In Memories

In Memories
part 15



Pagi hari di sebuah rumah sederhana keluarga Pak Risman terdengar keributan dari dua Z bersaudara.


"Bu kaos kaki aku dimana ko cuma sebelah ini??" teriak Zian.


"Cari yang bener Zian, kebiasaan kamu tiap pulang sekolah selalu lempar kaos kaki sembarangan!!" jawab Bu Rina yang tengah membereskan meja makan setelah tadi mereka sarapan bersama.


"Nyangkut kali tuh di hidung lo." Ziana ikut menimpali.


"Bantuin gue kenapa sih pusing ini kita ntar bisa telat!!" Zian terus mencari kesana kemari kaos kaki nya.


"Yang ini Zian?" Ziana mengangkat kaos kakinya yang ada di kolong meja di atas pelet ikan.


"Akhirnya ketemu juga." Zian langsung mengambil kaos kakinya dan segera memakainya.


"Kasian tuh ikan dia makannya pake rasa baru dari kaos kaki lo!!! ishhh jorok banget sih lo. Lain kali masukin sepatunya dodol jadi nggak mencar sembarangan." Ziana mengomel dengan berkacak pinggang, kesal sekali ingin rasanya ia menyumpal mulut adik nya dengan kaos kakinya sendiri.


"Udah lah bawel buruan kita berangkat udah telat ini." Zian mengeluarkan motornya untuk bisa segera pergi ke sekolahnya, karena hari ini pelajaran pertamanya adalah bagian Pak Slamet yang tidak akan membiarkan muridnya selamat jika ada yang terlambat.


Ziana pun mengikutinya dengan setengah berlari menuju motornya, sebelum mereka pergi tak lupa mengucap salam pada bu rina.


"Bu kita pamit..assalamualaikum." Ucap mereka serempak seraya melajukan motornya.


"Waalakuikumsalam." Ibu menjawab salam mereka dengan gelengan kepala merasa heran dengan kelakuan kedua anaknya yang sudah beranjak dewasa tapi tetap selalu berdebat walau hal sepele sekalipun.


Jalanan pagi hari sudah di pastikan ramai dengan banyak nya orang yang akan berangkat beraktifitas, dengan kecepatan penuh Zian terus melajukan motornya agar bisa tepat waktu sampai di sekolahnya karena ia harus mengantarkan dulu Kakak nya ke kampus.


Setelah berjibaku dengan kendaraan yang lainnya akhirnya mereka pun sampai di kampus Ziana.


"Udah lo turun buruan sekolah gue bentar lagi mau di tutup ini." Zian menengok ke belakang dan mengambil helm dari kepala Ziana dengan tidak sabar.


"Gerbang kali ah yang di tutup, sekolah yang tutup lo mau belajar dimana? ngemper lo!!" sungut Ziana kesal.


"Bodo ah!! udah gue berangkat dulu."


Zian pun melajukan motornya dengan kecepatan penuh.


Tinnnnnnnnnnnn


Ziana yang hendak berbalik dan melangkah di kejutkan dengan suara klakson mobil yang begitu memekakkan telinga di depan nya. Tadinya ia ingin mengumpat tapi begitu melihat orang yang keluar dari mobil adalah Aditya ia pun mengurungkan niatnya.


Degggggg


Ya Tuhan jantung gue lama - lama bisa copot ini, selalu begini tiap ketemu si patung es!! tampan tiada cela, ah mau yang ini aja kalau ntar jadi pendamping hidup gue. Betah gue di rumah pasti.


Aditya keluar dari mobil seperti adegan slow motion. Ia turun dengan setelah jas tiga potong nya yang mahal serta kaca mata hitam nya yang bertengger di hidungnya yang mancung, membuat ketampanan di wajahnya jadi berkali lipat. Ia berjalan menghampiri Ziana.


"Nanti siang jam 2 saya jemput kamu di sini." Ucap nya dengan tanpa ekspresi.


"Eh jam 11 aku udah pulang kalau nunggu di sini 3 jam lagi dong, nggak deh ntar aku lumutan." jawab Ziana.


Ia menyadari saat ini banyak pasang mata yang memperhatikan dirinya, ini pasti karena Aditya.


"Baiklah jam 12 saya jemput, tidak ada penolakan."


Aditya membalik kan badannya lalu berjalan menuju mobilnya. Setelah itu ia pergi meninggalkan kampus dan Ziana di pinggir jalan.


"Udah gitu aja? kok ada ya manusia macam dia. Ralat ya allah jangan jadikan dia jodohku lah ntar kalu kita lagi berantem pasti dia turunin gue di pinggir jalan gini." gerutu Ziana.


"Mending gue ngampus lah masuk kelas."


Dengan berjalan menuju ke gerbang kampus sesekali ia menyapa temannya.


"Bareng aja yuk." Ucap Dion tersenyum.


"Lo kemana aja perasaan baru liat lo masuk lagi deh."


"Kenapa lo pasti kangen banget ya sama gue?" Dion menaik turunkan alisnya dengan senyum yang terus mengembang dari bibirnya.


Si Dion kalau di liat-liat ganteng juga sih tapi nggak pernah bikin jantung gue berdebar ya, padahal dia baik, lucu perhatian lagi. Kalah jauh sama si patung es.


"Idih nggak ya mana ada."


"Iya kecewa gue,di sini rasanya tuh, ah menyakitkan." Dion menyentuh jantungnya seolah benar - benar kecewa.


"Drama lo." Ziana memukul pelan lengan Dion.


" Udah yuk ah ke buru datang dosen nya tuh."


"Ok deh cantik."


Mereka pun mempercepat langkah nya menuju kelas.


***


"Tunggu Pak Sapto!!" Pak Sapto adalah satpam sekolah yang hendak menutup gerbang sekolah.


"Kamu lagi si biang telat." Pak Sapto yang sudah hapal dengan Zian segera membuka lebar gerbang sekolah itu agar dirinya bisa masuk sekolah.


"Makasi Pak Sapto the best pokonya Pak." Zian berkata dengan cepat melajukan motornya dan menuju parkiran untuk memarkirkan motornya setelah itu ia pun berlari secepat mungkin agar tak terlambat.


"Semoga Pak Slamet belom datang, males banget gue telat tugas pasti menumpuk." bisa di bayangkan jika setiap guru seperti pa slamet habis lah si Zian pasti pusing banget karena hampir setiap jam mata pelajaran pagi ia selalu terlambat.


"Syukurlah ia datang tepat waktu karena di lihat dari kaca jendela kelas anak-anak masih ramai dengan kegiatan nya masing- masing.


Brakkkkk....


Seketika kelas hening karena suara gebrakan pintu di banting. Dan langsung riuh kembali saat menyadari jika yang datang hanya Zian seorang. Dengan langkah santai dan wajah tanpa dosa, ia melenggang ke tempat duduk nya.


"Huuuuuuu....." serempak seluruh siswa yang ada di kelas.


"Monyong lo Zian bikin jantung gue copot aja!" Dimas mulai kesal karena kelakuan temannya itu.


"Kenapa lo hidup lo kayak nya berat baget ya, gitu aja lo sewot." cibir Zian duduk di bangku nya dengan menyimpan tas nya di meja.


"Kita lagi nobar gila, kalau ketauan Pak Slamet nggak bakal selamat kita." lanjutnya dengan mengambil kembali hp yang ia letak kan di meja tadi.


"Udah lah main lagi yuk." sahut Darma.


"Ikutan dong gue." Zian pun mulai sibuk mengotak-ngatik ponselnya.


Saat tengah asik bermain, Pak Slamet datang dengan menenteng buku yang ada di tangannya dan memberikan salam.


"Selamat pagi anak- anak." ucap Pak Slamet dengan berdiri di muka kelas.


"Pagi Pak." jawab semua siswa serempak.


"Baiklah buka buku paket halaman 112 dan hapalkan dalam waktu 20 menit, setelah itu akan bapa tes satu per satu." Pak Slamet mulai memberikan perintah, ia pun berjalan ke meja guru dan meletak kan buku nya kemudian duduk.


Kelas yang hening pun berubah seperti segerombolan lebah yang berdengung. Mereka mengumpat tetapi mulai menghapal dari pada terkena hukuman.