
Ziana yang baru sampai di depan rumahnya ia lalu berlari dengan langkah yang ringan karena membawa kabar baik untuk ia sampaikan.
"Ibu dimana?" teriak Ziana.
"Apa sih kamu baru pulang langsung teriak aja." sahut Bu Rina yang sedang memilah pakaian dari dalam toko.
"Bu aku di terima." Ziana berkata dengan setengah berteriak karena ia senang akhirnya bisa mendapat pekerjaan untuk mengurangi beban orang tuanya.
"Ibu sudah tau kamu pasti di terima yang membuat Ibu penasaran berapa gaji seorang model?" tanya Bu Rina dengan wajahnya yang begitu antusias untuk mendengarkan jawaban.
Ziana memutar bola matanya jengah, ia lupa mempunyai Ibu di atas rata-rata Ibu yang lainnya.
"8 digit." jawab Ziana dengan berlalu dari hadapan Ibunya.
"Apa sebanyak itu Zi?" Bu Rina mengikuti arah langkah Ziana, seperti anak yang sedang merajuk minta di belikan permen.
"Iya Bu." Ziana yang sedang mengambil air minum di dapur menatap Ibu nya yang sedang berbinar mendengar nilai uang yang akan di dapat oleh putrinya itu.
"Syukurlah Zi rezeki mu bagus, Ibu senang." Ibu mengusap sudut matanya yang berair.
"Iya Bu semua berkat doa Ibu dan Bapak." Ziana memeluk Bu Rina erat.
"Nggak sia-sia Ibu melahirkan mu Zi ternyata kamu tumbuh menjadi gadis yang cantik, sekarang bahkan menjadi model dan punya pacar pemilik perusahaan. Kamu membuat keluarga kita makin terpandang nantinya." Dengan mata berbinar Bu Rina yang kini tengah melamunkan apa yang ada di dalam pikirannya dengan senyum yang terus mengembang dari bibirnya.
Salahkan gue pikir Ibu sudah berubah jadi normal sepeti Ibu yang lain ternyata malah meningkat ke level akut parah. Ya ampun ini emak gue kenapa beda dari yang lain sih limited edition banget, hufttt.
"Zi ke kamar dulu ya Bu capek pengen tidur dulu."
"Eh makan dulu kamu."
"Nanti aja Bu tadi udah ngemil di kampus." Ziana berlalu meninggalkan Ibu nya, ia ingin merebahkan dirinya karena lelah tetapi ia teringat akan pesan Aditya untuk mengabarinya.
Ziana mengambil ponselnya dari dalam tas kemudian ia mengetik pesan.
Patung es<<
Aku baru sampai rumah, mau tidur dulu ya capek.
Kak Ditya jangan lupa makanš¤
Aditya yang baru selesai rapat dan sedang berbincang dengan klien nya menyadari ada pesan masuk, ia langsung mengambil benda pipih itu di dalam saku celananya.
Ia tersenyum melihat pesan yang di kirim dari kekasihnya itu dan segera mengetik balasannya.
Gadis berisik <<
Aku sudah makan, tidur lah.
Ziana yang sedang memegang ponselnya juga tersenyum melihat balasan pesan dari Aditya.
"Sekali nya dingin ya tetap dingin, cuma ya lumayan sih udah ada peningkatan nambah beberapa kata." Ziana tersenyum dan mulai memejamkan matanya untuk mengistrirahatkan tubuhnya.
***
"Gue harus nelpon itu dokter sombong." gumam Lena yang masih berada di rumah sakit menunggui Oma Rita yang tertidur lelap mungkin karena capek mengomel pada cucu nya. Dari semenjak Lena datang Oma tak henti berbicara ia mengeluarkan semua isi hatinya hanya karena kesal pada nya setelah itu beliau mulai terlelap tidur.
"Untung Oma gue kalau nggak udah gue tinggal dari tadi, heran udah tua juga ngomong nya masih lancar aja kayak jalan tol."
"Duh lapar lagi gue, kantin dulu aja deh." Lena pun berdiri untuk pergi ke kantin rumah sakit.
Begitu sampai di kantin Lena pun langsung memesan makanan. Ia membawa nampan yang berisi makanan kemudian mengedarkan pandangan nya mencari tempat kosong untuk ia duduk.
Saat tengah berjalan menuju meja kosong kaki nya terantuk meja karena ia berjalan dengan tak memperhatikan langkahnya sehingga membuat keseimbangan badannya pun limbung.
Byurrr...
Makanan yang ada di nampan pun tumpah menimpa seseorang yang sedang menikmati makanannya.
"Mampus gue," gumam Lena.
"Maaf." dengan segera Lena mengambil tisu yang ada di meja dan mengelap baju pria yang masih menunduk karena makanan yang ia tumpahkan mengenai baju nya.
"Kamu!" ucap mereka berbarengan saat wajah mereka saling beradu pandang.
"Apa hidup kamu harus selalu menyusahkan orang?" ucap Bara dengan wajah yang memerah menahan kekesalannya.
"Apa maksud kamu?" Lena berkacak pinggang tak terima dengan ucapan dari dokter yang tadi membuat mobilnya harus masuk bengkel.
"Pikir sendiri." Bara yang mulai tak dapat mengontrol emosi nya memilih untuk pergi dari kantin.
"Hey tunggu kamu harus bertanggung jawab, jangan bisanya terus menghindar." Ucapan nya yang ambigu membuat sebagian pengunjung kantin yang baru datang mulai berbisik tak jelas.
Bara yang baru selangkah meninggalkan Lena dengan cepat ia berbalik dan menarik tangannya untuk meninggalkan kantin. Ia tak mau kesalah pahaman yang ada akan berbuntut pada kariernya di rumah sakit.
"Lepasin kamu mau bawa aku kemana hah?" Lena yang terus berusaha melepaskan tangan nya untuk bisa melarikan diri.
Setelah berada cukup jauh dari kantin, Bara melepaskan tangan Lena. Ia terus menatap Lena dengan tajam, sementara Lena pun melakukan hal yang sama.
Udah kepalang basah nyemplung aja sekalian lah, biar tau rasa ini dokter sombong. Gue nggak akan kalah sekalipun lo pelototin gue sampai mata lo keluar.
"Apa?" ucap Lena dengan dagu terangkat karena tinggi badan Bara yang jauh di atas Lena membuatnya harus mendongak untuk melihatnya.
"Mulut mu apa tidak bisa di kondisikan?" Bara menekankan setiap kalimatnya dengan rahang yang mengeras.
"Aku berbicara sesuai fakta ya."
"Fakta yang mana, ucapan mu tadi akan membuat orang berpikir lain. Ingat aku seorang dokter di sini, Kalau sampai ini berbuntut panjang pada pekerjaan ku di sini. Kau yang harus bertanggung jawab. Ingat itu!" tangan Bara menunjuk wajah Lena yang tak menampakan raut wajah menyesal sedikit pun.
"Baiklah apa kau mengancam ku?" Lena balik menantang Bara yang mulai mengerutkan keningnya tak mengerti dengan arah pembicaraan Lena.
Lena mulai berjalan mendekati Bara dan kini keadaan menjadi terbalik, kali ini Bara lah yang terpojok.
"Apa yang kau lakukan?"
"Mari kita buat seperti apa yang orang pikirkan tadi Pak dokter yang terhormat." Lena terus saja mendekat mendekati Bara yang semakin terpojok pada dinding.
Saat tubuh Lena hanya berjarak beberapa inci saja, mereka pun saling menatap lekat.
"Apa kau sudah siap Pak dokter?" Lena memegang pundak Bara yang sedang diam mencerna keadaan sekitar.
"Kau gadis gila!" Bara mengangkat tangannya menyentuh kening Lena kemudian ia menoyor kepalanya.
"Kenapa kau takut?" Lena yang sudah tak kuat untuk tertawa, seketika tawanya pecah melihat Bara.
"Sudah lah hidupmu itu terlalu kaku dan serius Pak dokter." Lena beranjak pergi meninggalkan Bara yang diam mematung karena kelakuan Lena.
"Apa dia mengerjaiku? Awas kau bocah!"