
Saat malam semakin larut kedua pengantin baru itu sudah berada di dalam kamar hotel karena acara pernikahan yang menjadikan mereka raja dan ratu satu hari itu pun telah usai. Mereka berdua kini telah duduk dalam satu ranjang yang sama setelah tadi membersihkan dirinya masing - masing. Suasana kamar hotel yang banyak di taburi kelopak mawar merah dan juga lilin aroma terapi menambah semerbak wangi kamar pengantin mereka. Suasana romantis yang tercipta membuat keduanya di liputi perasaan canggung karena ini pertama kalinya bagi mereka berdua berada di kamar apalagi setelah resmi menjadi suami istri, membuat jantung kedua nya berdegup kencang.
Ya Tuhan semoga bukan hari ini, aku sungguh belum siap untuk itu. Ah tapi siap tidak siap toh sama saja pasti aku akan merasakannya juga, demi apa pun jantung gue nggak aman banget kayak lagi di kejar kamtib. Selow Zi, lo pasti bisa kata orang kegiatan itu enak, eh..
"Kenapa melamun sweety?" tanya Aditya yang dari tadi memperhatikan istrinya itu.
"Ah tidak apa Kak." ucap Ziana tersenyum dengan posisi saling duduk berhadapan dengan Aditya.
"Apa kau gugup?" Aditya mengusap lembut rambut Ziana, ia menyelipkan helaian rambut Ziana ke belakang telinganya.
"Sedikit."
Saat ini Ziana tengah memakai baju tidur tipis yang seksi, entah siapa yang melakukannya karena koper yang ia bawa dari rumah tidak bisa ia temukan hanya ada beberapa baju tidur seksi tergantung di lemari hotel, maka dengan terpaksa ia memakainya meskipun kini ia memakai handuk kimono hotel sebagai luarannya karena ia belum berani jika harus menggunakan baju seksi tersebut meski di depan suami nya sendiri.
"Bolehkah aku meminta hak ku malam ini?" tanya Aditya dengan menatap lekat Ziana menunggu jawaban dari istrinya itu.
Ziana hanya mengangguk pelan sebagai jawabannya, ia mengigit bibir bawah nya karena rasa tegang yang kini ia rasakan.
Aditya tersenyum mendengar jawaban dari Ziana, perlahan di bukanya tali kimono tersebut dan dengan susah payah ia menelan salivanya melihat pakaian seksi yang Ziana kenakan di balik kimono tersebut. Perlahan Aditya membuka kimono Ziana hingga kini makin terlihat jelas lekukan tubuh Ziana dengan baju tipisnya, penampilan Ziana membuat kelelakian Aditya bangkit. Matanya tertuju pada bibir tipis Ziana yang merekah dan berwarna semerah cherry, bibir yang telah menjadi candu baginya selama ini.
Perlahan tubuhnya mendekat untuk menikmati bibir tipis milik istrinya itu, ia mulai menyesap dan mengulumnya lembut. Pikirannya mulai tak fokus, ia tidak bisa mengendalikan sesuatu yang menggeliat di dalam tubuhnya, sesuatu yang sering di sebut dengan gairah bercinta.
Saat itu juga Aditya menyatukan bibirnya dengan bibir Ziana, ia menggunakan tangan kirinya untuk menahan leher Ziana sementara tangan kanannya bergerak ke atas perut Ziana dan sampai lah ia pada kedua milik Ziana yang terus ia mainkan.
Ciuman mereka yang awalnya hanya sentuhan lembut berubah menjadi ciuman yang menuntut, tetapi seketika ciuman itu pun terjeda. Kedua nya terengah karena merasa kehabisan oksigen, setelah itu mereka bersitatap dengan pandangan yang saling mendamba mereka pun melanjutkan kegiatan yang akan membuat keduanya merasakan indahnya menggapai nirwana.
Di tidurkannya Ziana perlahan dan setelah itu di bukanya pakaian yang menjadi penghalang untuk melihat tubuh istrinya. Sekali lagi Aditya menelan salivanya kini ia melihat dengan jelas tubuh putih polos Ziana yang tengah berbaring menghadapnya.
"Kenapa kau menutup matamu sweety?" tanya Aditya yang kini menatap Ziana tak berkedip.
"Aku malu." Ucap Ziana yang menutup kedua miliknya yang menonjol dan area sensitifnya yang masih belum terjamah itu.
"Aku suami mu, kau tidak perlu malu."
"Buka mata mu, dengarlah pukul dada ku kalau kau merasa tidak nyaman atau kau boleh mencakar punggung ku. Ini pasti akan sakit karena ini pertama bagi mu."
"Aku takut." Ziana mengigit bibir bawahnya kini ia berani menatap Aditya.
"Jangan takut aku akan melakukan nya dengan perlahan, sakitnya hanya sebentar saja selebihnya aku tak menjamin jika kau nanti pasti akan ketagihan." Ucap Aditya dengan kedipan matanya menggoda Ziana.
"Tapi apa benar akan sakit Kak?"
Aditya tak menjawabnya hanya tersenyum dan mulai membuka pakaiannya, seketika Ziana menjerit.
"Kak apa itu akan muat?" Ia bergidik melihat milik suaminya.
"Tidak perlu tegang santai saja sweety, aku jamin sakitnya tak akan lama."
Dengan cepat ia pun mencium bibir Ziana ciuman lembut yang semakin menuntut dengan tangan Aditya yang terus bergerilya mencari kedua milik Ziana yang sangat pas di tangannya itu, setelah itu ciuman nya turun ke bawah ia terus membuat jejak kepemilikan pada tubuh Ziana.
Ia terus menyesapnya hingga tanpa sadar Ziana mengeluarkan suara yang membuat jiwa kelelakian Aditya makin menggeliat meminta untuk segera memasukinya. Karena gairahnya yang sudah sampai di ubun - ubun ia pun mulai memposisikan dirinya perlahan ia memasuki area inti Ziana yang belum pernah terjamah sedikitpun. Awalnya sangat susah sedikit demi sedikit milik Ziana yang sempit itu mulai bisa di masuki oleh milik aditya. Ziana mulai mencakar punggung Aditya karena rasa sakit di bagian intinya, dengan cepat Aditya membungkam mulut Ziana dengan ciumannya agar ia tak merasakan sakit.
Perlahan tapi pasti milik Aditya telah masuk sepenuhnya ia pun mulai bergerak pelan dan semakin lama semakin cepat, suara Ziana yang tadi begitu merintih kesakitan kini terdengar seperti menikmatinya. Setelah beberapa saat keduanya berpacu dalam waktu untuk sama - sama menggapai nirwana yang baru pertama mereka rasakan. Akhirnya Aditya pun terjatuh di atas Ziana, ia kemudian mencium kening Ziana lembut.
"Terimakasih sweety kau telah menjaga nya dengan baik selama ini untuk ku." ucap Aditya tanpa melepaskan penyatuan mereka. Ziana hanya mengangguk dan tersenyum sebagai jawaban dari perkataan suaminya itu.
"Apa kau lelah?" tanya Aditya lagi dengan tatapan mendamba.
"Memangnya kenapa?" Bukannya menjawab Ziana malah memberikannya pertanyaan.
"Aku ingin mengulanginya lagi, apa kau tak merasakannya dia sudah siuman lagi?" Aditya menaik turun kan alisnya dengan senyum yang tak pernah pudar dari bibirnya itu.
Tanpa menunggu jawaban dari Ziana, Aditya kembali melakukan kegiatan panasnya. Ia seakan lupa jika dari siang hingga malam tadi mereka berdiri menyalami ribuan tamu yang hadir di acara penikahannya.
Malam indah yang di lalui pengantin baru itu terus berlanjut hingga menjelang subuh, barulah mereka berhenti karena rasa lelah dan kantuk yang tak tertahan kan. Keduanya pun tidur dengan saling berpelukan menggapai mimpi indah di malam pertama mereka sah menjadi suami istri, agar esok hari mereka bangun dengan menyongsong hari baru menyelami bahtera rumah tangga yang tak hanya di isi oleh kebahagiaan saja tetapi ujian cinta yang sebenarnya yang akan mereka hadapi apakah mereka akan tetap bertahan dan berjuang atau akan kalah di terjang badai ombak masalah yang datang menghampiri pernikahan mereka.