In Memories

In Memories
part 44



"Tidak apa kita coba dulu." Aditya mencoba untuk bertahan mengikuti gaya hidup Ziana, ia ingin tau juga seperti apa kehidupan lain dari kebiasaan hidupnya.


"Apa Kakak yakin?" tanya Ziana dengan raut wajah yang mengerut mencoba menelisik apa yang di rasakan Aditya.


"Hmm.." Aditya mengangguk untuk meyakinkan Ziana.


"Baiklah, apa Kak Ditya biasa makan daging kambing? soalnya di sini menu favorit nya itu tapi ada juga sih daging sapi, terserah kakak mau yang mana?"


"Terserah aku ikut saja."


"Baiklah tunggu aku pesan kan dulu." Ziana berlalu pergi menuju meja kasir untuk pemesanan lebih cepat karena pelayan sepertinya sedang sibuk melayani pembeli yang lain.


Ia pun kembali menuju tempat duduknya lagi.


"Apa kamu biasa ke sini?" tanya Aditya


"Nggak begitu sering juga hanya ketika ingin saja."


"Dengan siapa?"


"Kalau nggak Zian sama Lena."jawab Ziana tersenyum simpul.


Tak lama berselang pesanan pun datang, meja mereka kini penuh dengan berbagai macam aneka daging yang menggugah selera.Dari mulai sate sapi, gulai kambing, tongseng, dan dua es jeruk yang membuat Ziana tak henti menatap pesanan yang sudah tersaji di meja.


Melihat Ziana seperti itu membuat Aditya tersenyum, ia senang jika keputusannya tadi untuk tetap di sini itu benar. Ia melihat mata Ziana yang berbinar dengan hanya melihat hal yang baginya tak terlalu penting itu membuat rasa hangat di dalam hatinya.


Kau memang berbeda dari wanita lain, selalu apa adanya dan matamu selalu berbinar walau hanya melihat hal yang sederhana.


"Ayo Kak di makan, aku yakin pasti Kak Ditya tak akan menyesal."


"Baiklah." Aditya mulai memakan sedikit makanan yang tersaji di hadapannya, satu suap pertama Ziana mencoba melihat ekspresi di wajah Aditya. Ia takut jika tak sesuai dengan lidah kekasihnya itu tapi ternyata di suapan ke dua dan seterusnya ia terlihat lahap dan menikmatinya.


Mereka pun makan dalam diam dengan saling tersenyum dan memandang satu sama lainnya.


Setelah makan dan membayar semua nya ke kasir, mereka pergi meninggalkan tempat itu.


"Kita kemana lagi Kak?"


"Kita ke danau." Jawab Aditya dengan tetap fokus menyetir.


Selang 20 menit dengan perjalan yang lambat karena merasa ini adalah moment pertama bagi mereka menjadi sepasang kekasih, Aditya seolah tak ingin waktu cepat berlalu ia seperti remaja yang baru mengenal cinta.


"Apa Kak Ditya selalu ke sini?" tanya Ziana dengan berjalan setelah turun dari mobil menuju bangku yang ada di dekat danau tersebut.


"Hmm jika hatiku sedang kacau aku pasti ke sini." Aditya pun ikut duduk di samping Ziana.


"Apa sekarang hati Kakak juga sedang kacau?" Ziana menoleh menatap mata Aditya.


"Ya hatiku kacau karena mu." Aditya balas menatap Ziana.


Ziana tersenyun mendapat jawaban yang Aditya berikan membuat hatinya yang sedang tak tenang karena gugup menjadi semakin gaduh saking senangnya.


"Kenapa kau menyukai ku?" tanya Aditya


"Cinta tak butuh alasan Kak, aku hanya mengikuti kata hatiku karena hatiku yang memilihmu, entah kenapa setiap aku bertemu dengan mu hati selalu bergetar seakan ingin selalu ada di samping mu." ungkapan Ziana akan isi hati nya yang selama ini terpendam.


"Maaf telah menyakitimu." Aditya membawa Ziana ke dalam pelukannya.


Ah nyamannya kini aku punya bahu untuk bersandar, bahu yang membuatku nyaman dari laki-laki yang aku cintai. Tuhan jika memang dia jodohku maka terus dekatkan lah kami tapi jika dia bukan jodoh ku maka aku akan terus berdoa agar kami tetap berjodoh. Tolong di catat ya Tuhan doa anak soleha yang baik ini jangan sampai terlewat.


"Tidak apa pasti Kak Ditya merasa aneh ada wanita yang mengungkapkan perasaan nya kepada seorang laki-laki, itu memang masih tabu di negara kita tapi entah kenapa aku hanya mengikuti kata hatiku." Ziana mengeratkan pelukannya.


"Tidak bukan seperti itu, aku hanya terlambat menyadari semuanya, tolong jangan buatku kecewa." Aditya menunduk menatap Ziana yang ada di dalam pelukannya.


"Tidak akan." jawab Ziana dengan mendongak menatap wajah Aditya, kini wajah mereka berdua hanya berjarak beberapa inci dan aditya terus mendorong wajahnya untuk merasakan bibir manis yang selalu menggodanya setiap ia mengingat Ziana.


Bibir mereka saling bertemu, mereka berciuman dengan sangat lembut dengan merasakan cinta yang tengah mengalir di dalam hati mereka yang begitu hangat.


Angin di danau berhembus semakin membuat cuaca di sekitar menjadi semakin dingin, mereka yang tengah di mabuk asmara pun menyudahi ciuman mereka.


"Kita masuk ke dalam mobil udara semakin dingin." Aditya berdiri dan menggenggam tangan Ziana untuk segera memasuki mobil.


"Emmh Kak."


"Hmmm." Aditya menoleh untuk mendengar apalagi yang akan Ziana bicarakan.


"Aku ingin ke toilet, dingin." Ziana tersenyum canggung.


"Baiklah kita pergi dari sini, di depan sana ada pom bensin jika kamu mau atau mau langsung di rumah?"


"Di pom bensin saja." Jawab Ziana dengan cepat.


Begitu sampai di pom terdekat ia langsung membuka pintu dan berlari menuju toilet umum, Aditya hanya menggeleng melihat kelakuannya.


Ziana kembali tak berapa lama setelah itu, ia duduk dengan tersenyum merasa tak enak di kencan pertamanya harus ada adegan seperti ini. Ia pun mengangguk dan aditya kembali melajukan mobilnya.


"Kita pulang saja ini sudah malam." Ujar Aditya tangan kirinyanya mencoba menggenggam tangan Ziana erat seperti tak mau jauh dari jangkauannya.


Ah ini patung es sweet banget sih nggak nyangka gue, bikin meleleh.


Tak terasa mobil telah sampai di depan rumah Ziana, karena rasa nyaman dari kedua nya. Padahal mobil mereka sangat pelan sekali karena Aditya yang merasa tak ingin waktu cepat berlalu untuk berpisah dengan Ziana.


"Kak Ditya mau turun dulu?" tanya Ziana sebelum ia turun dari mobil.


"Sudah malam sampai kan salam ku untuk kedua orang tua mu."


"Baiklah, hati-hati di jalan." Ziana pun turun dan ia menunggu di depan kaca mobil melihat Aditya yang tersenyum dan mengangguk lalu mobil pun melaju meninggalkan rumah Ziana.


Begitu ia masuk ke dalam rumah, ia di kagetkan dengan semua anggota keluarganya yang tengah mengintipnya di balik jendela.


"Ishh apaan sih?" Ziana memberengut kesal melihat kelakuan keluarga nya.


"Apa hubungan mu sekarang sudah naik level?" Bu Rina menghampiri Ziana dengan rasa penasaran yang sedari tadi ia tahan.


"Rahasia." Jawab Ziana dengan berlalu pergi menuju kamarnya.


"Hey Ibu belum selesai kamu dari kemarin terus saja bilang rahasia, sekarang jawab yang benar." Bu Rina mencubit gemas lengan putrinya.


"Yaelah tinggal jawab aja bener apa nggak susah amat banyak drama lo." Zian yang sudah pusing melihat Ibu nya yang mengomel karena penasaran.