
Malam harinya di ruang rawat Ziana tengah kedatangan tamu yang membuat setiap sudut ruangan seakan menjadi pembatas dinding agar suara cempreng gadis yang merupakan sahabat Ziana tidak sampai keluar dan mengganggu pasien lain, ia datang berkunjung setelah tau dari tunangannya jika Ziana masuk rumah sakit karena menjadi korban tabrak lari.
"Zi kok bisa kejadian kaya gini sih?" ucap nya dengan menyimpan keranjang buah pada nakas di samping ranjang tidur Ziana.
"Lagi apes aja kali gue." dengan senyum yang mengembang Ziana berusaha terlihat baik - baik saja.
"Lain kali jangan nyebrang sendirian lagi ya, mobil aja kalau mogok di gandeng masa lo yang udah punya laki sendiri aja sih."
"Diam jangan jadi kompor di rumah tangga orang lain sekalipun itu sahabat mu sendiri." bisik Bara yang sedari tadi diam berada tepat di samping Lena.
"Ciee yang udah makin mesra sekarang udah main bisik - bisik manja, udah kecium bau - bau cinta nih." Ziana mencoba mencairkan suasana agar suaminya tak merasa bersalah.
"Apaan bisik manja dia cuma lagi bilangin kalau gue nggak usah jadi kompor buat kalian, kalau aja waktu lo nelpon gue ngajak jalan dan gue nggak lagi anter Oma, semua nggak bakal kejadian." Lirihnya dengan mata berkaca - kaca.
"Udah ah apaan sih lo nyalahin diri sendiri, namanya musibah kita nggak ada yang tau." ucap Ziana mengusap lembut tangan Lena yang kini tengah duduk di sampingnya.
Sementara Bara hanya menepuk keningnya tak mengerti dengan jalan pikiran gadis aneh yang kini berstatus tunangannya, cara pikirnya yang selalu tidak bisa di tebak hanya membuatnya menggelengkan kepala.
"Kata dokter kau hanya luka luar kan? jika ada keluhan lebih lanjut setelah ini kau bisa menghubungi ku. Ajaklah suami mu jika ingin menemui ku, kau lihat tanduk bantengnya sudah keluar saat aku mengatakan hal ini." Bara tersenyum melihat ekspresi wajah Aditya.
"Baik aku pasti akan menghubungi mu jika ada yang tak beres nantinya, tapi semoga saja tidak terjadi apa - apa."
"Iya aku juga berharap begitu." Bara pun duduk di samping Aditya yang kini tengah duduk di sofa.
"Apa orang sama?" tanya Bara.
"Hmm, sudah ku bereskan."
Aditya juga Bara terlihat makin terlibat dengan perbincangan serius tentang apa yang menimpa Ziana, karena ruangan VVIP sangat lah besar dan jarak ranjang dengan sofa yang agak sedikit jauh, jadi bisa di pastikan jika Ziana juga Lena tak mengetahui apa yang mereka bicarakan, di tambah lagi dengan mereka tak menceritakan nya secada gamblang, terkesan seperti obrolan pria pada umumnya.
Di sisi lain Ziana juga Lena yang kini tengah berbincang dengan Lena yang tengah mengupas buah apel untuk Ziana.
"Apa keluarga lo udah tau Zi?"
"Belum gue nggak mau bikin mereka khawatir, jadi ntar aja lah nunggu gue sedikit lebih baik."
"Iya juga sih tapi jangan terlalu lama juga Zi kasian kalau mereka tau dari orang lain."
"Mungkin besok kali ya gue bilang."
"Eh gimana kondisi Evan?" tanya Lena dengan pelan dan melihat ke arah dimana ke dua pria itu sepertinya tidak menyadari dengan topik pembicaraan dirinya dan Ziana.
"Katanya sih nggak ada luka serius hanya bagian tangan dan kakinya harus di jahit, gue juga belum liat Len. Pengen liat tapi gue juga mikirin laki gue gimana."
"Iya juga sih, eh tapi bilang aja lo mau bilang makasih secara nih ya kalau nggak ada si Evan lo udah lewat, ih amit - amit deh." Lena begidik ngeri membayangkan sahabatnya yang menjadi teman dalam segala hal pergi meninggalkannya lebih dulu.
"Eh tapi bener juga omongan lo." ucap Ziana seperti mendapatkan secercah harapan bagi dirinya.
"Yang mana dulu yang lo udah lewat gitu?"
"Itu mah lo nyumpahin gue, monyong lo." Ziana mendorong pelan tangan Lena.
"Udah makan aja nih udah gue kupasin semuanya." Lena pun menyodorkan piring yang berisi apel yang telah ia kupas.
"Ah makasih baiknya lo kalau gue lagi sakit doang gitu, tega lo."
"Kita pamit pulang dulu ya, semoga lekas sembuh." Bara menghampiri kedua wanita yang kini baru selesai melahap apel.
"Tunggu, kita? kapan aku bilang nya?" Tanya Lena yang tak mengerti dengan maksud dari kode mata yang Bara tujukan untuknya.
"Ziana harus lebih banyak istirahat jika kau masih tetap di sini maka masa penyembuhannya pun akan semakin lama, jadi sebaiknya kita pulang sekarang." Bara pun menarik paksa Lena dengan senyuman canggungnya pada Ziana.
"Eh tapi tunggu dulu, Zi besok gue ke sini lagi ya daahh." tangannya masi tetap di tarik oleh Bara untuk keluar dari ruang rawat Ziana.
Setelah kepergian dua orang tamu yang membuat suasana di dalam ruangan kembali hening, Aditya pun menatap lembut manik mata Ziana.
"Beristirahatlah sweety." ucap Aditya denngan menyelimuti tubuh Ziana.
"Baiklah kau juga istirahat yah, pasti lelah kan."
"Sebentar lagi, sekarang tidurlah."
Ziana pun kemudian tertidur dengan lelapnya, sementara itu Aditya kembali duduk di sofa dan membuka laptopnya untuk memeriksa beberapa berkas yang harus ia tanda tangani. Berkas yang di kirim oleh Angga selama ia tak bekerja.
***
"Zian apa Kakak mu ada menghubungi?" tanya Bu Rina ketika mereka tengah menonton tv bersama.
"Nggak ada Bu." jawab Zian dengan terus mengunyah keripik yang ada di dalam toples.
"Kok perasaan Ibu nggak enak ya Pak?"
"Di telpon saja Bu kalau memang Ibu khawatir." Ujar Pak Risman.
"Hey Zian sini mana ponsel mu, Ibu mau nelpon Kakak mu."
"Jangan bilang kalau pulsa Ibu habis lagi dan lupa ngisi ya." ucap Zian menyipitkan matanya.
"Enak aja Ibu nggak semiskin itu ya, batrai nya low. Cepat mana." Ucap Bu Rina.
Dengan segera Zian pun menelpon Ziana tapi sampai beberapa kali panggilan pun selalu jawaban operator yang ia dapat.
"Nggak aktif Bu, udah tidur kali. Atau mungkin nggak mau di ganggu lagi private maen kuda lumping." ucap Zian.
"Dasar anak nakal bicara mu itu di jaga Zian." Ibu mengambil keripik dan memasukannya ke mulut Zian.
"Sekarang coba telpon Kakak Ipar mu, ini pasti ada yang tidak beres."
Dengan mulut penuh keripik Zian pun mengunyahnya dan mencoba menghubungi Aditya. Setelah nada panggilan ke tiga baru lah panggilan tersambung.
"Hallo, ada apa Zian?" tanya Aditya begitu ia mengangkat ponselnya.
"Hallo Kak maaf ganggu malam - malam gini, ini Ibu mau bicara." Zian pun menyerahkan ponselnya kepada Bu Rina.
"Hallo nak gimana kabar kalian?"
"Maaf aku belum mengabari pada Ibu dan Bapak sebenarnya Ziana di rumah sakit kemarin kecelakaan Bu."
"Ya Allah gusti nu Agung." teriak Bu Rina dengan histeris.