In Memories

In Memories
part 132



Setelah jam pulang kantor Ziana dan juga Aditya bersiap untuk segera pulang, kini keduanya tengah berada di dalam lift khusus petinggi perusahaan dan posisi mereka mereka hanya berdua.


"Minggu ini kita akan liburan ke bali, bagaimana?"tanya Aditya memandang wajah istrinya yang berada di sampingnya.


"Bali, tentu aku mau." Jawab Ziana dengan bergelayut manja pada suaminya.


"Tapi sebaiknya kita pergi ke rumah sakit sekarang ya."


"Memangnya ada keluhan lain apa suamiku? apanya yang sakit? kenapa kau diam saja dari tadi?" Ziana yang sangat khawatir pada Aditya memberondongnya dengan pertanyaan.


"Tidak ada, hanya ada keperluan lain." Aditya menggenggam tangan Ziana erat dengan senyuman yang membuatnya terlihat begitu tampan, saat pintu lift telah terbuka mereka pun melangkah menuju ke ke depan lobby karena mobil telah terparkir manis di depan pintu masuk lobby perusahaan.


"Terus untuk apa kita ke rumah sakit?" Ziana yang kini tengah fokus melajukan mobil bertanya untuk yang ke dua kalinya karena ia begitu penasaran.


"Dengarkan aku, mungkin ini akan membuatmu tidak nyaman tapi aku sangat ingin memeriksakan kondisi kesuburanku sebelum kita pergi ke Bali."


Mendengar ucapan dari suaminya dengan tanpa sadar Ziana menginjak rem secara mendadak, ia tak menyangka jika suaminya begitu menginginkan keturunan. Karena sadar kini ia tengah di jalanan yang ramai maka Ziana pun kembali melajukan mobilnya.


"Bagaimana jika aku yang tidak sehat? dan bagaimana jika aku yang tak bisa memberimu keturunan?" Ucap Ziana dengan berusaha menelan salivanya.


"Maka itu tidak masalah untukku, memilikimu saja sudah cukup untukku."


"Jika dengan memili aku, kau merasa cukup lantas untuk apa kau bersikeras untuk program kehamilan?"


"Lihat aku, bukan program kehamilan yang akan kita lakukan, aku hanya ingin semuanya jelas agar kau tak lagi merasa ketakutan setiap harinya memikirkan hal yang belum tentu."


"Baiklah jika memang begitu."


"Dan jika memang aku yang tak bisa memberikanmu keturunan, maka aku akan.."Aditya tak sempat melanjutkan perkataannya karena Ziana dengan cepat menutup mulutnya.


"Apapun hasilnya nanti aku tak peduli, kita akan terus bersama jika hanya soal anak itu tak masalah, kita bisa adopsi misalnya."


"Aku pun menginginkan hal yang sama sweetty." Aditya menggegam sebelah tangan Ziana dan mengecupnya lembut.


Setelah beberapa menit berjibaku dengan begitu banyaknya kendaraan di jalan, akhirnya mereka pun tiba di rumah sakit. Sudah ada dokter Bara yang sepertinya menyambut kedatangan mereka.


"Hallo pengantin basi, lama tak bertemu ya?" Bara menyalami Ziana dan Aditya begitu mereka menghampirinya.


"Cih jika bukan kau sahabatku, sudah habis kau."Ucap Aditya dingin.


"Ah jangan begitu, biar bagaimana pun aku ini sahabatmu yang paling kau sayangi." Bara berusaha menggapai pundak Aditya namun dengan gesit ia malah memeluk istrinya yang dari tadi diam dan memperhatikan keduanya.


"Kalian itu kalau bertemu tak sadar umur." Ziana menggelengkan kepalanya lalu ia pun mulai melangkah untuk menuju ruangan obgyn agar tak terlalu lama berada di situasi rumit antara si dingin dan si hangat.


"Katanya mau ke dokter kandungan kan?" jawab Ziana polos.


"Memangnya kau tau? Arahnya sebelah sini." Aditya menarik tangan Ziana dan menuntunnya untuk mengikuti kemana langkah kaki Aditya berjalan.


"Oh salah ya." Ziana hanya tersenyum dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Kalian ini sweet sekali ya." Bara berkomentar melihat adegan salah arah di di depannya itu.


"Mari ikuti aku saja, aku pun tak yakin suamimu akan menuntunmu ke jalan yang benar. Aku bisa pastikan jika kalian tengah berdua, dia selalu menyesatkanmu di dalam kamar." Bara melangkah dengan cepat di depan karena jika masih berdampingan dengan mereka, karena ia khawatir akan tangan Aditya yang pasti akan melayang dengan mulus ke salah satu bagian tubuhnya. Dan lagi dan lagi Ziana hanya tersenyum melihat kelakuan tunangan sahabatnya yang baik dan hangat itu.


Setidaknya aku tenang melihat calon suami sahabatku begitu baik, Bara pasti akan menjagamu dengan segenap hatinya Lena. Ah aku sangat bahagia ternyata doamu terkabul kau memiliki calon yang tak jauh berbeda dengan suamiku.


Mereka pun melangkah menuju lantai tiga, di mana ruangan dokter Tami yang merupakan dokter obgyn wanita sesuai dengan keinginan Aditya yang ingin agar Ziana di periksa oleh dokter wanita, ia tak bisa membayangkan jika istrinya di periksa oleh dokter laki - laki. Kecemburuannya yang selalu menjadikannya sebagai pria posesif di tambah lagi sekarang ia merasa jika dirinya adalah seorang pesakitan, dan itu membuatnya tak percaya diri sehingga selalu cemburu jika melihat istrinya dengan pria lain.


Saat tiba di ruangan dokter Ziana dan Aditya duduk di depan meja dokter Tami.


"Selamat sore Tuan dan Nona, perkenalkan saya dokter Tami yang akan membantu untuk pemeriksaan dan programnya jika memang ingin di lanjutkan." Dokter yang masih cantik di usianya yang telah masuk kepala empat.


"Iya dokter selamat sore juga." Ziana yang menjawab salam perkenalan dari dokter Tami.


"Mari sebaiknya kita langsung saja ya Nona, silahkan anda berbaring di sana dengan membuka sedikit baju anda ke atas." Ucap dokter Tami, dan setelah itupun Ziana melangkah ia pun berbaring untuk di periksa. Tetapi saat tangannya ingin menyingkap bajunya, Aditya pun setengah berteriak.


"Tunggu, kenapa kau masih di sini? Apa kau ingin melihat tubuh istriku?" Aditya menyipitkan matanya melihat ke arah Bara yang masih setia berdiri menemani.


"Dikit doang lagian itu paling cuma perut." Bara selalu bisa menggoda sahabatnya yang selalu kaku dan serius itu.


"Satu inci saja kau melihatnya, habislah kau." ucap Aditya dingin.


"Baiklah aku menyerah jika kau sudah menggunakan mode dingin seperti ini. Dokter Tami hati - hati jangan sampai salah diagnosa, kalau tidak ingin." Bara menggunakan gerakan tangan menebas leher menakuti dokter Tami yang sepertinya kini tengah serius menanggapi ucapan Bara.


Ziana yang melihatnya hanya menghela nafas panjang, dan kembali arah pandangnya melihat dokter Tami seolah susah hanya untuk menelan salivanya.


"Jangan dengarkan ucapannya dok, rileks saja." Biasanya dokter yang akan berkata seperti itu, tapi ini pasien yang menenangkan dokternya.


"Baiklah kita mulai ya." Dokter Tami mulai memeriksa rahim Ziana dengan alat usg. Sementara itu Aditya tampak berkerut tak mengerti dengan tampilan layar yang ada di hadapannya.


Setelah selesai dokter pun duduk di mejanya kembali, Ziana yang telah selesai di bantu perawat yang ada. Ia dan Aditya kembali duduk untuk mendengarkan hasil pemeriksaan.


"Untuk rahim Nona tidak ada masalah semuanya bagus jadi jangan khawatir Nona sehat dan bisa mengandung."


"Dan ini hasil lab pemeriksaan dari Tuan Aditya." dokter Tami membuka amplop hasil lab yang tadi ia terima dari dokter Bara, ia pun mulai membaca hasil yang tertera pada kertas lab.