
Saat Ziana membuka pintunya ia menatap tak percaya dengan siapa yang sedang berdiri di hadapannya, lelaki tampan dengan pakaian casualnya membuat ia tampak lebih muda dari usia yang sebenarnya.
Ia hanya diam dengan wajah datarnya menatap Ziana dan sekilas pandangan matanya mengarah pada ruang tamu yang sekaligus ruang tv keluarga dimana di sana semua anggota keluarga tengah berkumpul. Dan ternyata Bapak, Ibu dan Zian semua menatap dengan tatapan yang sama tak percaya dengan mulut mereka yang kompak terbuka seperti mulut ikan.
"Kak Ditya." Ziana memecah keheningan dengan suaranya yang sedikit bergetar ia tak menyangka seorang aditya datang ke rumahnya, ini kali kedua ia menginjakan kaki di rumahnya tapi dengan status yang berbeda.
"Ehm, apa aku harus menunggu di luar?" tanyanya dengan datar.
Kenapa aku harus segugup ini padahal hanya menghadapi keluarga kekasihku sendiri tapi rasanya lebih baik aku menghadapi klien ku atau musuh ku sekalian, aku tak pernah segugup ini.
"Masuk Kak." Ziana melangkah menuju tempat dimana semuanya tengah berkumpul dengan terus mengedipkan matanya memberi kode kepada siapa pun yang mengerti untuk tak berbicara atau bertingkah yang aneh.
Aditya yang mengikuti langkah Ziana dari belakang tampak berjalan seperti biasa.
"Duduk Kak." Ziana mempersilahkan Aditya duduk di kursi yang masih kosong berhadapan dengan Bapak dan Ibu yang masih dengan mode wajah seperti tadi, mereka masih belum bisa berpikir jernih.
"Ehm." Aditya mencoba mengusir gugupnya dan menyadarkan keluarga Ziana dari keterkejutannya dengan kedatangan dirinya.
"Ah iya Ibu ingat Nak Aditya kan ya yang beberapa waktu lalu menjemput Zi ke sini?" tanya Bu Rina yang mulai bisa menguasai kondisi agar tak terlalu canggung.
"Benar." Aditya mengangguk dan tersenyum tipis.
Apa gue nggak salah liat ya ampun Kak Ditya bisa ramah juga, gue kira akan sama seperti biasanya. Ah syukurlah gue lega ternyata masih bisa normal kalau di depan keluarga gue.
"Sebentar aku ambilkan minum dulu." ucap Ziana hendak pamit ke dapur membawa air minum.
"Tidak perlu, saya datang ke sini untuk meminta ijin mengajak Ziana keluar." Ucap Aditya langsung menatap orang tua Ziana sedang Zian yang dari tadi menyimak seperti ia sedang mengagumi sosok Aditya.
Satu kata keren banget nih cowok, gagah dan berkharisma yang pasti kaya juga. Ntar kalau gue udah dewasa gue mau seperti dia, auranya terpancar banget bikin orang jadi segan. Liat aja tuh Bapak sama Ibu aja langsung kicep, apalagi Ibu yang kalau ngomong seperti petasan injek nggak ada rem nya. Sekarang semua diam hanya karena manusia satu ini.
"Oh iya silahkan asal jangan pulang terlalu malam." Jawab Pak Risman.
"Kalau begitu aku ganti baju dulu, tunggu sebentar ya kak." Ziana berlalu pergi menuju kamarnya berganti pakaian yang bisa menyeimbangkan penampilan Aditya agar ia tak merasa timpang berjalan dengannya. Dan pilihannya jatuh pada kaos warna putih yang senada dengan hoodie yang di pakai Aditya, celana jeans dan tas selempang untuk menunjang penampilanya ia membawa jaket yang ia sampirkan di lengan nya, dan tak lupa polesan make up tipis agar wajahnya tampak segar.
Mereka yang sedang berada di ruang tamu selama menunggu Ziana keluar hanya bisa diam bingung untuk memulai percakapan dari mana. Bapak dan Ibu yang biasanya tak pernah kehabisan kata jika mengobrol pun mendadak diam tak bisa berpikir, apalagi Zian yang hanya terus menatap kagum pada sosok Aditya.
Ceklek..
Pintu kamar tebuka sontak semua mata mengarah pada Ziana.
Ini kenapa jadi patung semua sih apa semua kena sihir Kak Ditya dari tadi aku masuk nggak ada sama sekali orang ngobrol. Sepi kayak di kuburan untung bukan malam jumat.
"Ayo Kak, aku udah siap." Ucap Ziana melangkah mendekati Aditya.
"Maaf kita permisi dulu." Aditya berdiri dan berpamitan dengan senyumnya yang hanya ia perlihatkan pada orang-orang tertentu.
"Ah iya hati - hati." Ucap Ibu dan Bapak dengan senyum yang mengembang dari ke dua bibir mereka dan senyum Ibu yang paling mengandung arti entah apa hanya Ibu dan Tuhan yang mengerti.
Setelah masuk ke dalam mobil, Ziana melihat Aditya yang tampak seperti tak terjadi apa-apa. Ia duduk dengan wajah yang santai dengan menginjak pedal gas mobil pun melaju meninggalkan rumah.
"Kenapa terus melihatku seperti itu, aku tampan bukan?" ucap Aditya tanpa menoleh ke arah Ziana.
"Terus?" Aditya masih tetap fokus menyetir tanpa mempedulikan Ziana yang sedang kesal padanya.
"Kenapa telepon dan pesan ku Kak Ditya abaikan? apa Kak Ditya masih marah?" tanya Ziana lagi dengan terus menatap Aditya.
"Hmmm".Aditya mengangguk.
"Baiklah aku akan mengatakannya, Evan itu teman sekolah ku dia juga sekarang sekampus denganku." Ziana mencoba menjelaskan hanya garis besarnya saja.
"Hanya itu?" Aditya menaikan sebelah alisnya merasa tak percaya dengan jawaban Ziana.
"Memang apa lagi?"
"Menurutmu?" bukannya menjawab Aditya malah balik bertanya.
"Tidak ada lagi Kak hanya sebatas itu, aku nggak bohong." Ziana mengangkat tangannya dengan jari tangan membentuk huruf v.
"Baiklah." Aditya mengangguk tanda ia percaya pada apa yang di ucapkan kekasihnya itu.
Semoga sampai kapan pun dia tak akan pernah tau akan perasaanku dulu pada Evan. issh lagian itu hanya sebagian cinta bocah ingusan, ya mungkin hanya itu meski kadang jauh di lubuk hatiku masih ada namanya walau itu hanya seperti lubang pantat bayi.
"Kita mau kemana Kak?" tanya Ziana tersadar dari lamunannya.
"Makan, kau punya referensi tempat mungkin?" Aditya kini menoleh ia ingin melihat wajah cantik Ziana.
"Ada tapi aku tidak yakin kalau Kak Ditya menyukainya." Jawab Ziana tersenyum melihat Aditya tersenyum padanya, itu artinya marahnya sudah hilang begitu pikirnya.
"Tunjukan saja jalannya."
"Baiklah."
Mobil berhenti di sebuah bangunan ruko kecil yang sangat sesak dengan pengunjung, padahal ini bukan malam minggu.
"Kau yakin?" Aditya menatap tak percaya, ia yang terbiasa makan di tempat nyaman melihat pemandangan seperti itu membuatnya ingin berputar arah.
"Yakin Kak, di coba dulu deh kalau nggak enak kita balik aja ke tempat lain." Ziana tersenyum meyakinkannya.
Mereka turun dari mobil menuju tempat makan yang hilir mudik pengunjung, Ziana menarik tangan Aditya menuju tempat kosong yang baru di tinggalkan oleh pengunjung lain.
Pelayan pun datang membersihkan sisa makan yang ada di hadapan mereka. Aditya bergidik melihat sisa makanan yang ada di hadapannya.
Ini sungguh menjijikan,arrrrggghhh
"Kenapa Kak?" tanya Ziana yang melihat wajah Aditya tampak tak bergairah.
"Tidak." Aditya hanya menggelengkan kepalanya.
"Kalau Kak Ditya nggak suka kita cari yang lain aja yuk, biar nyaman gitu." Zian merasa kalau Aditya memang tak nyaman berada di sini.