
Di sebuah kamar tengah duduk termenung seorang gadis yang kini terlihat sangat bingung. Ia yang tak tau lagi harus melakukan apa, karena nya yang tetap tak ingin ingin melakukan perjodohan itu, membuat Oma yang ia sayangi harus sakit karenanya. Mencoba berdamai dengan keadaan sepertinya akan lebih mudah untuk ia lakukan agar semua masalah yang menjadi beban hidupnya kini terselesaikan, tapi hidup bersama dengan orang yang selalu membuatnya kesal apa bisa membuatnya bahagia dan bertahan dengan pernikahan itu sendiri.
Lena mulai menarik nafas panjang masalah yang ia hadapi begitu sulit lebih dari ujian kampus yang ia hadapi. Ia pun mengetik sesuatu pada benda pipih yang sejak tadi ia pegang mengirim pesan pada orang yang kini tengah menjadi akar permasalahan bagi dirinya.
Orang Utan<<
Baiklah besok jam makan siang kita bertemu di cafe biasa.
Begitulah bunyi balasan pesan yang ia terima dari Bara, dokter yang menurut dirinya sombong dan selalu membuatnya kesal, entah apa jadinya jika mereka hidup bersama nantinya. Saat tengah bingung dari radio yang kini tengah ia dengar mengalunkan lagu yang sangat pas dengan keadaannya saat ini.
Ku turuti ku mati emak
Tak dituruti ku mati bapak
Begitulah nasib cintaku
Bagaikan buah simalakama
Yang kini sedang menimpa menimpa pada ku
Ayah Ibuku punya kemauan
Ku dijodohkan tanpa perundingan
Orangnya ganteng katanya katanya dia gagah punya badan
Anak saudagar intan berlian aku bingung memikirkannya
Terus terang ku katakan ku sudah punya gandengan
Ingin rasanya aku lari bersama kekasihku
Tapi ku takut ini pasti tak kan di restui
Aku bingung harus bagaimana
Aku bingung harus bagaimana
Lagu simalakama*.
"Kampret itu lagu nyindir gue banget sih, cuma bedanya gue belom punya gandengan." ucapnya yang terlihat sangat kesal dengan lagu yang tengah di dengar saat itu.
"Aku harus bagaimana? ini sangat membuatku frustasi, biasanya kalau lagi pusing gini pasti curhat sama Zi. Tapi sekarang gue harus telan sendiri." Ia pun mengacak rambutnya sendiri karena tak tau harus bagaimana lagi, setelah lelah dengan pikirannya sendiri akhirnya ia pun tertidur.
***
Pagi ini Ziana dan Aditya pulang ke rumah orang tua Ziana, ini pertama kalinya mereka menginjakkan kakinya di rumah sebagai suami istri. Saat ini di rumah hanya ada Ayah dan Ibu karena Zian tengah sekolah.
"Akhirnya anak dan menantu ku datang juga, syukurlah jika kalian baik - baik saja." ucap Bu Rina menyambut kedatangan mereka.
"Ah tidak nak, mari duduk dulu." Bu Rina mencoba membuka pembicaraan lagi.
"Zi ambilkan minum untuk suami mu." ujar Pak Risman.
"Iya Pak." Ziana pun beranjak menuju dapur untuk mulai membuat minuman, tak lama ia kembali dengan 4 gelas minuman yang ada di nampan nya. Setelah meletakkannya di meja ia pun duduk kembali.
"Begini Bapak dan Ibu, aku mau meminta ijin untuk membawa Ziana tinggal di apppartement ku." ucap Aditya dengan wajahnya yang serius.
"Silahkan Nak sekarang Zi adalah tanggung jawab mu, maka kau boleh membawa nya dimana pun kau tinggal." sahut Pak Risman dengan senyum di wajahnya walau terlihat ada gurat kesedihan di sana. Mungkin karena ia terlalu berat melepaskan anak gadisnya yang selama ini menjadi tanggung jawabnya dan kini akan pergi meninggalkannya.
"Zi ayo Ibu bantu membereskan barang mu, pasti akan banyak barang yang kamu bawa dan itu akan sangat melelahkan jika di kerjakan sendirian." Bu Rina beranjak berdiri dan menarik tangan Ziana untuk menuju ke kamarnya.
Sebenarnya bukan hanya ingin membantu Ziana mengepak barang, Bu Rina juga ingin berbicara empat mata dengan putrinya itu. Baginya Ziana bukan hanya putri nya saja karena ia juga seperti temannya berdebat dalam segala hal. Ia pasti akan sangat kehilangan putrinya.
"Zi saat jauh dari Ibu nanti jadilah istri yang menurut pada suami, jangan main seenaknya saja kamu sekarang harus selalu meminta izin pada suami mu." ucap Bu rina dengan melipat baju Ziana dan memasukannya ke dalam koper.
"Iya Bu, jangan selalu berteriak Bu saat aku tak ada kasian si Predi nanti dia jantungan mendengar suara indahnya Ibu." mereka berpelukan dan saling terisak menangis.
Sementara itu di ruang keluarga Bapak yang kini tengah duduk bersama Aditya juga memberikan petuah pada menantunya.
"Nak tolong jaga Ziana, jika ia melakukan kesalahan maka bimbinglah ia dengan baik." ucap Pak Risman dengan menepuk pelan tangan Aditya.
"Tentu Pak." Aditya mengangguk mendengar perkataan dari Bapak mertuanya.
"Dan satu lagi jika kau sudah tak ada kecocokan lagi dengan putri ku, maka kembalikan lah ia pada Bapak. Jangan menyakitinya jika memang kau sudah tidak ada rasa pada putriku nantinya." terlihat Bapak bergetar saat mengucapkannya menahan air matanya agar tak menetes.
"Demi Tuhan Pak hanya ada Ziana di hati dan hidupku, dia akan menjadi satu - satunya wanita yang akan menjadi pendamping hidupku. Aku tak akan pernah berpisah dengannya sampai kapan pun." Ucap Aditya menepuk pelan punggung tangan Pak Risman yang bergetar.
"Jika Bapak dan Ibu rindu pada Ziana, kalian boleh mengunjunginya kapan pun. Pintu rumah kami akan selalu terbuka untuk Bapak, Ibu juga Zian."
"Nak Bapak tak punya apa - apa yang Bapak hanya punya putra putri Bapak sebagai harta yang paling berharga. Maka jagalah putri Bapak mungkin ia akan sangat merepotkanmu tolong bersabarlah dengan sikapnya yang mungkin nantinya akan membuatmu pusing. Bimbinglah ia selalu."
"Pasti Pak tenang saja aku bukan merebut putri Bapak, tapi aku hanya ikut menjaga juga mencintai putri Bapak. Maaf jika aku orang baru yang telah membuat Ziana meninggalkan rumah ini, tapi percayalah Pak aku sangat mencintai nya dan aku pasti akan menjaga nya dengan sepenuh hati ku."
"Terimakasih Nak, Bapak percayakan Ziana padamu."
"Iya Pak, aku pasti akan menepati janjiku." Aditya tersenyum mengangguk.
Suasana haru yang kini terjadi di rumah Ziana membuat siapa pun yang tengah melihatnya pasti akan ikut meneteskan air mata. Kepergian putri yang di cintai sepenuh hati yang di jaga sedari kandungan sampai ia besar dan di persunting oleh pria baru dalam hidupnya membuat hati orang tua mana pun seakan tak rela untuk berpisah.
Ziana yang tengah berpelukan dengan Ibunya dengan isak tangis itu perlahan mereda.
"Bu jangan terlalu keras pada Zian, dan jika Ibu perlu sesuatu maka bicara lah padaku. Ingat Bu suami ku itu kaya aku pasti bisa membantu apa pun." ucap Ziana dengan menepuk dadanya tersenyum jumawa.
"Kau itu, punya suami kaya malah kau yang pamer." Bu Rina pun menepuk kening Ziana.