
Percakapan antara Aditya dan Bara pun berakhir dengan datangnya Mom Irene dan juga Dad Gamma yang datang menemui Aditya. Meski pun belum benar - benar pulih tetapi Mom Irene tetap memaksa ingin menemui putranya, dengan terpaksa Dad Gamma menuruti keinginannya.
Begitu pintu di buka dengan segera Mom Irene berhambur memeluk Aditya, pesan yang tadi Dad Gamma ucapkan padanya agar tak memperlihatkan kesedihan di depan Aditya ternyata tak bisa di realisasikan oleh Mom Irene, perasaan seorang ibu yang melihat anaknya tengah menghadapi kematian tak bisa membuat dirinya baik - baik saja.
"Sayangku, anak Mom yang tampan apa sekarang yang kau rasakan, hmm? kita harus cepat berangkat ke swiss lebih cepat lebih baik agar kau cepat bisa sembuh." Ucap Mom Irene dengan menggebu setelah mereka mengurai pelukannya.
"Tenang Mom jangan terlalu panik, aku tidak apa - apa aku masih tampan sepertu katamu." Aditya tersenyum menatap kedua orang tuanya.
"Kenapa kau tak jujur pada kami, apa kami adalah orang tua yang buruk sehingga kau tak mau terbuka ada kami masalah seserius ini?" Lanjut Mom Irene yang masih dengan isak tangisnya.
"Bukan begitu Mom, hanya saja aku takut jika nantinya Mom dan juga Dad tau itu hanya akan membuat kalian bersedih. Aku tak mau itu, tolong berilah senyuman kalian padaku setiap harinya, aku ingin selalu bahagia bersama dengan orang - orang yang aku sayangi."
"Tapi bukan dengan menutupinya juga Ditya, meskipun kini kau sudah menikah tapi kau tetaplah anak kecil bagi kami, kau tetap junior kami." Dad Gamma ikut menimpali.
"Bolehkah aku meminta seuatu Mom? Tolong berikan kepercayaan pada Ziana untuk mengelola perusahaan nantinya, sekarang dia sudah jauh lebih pintar. Aku sering mengajarinya setiap hari, ternyata aku berbakat juga menjadi guru." Terdengar tawa kecil Aditya yang terdengar getir.
Semua hanya duduk mendengarkan ucapan Aditya, tak ada yang berani bicara hanya ada anggukan kepala dari kedua orang tuanya untuk mengiyakan permintaan putra kesayangan mereka.
"Jangan terus meminta sesuatu seakan kau tidak mempunyai waktu lagi Ditya, Mom yakin kau bisa sembuh, dengan jalan operasi sumsung tulang belakang nantinya. Ada kami di sini sayang kau tak sendirian."
"Ya kami sudah membicarakannya dengan pihak rumah sakit di swiss, jalan operasi bisa menyembuhkanmu Ditya. Kami akan memberikan transplantasi sumsung tulang belakang untukmu."
"Terima kasih kalian merupakan penyemangku." ucap Aditya.
"Ya sebaiknya kau jangan terlalu banyak pikiran dan stress itu bisa membuat sel kanker lebih aktif dalam tubuhmu. Yang harus kau ingat, kami semua ada di sini bersama denganmu." ujar Bara dengan memegang pundak Aditya.
Dengan anggukan kepalanya Aditya kemudian tersenyum melihat betapa orang - orang yang ia sayangi tengah berkumpul memberikan support yang begitu besar. Ada rasa hanngat yang ia rasakan di hatinya, begitu besar kasih sayang tulus yang ia dapatkan.
"Kau telpon istriku, agar ia cepat kembali." Ucap Aditya menatap Bara yang kini ada di sampingnya.
"Kau ini, bucinmu sudah mengakar kuat. Padahal baru beberapa jam saja di tinggal pergi olehnya." sungut Bara dengan tetap merogoh ponselnya untuk mengabarinya Ziana agar kembali ke rumah sakit.
"Apa kau pikir aku tak tau kelakuanmu, kau sama saja sepertiku."Cibir Aditya yang mengetahui jika Bara kini tengah di mabuk cinta bahkan lebih parah darinya.
"Kalian ini suasana lagu bersedih seperti ini, masih saja berdebat. Dari dulu begini, yang Mom heran kenapa kalian masih bisa bersahabat sampai sekarang?" Mom Irene hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan ke dua anaknya itu.
"Aku yang selalu mengalah untuknya Mom, jadi persahabatan kita awet sampai sekarang." Ucap Bara jumawa.
"Cih.." Aditya hanya mendecih kesal.
"Kapan kau mulai berangkat sayang?" tanya Mom Irene yang kini duduk di atas bed dengan tangan yang menepuk - nepuk kaki Aditya, Mom Irene ingin membuang rasa gelisahnya dengan menyentuh Aditya.
"Mungkin minggu depan Mom, aku akan mengurus semuanya." jawab Bara.
"Baiklah Mom percaya padamu."
"Apa kau akan ikut?" Tanya Dad Gamma.
"Aku akan menyusul dan mengambil cuti dulu Dad."
"Apa ini? aku akan pergi berobat bukan berlibur, kenapa semua harus ikut pergi?"
"Dan kau?" tanya Aditya pada Bara.
"Aku? tentu aku sangat di butuhkan Tuan Ditya, kau lupa aku ini seorang dokter jadi Mom dan Dad setidaknya tidak akan pusing jika nanti ada tindakan dokter yang akan di jalani."
"Terserah padamu."
Tak selang berapa lama pintu di ketuk, dan muncullah orang yang begitu Aditya rindukan. Dengan melangkah menghampiri kedua mertuanya Ziana mencium tangan Mom Irene dan juga Dad Gamma.
"Bagaimana kabarmu sayang? jangan terlalu lelah ya sayang, ada perawat kan jadi biarkan sesekali mereka menggantikanmu." ucap Mom Irene.
"Aku baik Mom, tak apa Mom aku bisa merawat suamiku."
"Kau tak salah memilih pendamping hidup, Ditya."
"Tentu Mom."
Aditya menyuruh Ziana mendekat dan duduk di sampingnya dengan manjanya ia menyandarkan kepalanya di pundak istrinya, membuat semua yang ada di dalam ruangan pun menggelengkan kepalanya. Aditya yang dingin dan tak tersentuh, kini sepert anak kecil yang selalu minta perhatian.
"Sebaiknya aku permisi, tiba - tiba aku ingin menemui tunanganku." ucap Bara.
"Pergilah." jawab Aditya tanpa bergerak dari posisinya.
"Karena kini ada istrimu, Mom dan Dad juga pulang dulu ya." Mom Irene juga Dad Gamma pun pamit untuk pulang.
"Baiklah." hanya Aditya yang menjawabnya karena kini Ziana sedang berusaha menahan rasa malunya akibat kelakuan suaminya.
Kini tinggal mereka berdua yang ada di dalam ruangan.
"Berbaringlah di sampingku, ini sudah malam."
"Iya baiklah." Ziana pun mengikuti perintah Aditya, ia membaringkan tubuhnya untuk menggapai mimpi bersama di satu bed rumah sakit. Tidur di atas bed rumah sakit yang tak pernah ada dalam list impiannya sama sekali.
"Persiapkan dirimu sweety, minggu depan kita akan berangkat ke swiss." ucap Aditya dengan mengelus lembut puncak kepala Ziana karena kini tangan kirinya menjadi bantal untuk Ziana.
"Ke swiss?" Ziana yang belum tau akan rencana keberangkatan mereka ke swiss mengerutkan keningnya tak mengerti.
"Ya aku akan melakukan pengobatan di sana."
"Syukurlah akhirnya kau mau berjuang lagi, kau harus kuat aku akan selalu ada bersamamu."
"Dan ada sesuatu yang ingin aku berikan untukmu di sana."
"Apa?" Ziana menatap wajah Aditya, dan kini Aditya pun menoleh untuk melihat wajah cantik istrinya yang tengah bingung karena ucapannya.
"Surprise." ucap Aditya dengan senyum simpulnya.
"Ish kau ini jika ingin memberikan surprise untukku jangan bilang dari jauh - jauh hari, kau tau aku adalah orang yang tak tahan dengan rasa penasaran." Ziana pun mengerucutkan bibirnya kesal.
"Maafkan aku, tapi sungguh aku tak bisa memberi taumu untuk saat ini."