
Pagi hari ini adalah di mulainya jadwal padat Aditya karena pembatalan beberapa pertemuan kemarin membuat semua kegiatannya menumpuk di hari ini. Tapi tak sedikitpun ia menyesali waktu istirahatnya kemarin, mengingat kegiatan panas yang ia lakukan bersama istrinya selalu menjadikan semangat baru baginya.
Saat ini Aditya tengah memimpin rapat yang berisikan beberapa pembahasan tentang peningkatan produk yang menghasilkan naiknya profit perusahaan, dan itu berarti kerja kerasnya mengembalikan performa perusahaan setelah adanya masalah yang terjadi tak sia - sia semuanya membuahkan hasil bahkan jauh lebih dari ekspektasi nya.
"Apa ada tambahan lain?" ucap nya dengan tatapan tegas seorang pemimpin perusahaan dengan menatap semua karyawan yang hadir saat ini.
Ketika tidak ada jawaban dari semuanya, Aditya pun menutup rapatnya kali ini.
"Baiklah jika tidak ada, rapat hari ini cukup sampai di sini." Ia pun beranjak berdiri dan melangkah pergi keluar dari ruang rapat.
Sesampainya di ruang kerja Aditya pun menghempaskan tubuhnya pada kursi kebesarannya itu, ia pun memijat keningnya karena lelah yang ia rasakan.
Tok...Tok..Tok
Pintu ruangannya di ketuk seseorang dari luar.
"Masuk."
"Tuan pertemuan selanjutnya dengan Tuan Smith, beliau menunggu anda untuk pembahasan kerjasama dengan perusahaan kita." Ucap sekertaris Angga membacakan jadwal Aditya selanjutnya.
"Good Tuan Smith adalah investor kelas atas yang sangat berpengaruh di dunia bisnis jika kita mampu menjalin kerja sama dengannya maka perusahaan kita akan lebih di untungkan." Ucap Aditya dengan senyum tipisnya, ia mengangguk dengan membuat gestur di dagu.
"Anda benar Tuan."
"Kalau begitu kita berangkat sekarang." Setelah menarik ujung bajunya dan melihat jam yang melingkar pada tangan kirinya yang menunjukan waktu setengah dua belas siang.
Sesampainya di depan restoran yang merupakan tempat pertemuannya dengan Tuan Smith, Aditya pun berjalan di depan sementara Angga mengekor di belakangnya.
Aditya dan juga Angga langsung menuju ke VIP room, tempat yang private dan sangat nyaman apalagi jika pertemuan antar klien seperti ini. Tuan Smith serta sekertarisnya telah lebih dulu datang, ia kini tengah duduk dan menyambut kedatangan Aditya juga Angga.
"Selamat datang Tuan Aditya, mari silahkan." ucap nya dengan menjabat tangan Aditya.
"Maaf Tuan membuat anda menunggu." ucap Aditya dan ia pun duduk berhadapan dengan Tuan Smith.
"It's oke saya juga baru datang, sebaiknya kita pesan menu sekarang ya pembahasan soal bisnis bisa kita bicarakan nanti."
"Baiklah."
Setelah memesan menu, mereka pun terlibat perbincangan ringan hanya sekedar masalah tentang hobi bahkan keluarga. Sesekali keduanya tampak tertawa ringan, hanya sebatas itu dan tak lama kemudian pesanan pun datang.
Karena hidangan telah tertata rapi di meja maka dengan segera mereka pun makan tanpa ada seorang pun yang mengeluarkan suara. Setelah mengisi perut yang tadinya kosong dan kini pembahasan bisnis kerjasama yang akan di bicarakan dengan kedua sekertaris yang sama - sama tengah menyodorkan berkas agar bisa di pelajari oleh kedua belah pihak.
"Pembangunan resort di indonesia merupakan investasi yang sangat menjanjikan, para wisatawan lebih banyak mengunjungi pantai. Dan itu merupakan aset bagi kita." ucap Aditya.
"Iya saya pun mengetahui itu, maka dari itu saya ingin bekerjasama dengan seorang pebisnis muda yang sukses seperti anda. Kabarnya setiap produk yang di hasilkan dari setiap brand perusahaan Tuan Aditya selalu mencapai target pasaran." Tuan Smith yang tengah berbicara serius dengannya memang memuji kehebatan Aditya, ia yang sudah berkepala lima saja dulu tak sampai punya prestasi sebagus Aditya.
"Anak muda yang sangat berkompeten, saya suka itu."
"Terimakasih Tuan selebihnya anda sudah membaca nya, di berkas yang sudah kami berikan."
"Ya baiklah saya setuju untuk bekerjasama dengan perusahaan anda."
"Baik, terimakasih semoga kerjasama kita bisa lancar tanpa ada hambatan apa pun."
"Ya." Tuan Smith dan juga Aditya pun dengan segera menandatangani perjanjian bisnis yang telah di buat. Selesai itu mereka pun berbincang sebentar , selang beberapa menit kemudian, Tuan Smith dan juga sekertarisnya pamit undur diri karena ia harus segera terbang kembali ke Amerika.
Aditya dan sekertaris Angga pun mengantar sampai ke depan restoran, hingga mobil yang membawa Tuan Smith pun pergi berlalu dari hadapannya.
Saat akan berjalan menuju mobilnya Aditya merasakan kepalanya terasa berputar, ia pun meringis. Tangannya memegang kepalanya dan darah segar keluar dari hidungnya.
Angga yang melihat hal itu dengan segera memapah Aditya untuk segera masuk ke dalam mobil. Ia tau jika saat ini Tuannya sedang tidak baik - baik saja.
"Tuan apa anda tidak apa - apa? kita sebaiknya ke rumah sakit."
"Jangan beri tau istriku." ucap Aditya sebelum pandangannya menjadi gelap.
"Tuan, bangun lah!" seru Angga yang kini tengah berusaha membangunkan Aditya yang tak sadarkan diri dengan darah segar yang belum juga berhenti dan mengenai kemejanya.
Dengan kecepatan penuh Angga mengemudikan mobilnya, agar Tuan Aditya bisa segera mendapatkan penanganan yang baik. Sesampainya di rumah sakit pihak dokter dan juga perawat telah bersiap karena di perjalanan tadi Angga sudah menelpon pihak rumah sakit dan mengatakan kondisi Aditya yang kini tak sadarkan diri.
Aditya di dorong menggunakan brankar untuk mendapatkan pertolongan dari tim medis, ia di bawa ke ruang Instalasi Gawat Darurat. Karena Angga tidak bisa ikut masuk maka ia pun menunggu di luar ruangan.
Saat ini adalah saat yang paling membuatnya frustasi, jika hanya keadaan trauma yang di alami Aditya itu sudah biasa dan akan bisa baik setelah beberapa saat maka tak perlu memberi tau pihak keluarga pun tak akan membuatnya di posisi yang salah. Tapi tidak kali ini, keadaan Tuan Aditya yang seperti sekarang adalah baru pertama kalinya meskipun ia tau sudah beberapa kali melihat Tuan Aditya keluar darah dari hidungnya tapi tidak sampai seperti sekarang ini, tak sadarkan diri.
"Apa yang harus aku lakukan? jika aku memberi tau Nona Ziana saat sadar nanti bisa habis lah aku. Tapi jika tidak aku takut sesuatu yang buruk terjadi pada Tuan Aditya." gumam Angga.
"Oh Tuhan apa yang harus aku putuskan." Angga terus berjalan mondar - mandir di depan ruang IGD, ia merasa semuanya kini buntu di hadapannya.
***
Prangggg
Gelas yang tengah di pegang oleh Ziana tiba - tiba pecah, ia kini berada di dalam appartemen karena tidak ada mata kuliah untuk hari ini.
"Ada apa ini, kenapa jantungku berdebar seperti ini?" Ziana nampak gelisah karena pikirannya yang tak menentu.
"Semoga tidak ada apa - apa, mungkin ini karena kecerobohan ku saja." Ziana pun menggeleng mencoba mengusir pikiran buruknya. Dan saat akan membersihkan pecahan gelas, jari tangannya tergores dan mengeluarkan darah.
"Aduh kenapa lagi ini, Ya Tuhan lindungilah semua orang yang ku sayangi semoga tidak ada hal buruk yang terjadi."