In Memories

In Memories
part 137



Pagi ini Aditya di jadwalkan akan mulai kemoterapi, kesehatannya sudah mulai stabil. Saat ini dokter Fiko sudah memulai tindakan medis untuk kemoterapi Aditya, meskipun hanya di dampingi oleh Ziana tapi itu merupakan support terbesar baginya.


Mom Irene masih di rawat dan selalu di dampingi oleh Dad Gamma sehingga sampai sekarang belum menemui Aditya, Dad Gamma takut jika nanti ia akan di tanyai oleh Aditya soal Mom nya yang tak ikut menjenguk.


"Kau harus kuat ya suamiku, ada aku di sini." ucap Ziana menenangkan.


"Tentu." Aditya menjawab dengan senyum yang tak pernah lepas dari bibirnya, selama di rumah sakit kalaupun ia merasakan sakit tak pernah sekalipun ia perlihatkan sakitnya pada Ziana. Sebisa mungkin ia menahannya agar istrinya tak mengkhawatirkannya.


Setelah proses kemoterapi selesai Aditya merasa begitu lelah bahkan tanpa ia sadari dirinya tertidur. Ziana hanya tersenyum melihat Aditya yang kini lelap tertidur.


Tok..Tok..Tok


Pintu di ketuk seseorang dari luar.


"Masuk." seru Ziana.


"Bagaimana kondisinya sekarang?" tanya Bara begitu masuk ke dalam ruangan.


"Sudah lebih baik, Kak Ditya tertidur mungkin ia terlalu lelah."


"Kau sebaiknya pulang lebih dulu, dari kemarin kau belum istirahat dengan benar. Biar sekarang aku yang menjaganya, nanti sore kau bisa kemari lagi." ucap Bara yang kini berdiri di samping Aditya.


"Tapi aku takut Kak Ditya mencariku."


"Jika ia mencarimu nanti akan ku hubungi ponselmu, percayalah padaku kau membutuhkan kesehatan yang baik agar bisa merawat Ditya. Jika kau seperti ini terus kau bisa sakit, dan itu pasti akan menjadi beban tersendiri untuk Ditya."


"Baiklah aku percaya padamu Kak, tapi mohon jangan tinggalkan suamiku lagi ya."


"Tentu nanti jika dia mengusirku lagi, aku tak akan pergi satu inci pun dari ruangan ini, bagaimana?"


"Kalau begitu aku pergi sekarang ya, hubungi aku jika ada apa - apa." Ucap Ziana sebelum melangkah pergi keluar, sejak kemarin memang Ziana belum pulang ia mendapatkan baju ganti pun di bawakan oleh Lena dengan menggunakan baju miliknya.


Setelah beberapa jam kemudian Aditya terbangun, matanya mengerjap dan melihat jika di sekelilingnya kini tak ada Ziana. Hanya ada Bara yang tertidur pulas di sofa, mendengar ada pergerakan dari bed tempat Aditya berbaring Bara pun terbangun.


"Kau sudah bangun? apa yang kau butuhkan?"tanya Bara dengan wajah yang masih sedikit bingung karena baru terbangun dari tidurnya.


"Aku haus." dengan segera Bara pun mengambil air minum yang ada di nakas, dan memberikannya pada Aditya.


"Kemana istriku?" Aditya memberikan gelasnya kembali pada Bara setelah ia minum.


"Aku suruh pulang lebih dulu, biar dia istirahat sebentar."


"Apa yang ingin kau bicarakan denganku?" tanya Aditya dengan duduk bersandar agar membuatnya lebih nyaman. Karena ia tau jika ini hanya siasat Bara untuk bisa berbicara dengannya agar lebih leluasa.


"Aku punya kenalan di swiss, di sana peralatannya lebih lengkap. Kau harus mencobanya ini demi kebaikanmu dan Ziana."


"Pengobatan mana pun tak akan membuatku sembuh, untuk apa aku pergi jauh dari sini."jawab Aditya dingin.


"Kau jangan putus asa seperti itu Ditya, setidaknya berjuanglah sampai akhir. Jangan memikirkan dirimu sendiri pikirkanlah istrimu yang pasti akan sangat terpukul jika kau tak ingin berjuang. Dan sebaiknya kau jujur padanya jangan ada yang kau tutupi lagi, dia istrimu dia berhak tau itu."


"Aku tau itu, tapi aku tak ingin dia terus bersedih menangisiku bahkan sebelum aku pergi. Aku ingin dia selalu bahagia jika bersamaku."


"Baiklah aku akan pergi ke swiss tapi dengan satu syarat kau harus membantuku." Aditya memberikan syarat untuk bernegosiasi dengan Bara.


"Apa?"


"Aku sudah menyuruh tim Eagle menyelidiki keberadaan seseorang dan kini ia berada di swiss."


"Siapa?" Bara mengerutkan keningnya tak mengerti.


"Evan Marcello, cinta pertama istriku." Bohong rasanya jika ia tak cemburu mengucapkan hal yang tak ingin ia ungkapkan, hatinya bagai remuk dadanya bergemuruh bahkan kini tubuhnya bergetar menahan perasaannya sendiri.


"Apa maksudmu? jangan gila Ditya."


"Hanya dia yang aku percaya untuk menjaga istriku setelah aku tiada. Cintanya pada istriku begitu besar hingga ia rela mempertaruhkan nyawanya sendiri untuk istriku." Tangannya terkepal kuat untuk menahan kesedihan yang ia rasakan, membayangkan akan ada pria lain yang akan menjaga istrinya.


"Jangan berpikir terlalu jauh, aku yakin kau pasti sembuh."


"Kau mau membantuku atau aku tak akan pergi."


"Baiklah aku akan membantumu, tapi aku tak janji dengan hasilnya. Hanya Ziana yang dapat menentukan semuanya."


"Kau memang sahabatku." Aditya tersenyum walau dalam hatinya ia merasakan sakit yang begitu menyiksa psikisnya jika mengingat Ziana.


Akan ku titipkan kau padanya, laki - laki yang akan menjagamu dengan sepenuh hati. Dia pria baik aku akui itu hanya saja aku terlalu takut kau memilihnya, mungkin ini cara Tuhan menyatukan lagi kalian, dengan kepergianku nanti. Sungguh aku akan pergi dengan tenang karena nanti sudah ada tempatmu untuk bersandar.


"Kau boleh sakit tapi kenapa jalan pikiranmu ikut sakit?" tanya Bara yang masih tak paham dengan keinginan sahabatnya.


"Bantu aku, anggap saja ini adalah permintaan terakhirku."


"Aku yakin Ziana pasti akan sangat terluka dengan keputusanmu ini."


"Aku melakukan semua ini untuknya, hidupku hanya tinggal hitungan bulan dan aku ingin memberikan kenangan indah untuknya. Pergi ke swiss tidaklah buruk selain aku dan istriku bisa sekalian berlibur, aku juga bisa mempertemukan mereka kembali." Ucapnya dengan tenang, ia selalu pandai menyembunyikan perasaannya.


"Aku sudah tak tau lagi cara membujukmu Ditya, terserah padamu akan ku ikuti apapun maumu." Bara hanya menggelengkan kepalanya, ia tau Aditya adalah laki - laki dengan pendirian kuat, sekali ia telah memutuskan sesuatu dan meyakininya maka tak akan ada siapa pun yang bisa mengubahnya.


"Kapan keberangkatanku?"


"Mungkin minggu depan akan ku urus semuanya. Bagaimana dengan Mom dan Dan?"


"Aku yakin mereka sudah mengetahuinya, Kau adalah manusia yang tak pernah bisa menjaga rahasia jika sudah berkaitan dengan Mom dan Dad." ucap Aditya menatap Bara dengan menyipitkan matanya.


"Mana ada seperti itu." Bara beusaha untuk mengelak tuduhan Aditya.


"Kau pikir kita kenal baru kemarin, bahkan aku hapal semua sifat burukmu."


"Ah sudahlah mengelak pun percuma saja."


"Bagaimana keadaan mereka sekarang?" Aditya sangat khawatir dengan kondisi kedua orang tuanya, ini pasti akan menjadi pukulan terberat bagi mereka. Karena hanya dirinya putra satu - satunya yang mereka punya.


"Kurang begitu baik, Mom sangat shock mendengarnya. Aku melarangnya untuk menemuimu, agar semuanya berjalan seperti biasanya. Tapi ternyata kau sudah mengetahuinya jika aku tak menjaga rahasia ini pada Mom dan Dad."