
Siang ini adalah jam istirahat dan itu berarti jam nya Ziana untuk makan siang bersama suaminya, Aditya. Karena tadi pagi Ditya berpesan padanya untuk menjemputnya, maka begitu mata kuliahnya selesai Ziana pun langsung menelpon suaminya.
Tuuutt...tutttt
"Hallo sweety." ucap Aditya setelah panggilan telpon dari istrinya itu, ia angkat.
"Hallo, aku sudah selesai. Apa kau masih sibuk suami ku?"
"Tidak, baiklah aku akan menjemput mu sekarang."
"Baiklah aku tunggu." dan panggilan pun berakhir.
"Mun hari ini lo di jemput?"
"Iya, tadi pagi pesannya gitu pengen makan siang bareng dan jemput gue." Ucap Ziana dengan memasukan kembali ponselnya ke dalam tas.
"Sweet banget sih laki lo, gue ngiri asli deh."
"Nggak sekalian lo nganan, makanya kasih lampu sen tuh dokter Bara pasti langsung klepek - klepek nggak berdaya deh."
"Lo kira ikan klepek - klepek di darat nggak ada air." Lena mengerucutkan bibirnya sewot.
"Kan biar jadi satu spesies sama lo."
"Seneng lo." Lena mulai jengkel mendengarkan ocehan Ziana.
"Iya seneng banget gue, oh ya gimana kabar Oma sekarang kangen gue udah lama nggak ketemu, masih rempong apa udah nggak?"
"Masih malah makin jadi, heran gue makin tua tuh bibirnya kayak kram kali kalau nggak ngoceh sehari aja."
"Lah udah dari sono nya kali, nih turunannya aja model begini. Gue yakin tanjakannya sama aja nggak jauh beda dari lo."
"Iya juga sih." Lena menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena apa yang di ucapkan Ziana memang benar, keluarganya termasuk keluarga ramah dan hangat, dan satu lagi selalu ramai akan lambe mereka yang tak bisa diam. Tak jauh beda dengan keluarga Ziana hanya berbeda dari perekonomian saja.
Saat tengah asik berbincang ponsel Lena bergetar ada panggilan masuk, dengan segera ia melihat layar ponselnya. Dengan mengerutkan kening karena tak biasanya Bara menghubunginya jika tidak ada masalah darurat.
"Apa?" ucap Lena begitu panggilannya ia terima.
"Kita harus bicara ada hal penting yang harus aku diskusi kan dengan mu." jawab Bara dari sebrang sana.
"Hal apa?"
"Nanti juga kau tau, di tempat biasa bagaimana?"
"Awas jika hal tak penting yang akan di bicarakan."
"Memang seberapa penting waktu yang kau punya?kerjaan mu juga hanya kaum rebahan dan berkhayal tentang idola kpop mu saja."
"Kau, apa peduli mu itu urusanku!" seru Lena dengan menahan kekesalan atas ucapan Bara yang selalu membuatnya ingin mencakar wajahnya tapi selalu ia urungkan jika mereka bertemu, sayang saja jika wajah tampannya harus menjadi papan lukis kuku tangannya. Walau bagaimana pun Lena sama seperti Ziana penyuka laki - laki tampan.
"Ah sudahlah berdebat dengan mu selalu membuat kepala ku pusing, aku menelpon mu untuk mengajakmu bertemu. Ingat jam makan siang ini aku tunggu." Panggilan pun di akhiri sepihak oleh Bara, dan itu sontak memantik api amarah yang sejak tadi di tahan Lena.
"Kurang asem ini cowok mau nya apa sih, lo jual gue beli liat aja ntar kalau ketemu." seru Lena yang sampai melupakan Ziana yang dari tadi memperhatikan dirinya.
"Iya lo liat aja kelakuannya selalu bikin tensian gue naik."
"Emang dia ngomong apaan?"
Saat Lena akan menjawab nya ponsel Ziana bergetar tenyata notif pesan dari suaminya jika ia kini sudah sampai di depan kampusnya. Dengan segera ia bersiap dan berdiri untuk segera menemui suaminya.
"Odah gue duluan ya, inget kalau ketemu sama Bara jangan lo ajak berantem mulu. Cowok di sosor duluan juga diem pasti langsung kayak batu tuh orang." Ziana tertawa dan berlari pergi sebelum Lena melemparnya dengan sepatu.
"Monyong, lo kira soang apa gue." Lena sedikit berteriak pada Ziana, ia yang tengah berlari pun sejenak membalikkan badannya dan menjulurkan lidahnya mengejek sahabatnya itu.
Ziana berlari terus hingga sampailah ia di hadapan mobil suaminya, dengan nafas yang terengah ia pun memasuki mobil. Dan semua itu tak luput dari perhatian suami nya.
"Kenapa harus berlari seperti itu?" dan dengan segera Aditya pun mengambilkan beberapa tisu untuk menyeka keringat di wajah Ziana.
"Aku menghindari Lena tadi aku meledeknya."
"Kalian itu seperti anak kecil saja." Aditya terus saja menyeka keringat Ziana dan membuat istrinya itu tersipu malu dengan perlakuan manisnya
"Terima kasih, sini aku yang lap saja ini sangat menjijikan suami ku nanti tangan mu kotor." Saat akan merebut tisu dari tangan suaminya, Aditya hanya menggelengkan kepalanya pertanda ia harus diam dan menerima saja apa yang Aditya lakukan.
"Nah sudah lebih baik, jangan berlari lagi bagaimana kalau kau jatuh?"
"Tidak akan aku jamin itu." Ziana pun mengedipkan matanya.
"Baiklah jangan menggodaku, kita berangkat sekarang." Aditya pun melajukan mobilnya meninggalkan kampus untuk segera menuju restoran yang telah di pesannya.
Sesampainya di restoran Aditya pun turun dari mobil, seperti biasa ia selalu mengitari mobilnya ke arah tempat Ziana duduk untuk membuka kan pintunya. Perlakuan kecil seperti ini saja sudah membuat Ziana begitu senang, dan di genggamnya tangan Ziana sambil berjalan menuju ke dalam restoran.
Mereka berdua duduk berhadapan di dalam VIP room seperti biasa semuanya sudah di siapkan, mereka hanya tinggal menikmatinya saja.
"Apa kau lelah suamiku?" tanya Ziana yang baru menyadari wajah pucat suaminya.
"Tidak, memangnya kenapa?"
"Kau terlihat pucat sekali." Tangan Ziana berusaha menggapai pipi Aditya.
"Mungkin karena aku belum makan." jawabnya mencoba menutupi apa yang sebenarnya terjadi, sejujurnya tadi penyakitnya kambuh lagi. Ia merasa tak bertenaga seluruh persendiannya terasa sakit tapi ia tetap memaksakan dirinya dan bersikap seolah biasa saja.
"Kalau begitu makan lah yang banyak ya." Ziana menaruh beberapa lauk ke dalam piring suaminya dengan senyuman dari bibir mungilnya.
"Tentu, terima kasih sweety." Aditya pun makan dengan lahapnya, ia merasa semangatnya selalu kembali penuh jika bersama dengan istrinya.
***
Lena kini tengah menyetir mobilnya untuk segera sampai di tempat yang telah Bara janjikan. Ia ingin segera sampai untuk mengeluarkan semua kekesalan di hatinya pada Bara.
Begitu sampai di cafe, ia berjalan masuk dan melihat seorang laki - laki tampan dengan penampilan sedikit berantakan. Kemeja yang biasa rapih ia biarkan keluar begitu saja dengan beberapa kancing atas yang terbuka, lengan baju yang di gulung sampai siku dan rambut yang terlihat sedikit berantakan hingga mengenai keningnya.
Penampilannya yang seperti bad boy saat ini berhasil menghipnotis Lena yang tadinya ingin marah malah ia terpesona akan ketampanan tunangannya itu.
Ya Tuhan dia memanglah tampan meski dalam keadaan apa pun tapi aku sangat menyukai penampilannya yang seperti bad boy saat ini. Ah jantungku sepertinya ini tak akan aman untukku, jangan sampai aku mati lebih dulu sebelum dia mengunboxing diriku nanti, eh...