In Memories

In Memories
part 49



Sore hari yang gerimis membuat siapa pun betah berada di dalam rumah untuk sekedar bermalas - malasan menikmati hangat nya udara dalam rumah. Begitu pun saat ini yang tengah Ziana lakukan ia masih betah berada dalam selimutnya seolah lupa jika ia sudah lama tertidur.


Tok..Tok..Tok


"Zi bangun sudah sore, tidur apa pingsan kamu?" Ibu menggedor pintu kamar dengan teriakan nya yang khas.


"Iya Bu, Zi bangun." Ziana bangun melangkah kakinya membuka pintu kamarnya.


"Anak gadis jam segini masih tidur. Nanti ada yang mau ambil laudry, kamu jaga sebentar ya Ibu mau jenguk teman Ibu ke rumah sakit."


"Emang Zian kemana Bu?" Ziana yang masih mengantuk menyandarkan bahu nya ke pintu kamar dengan mata yang masih setengah terpejam.


"Zian masih latihan katanya besok mau tampil jadi pulang telat dia."


"Udah ah Ibu mau berangkat ini, Bapak udah nunggu di luar. Hati - hati kamu di rumah." Ibu pun berjalan keluar untuk segera berangkat bersama bapak.


"Iya Bu." Mau tak mau Ziana berjalan menuju ke toko kecil milik Ibunya itu.


"Hujan ya di luar pantes dingin, ah gue jadi lapar," gumam Ziana.


Saat ia akan melangkah ke dapur tak lama ada suara deru motor berhenti.


"Permisi Mba benar di sini dengan rumah Ziana?" tanya seorang pria yang baru turun sepertinya pengantar paket makanan.


"Iya benar." Ucapa Ziana.


"Ini ada paket makanan dengan nama pengirim Aditya." Ucapnya lagi dengan memberikan satu box besar makanan.


"Ah iya terimakasih Pak." Jawab Ziana menerima paket tersebut.


"Kalau begitu saya permisi."


"Iya Pak."


"Ini orang ngirim paket makanan buat gue tapi isinya bisa di makan buat 2 keluarga. Ah ternyata si tampan ku pengertian sekali tau banget gue lagi lapar." gumam Ziana.


"Eh tapi tunggu kok bisa tau ya kalau gue lapar? mending gue telpon aja deh." Ziana pun mencoba menghubungi Aditya.


Tut...Tuuut


"Hallo." Suara bariton yang sangat merdu bagi Ziana menyapa gendang telinganya.


"Hallo Kak Ditya apa benar Kakak mengirimkan paket makanan untuk ku?" tanya Ziana


"Apa kau suka?" Aditya balik bertanya pada Ziana.


"Jadi benar dari Kak Ditya, aku suka terimakasih ya Kak tau saja kalau aku lapar. Sekarang Kakak dimana?"


"Di cafe, sedang berbincang dengan teman ku." Jawab nya.


"Tapi apa ini tidak terlalu banyak Kak?"


"Makanlah itu tak seberapa."


"Baiklah aku pasti akan memakan nya, ya sudah kasian teman Kakak. Aku tutup ya."


"Hmmm baiklah." Panggilan pun terputus.


Dengan mata yang berbinar ia sangat antusias melihat banyaknya makanan di hadapan nya, Ia memakan nya dengan sangat lahap di tambah udara dingin yang membuat perutnya terasa lapar.


***


"Oh Tuhan baru kali ini aku bertemu dengan bocah yang sangat menyebalkan sepertinya." Bara memaki Lena sesaat setelah tubuh Lena menghilang dari hadapan nya.


Setelah itu ia pun pergi meninggalkan rumah sakit dengan memacu mobilnya yang sedikit penyok akibat benturan tadi dengan mobil yang di kendarai Lena.


Mobil pun sampai di parkiran cafe tempat ia janjian bertemu dengan Aditya. Ia melangkah memasuki cafe dan ternyata Aditya tengah menunggunya di sudut cafe.


"Ada apa dengan wajah mu?" tanya Aditya yang melihat wajah sahabatnya itu yang tampak kusut.


"Hari ini aku sedang tertimpa sial." Jawab Bara dengan wajah yang di tekuk kemudian ia duduk dan menyimpan kunci mobilnya di atas meja.


"Biasa nya kau selalu santai menghadapi setiap masalah tapi kenapa kali ini berbeda?" Aditya mengerutkan keningnya dengan kedua tangan yang terlipat di depan dadanya.


Bara pun mulai menceritakan semua kejadian yang menimpa dirinya dari mulai kejadian mobil sampai dengan di kantin dan saat keluar dari kantin.


Aditya tertawa mendengar penuturan Bara, ia merasa nasibnya tak jauh berbeda dengan dirinya.


"Kau itu jarang tertawa sekalinya kau tertawa di atas penderitaan ku. Cih.." Ucap Bara kesal.


"Rasakan apa yang yang dulu aku rasakan." Aditya pun meminum coffe latte nya karena merasa tenggorokannya sangat kering.


Bara yang pun meminum coffe latte yang telah di pesan Aditya sebelum dirinya sampai di cafe.


"Tunggu aku seperti dejavu mendengar ceritamu, gadis yang kau temui sifatnya sama seperti kekasih ku." Aditya tersenyum saat ia mengatakannya seolah Ziana ada di hadapan nya.


"What?? Kau sudah punya kekasih? apa gadis itu?"


Bara tampak tak percaya dengan apa yang ia dengar sekarang, sahabatnya yang dingin itu sudah menemukan tambatan hati nya.


"Hmm.."Aditya pun mengangguk dan tersenyum tipis.


"Ah syukurlah setelah sekian lama akhirnya kau menemukan juga jalan pulang." Bara menghembuskan nafasnya pelan.


"Maksud mu?"


"Ah sudah lah yang penting kau bahagia sekarang aku ikut bahagia semoga sampai jenjang yang lebih serius ya bro." Bara pun tersenyum, ia seolah lupa dengan kekesalan nya pada Lena.


Baginya kebahagiaan yang terpancar dari raut wajah Aditya sudah cukup menenangkan baginya. Persahabatan mereka yang sudah terjalin lama membuatnya merasakan arti lebih dari seorang sahabat.


"Ternyata kau lebih dulu yang mendapatkan kekasih, semoga secepatnya aku pun menyusul." Ucap Bara tersenyum simpul.


"Berusaha lah mungkin dengan gadis itu."


"Walaupun di dunia hanya tinggal dia, aku lebih memilih menjadi jomblo abadi." Bara bergidik ia membayangkan Lena yang membuat mood nya berantakan hari ini.


"Hati - hati dengan ucapan mu, lihat apa yang terjadi padaku." Aditya mengangkat kedua bahu nya dan membuka kedua tangannya.


"Apa menyenangkan? sangat mengerikan melihat mu terus tersenyum seperti orang gila." Ucap Bara dengan menyeruput minuman nya kembali.


"Kau akan merasakannya jika bertemu dengan orang yang tepat." Aditya tersenyum tipis bila mengingat kembali kejadian manis yang ia alami dengan Ziana.


Drrrrrtt..drrrrt


Ponsel Aditya berbunyi dan ia melihat panggilan dari Ziana orang yang kini selalu memenuhi ruang hati dan pikirannya.


Ia pun mengangkatnya, mereka berbincang mengenai makanan yang ia kirim pada Ziana saat perjamuan makan dengan klien nya tadi, Ia memesan satu box besar makanan jepang untuk kekasihnya itu.


"Kau seperti orang yang kurang waras Ditya aku mulai takut pada mu." Ucap Bara setelah panggilan telpon berakhir.


"Kau belum merasakannya, kasihan." Aditya meledek sahabatnya dengan mencebik kan bibirnya.


"Kau sudah jadi budak cinta Ditya, aku tak percaya ini." Bara terus menggelengkan kepala nya melihat kelakuan Aditya yang jauh dari kata normal seperti biasanya.


Hujan gerimis yang belum juga reda membuat cuaca menjadi dingin dan awan pun menjadi gelap tapi tidak dengan hati orang yang sedang jatuh cinta. Sekalipun hujan badai di depan mata, hati mereka akan tetap cerah dan hangat karena cinta yang sedang tumbuh.