
"Hallo Len, besok kan harus ngampus lo mau izin?" tanya Ziana.
"Sekali doang Zi ini juga bukan bolos, lagian kan tugas juga udah pada beres. Lo pokoknya wajib ikut." Ucap Lena dari sebrang sana.
"Issh nggak ah malu gue mana gue nggak punya baju nya."
"Kalau soal baju sih gampang lo pinjem punya gue, kayak baru sekali aja lo pakai baju gue."
"Tapi itu kan acara keluarga lo Len, masa sih gue ikutan."
"Iya nggak apa-apa pokoknya besok lo ke rumah gue pagi banget, awas kalau lo nggak datang ngambek nih gue."
"Iya besok gue usahain, ya udah gue mau tidur duluan."
"Ok bye."
Panggilan telpon pun berakhir. Ziana merebahkan dirinya di kasur, selintas bayangan wajah Aditya muncul, ia merindukan nya.
"Kangen kamu patung es, semoga kamu bahagia selalu.nWalau di sini aku terluka mengingatmu tapi kenapa aku tak bisa melupakan mu bahkan aku tak bisa membenci mu. Apa mungkin terlalu menyakitkan akan semua kata-katamu sehingga aku tak pernah bisa lupa pada mu." guman Ziana lirih.
Hatinya masih sangat mengukir dalam nama aditya tanpa terhapus sedikitpun padahal dulu ia juga pernah jatuh cinta tapi tak sedalam ini. Seperti ada satu ikatan yang selalu menyambungkan mereka, bahkan pertemuan-pertemuan mereka yang tak di sengaja membuat ke dua nya tak pernah bisa saling melupakan.
Apakah takdir dan jodoh itu berkaitan, karena tanpa di sadari sampai saat ini mereka tetap saling merindu dalam diam, meski ego Aditya sangat tinggi untuk mengakui jika ia memang merindukan gadis berisiknya itu.
Pagi harinya ia yang masih asik terlelap tidur mengangkat ponselnya sejak dari tadi terus bergetar.
"Hallo siapa sih nih masih pagi udah telpon." Ucap Ziana yang belum sadar dari tidurnya itu, ia masih sanggat mengantuk.
"Heh jam segini lo belum siap-siap juga, matahari udah tinggi Zi lo buruan siap-siap sana gue tunggu di rumah, nggak malu lo ama ayam tetangga!!" ternyata telpon dari Lena yang terus menyuruhnya untuk bersiap datang ke rumahnya.
"Pagi banget emang mau ngapain sih? lo mau dagang bubur apa mana berisik banget sih lo." Ziana yang masih mengerjapkan matanya sangat kesal tidur nya terganggu. Ia lupa dengan janjinya yang akan pergi ke pernikahan saudara Lena.
"Zianaaaaaa!!!!!" teriak Lena.
"Issh apa sih lo berisik banget, sakit kuping gue." Ziana langsung terbangun karena teriakan lena yang memekak kan telinganya.
"Buruan mandi gue tunggu di rumah sekarang, ini yang ngerias udah mau datang."
"Astogehhh lupa gue!!