
Setelah selesai jam mata kuliah, Ziana bergegas akan pergi dengan terburu - buru tapi langkahnya terhenti saat Lena memanggilnya.
"Mun mau kemana lo? akhir - akhir ini lo mencurigakan banget tau nggak sih." Lena memicingkan matanya menyelidiki ekspresi wajah Ziana dengan seksama.
"Iya udah gue cerita tapi bentaran aja ya soalnya gue buru - buru banget ini." Ziana menghela nafasnya kasar kemudian ia menceritakan semua yang terhadi padanya selama ini, dari mulai hubungannya denga Aditya dan juga tentang pekerjaaan barunya.
"isshh keren sahabat gue seorang foto model ternyata, oh ya kapan launching nya nih pokonya gue orang pertama yang harus tau." ucap Lena.
"Kalau nggak salah besok deh, ntar gue bawain majalahnya."
"Ok sipp." Lena mengacungkan jempolnya tanda ia setuju.
"Iya udah gue buru - buru harus berangkan ini, mau nguli dulu gue." Ziana beranjak berdiri untuk segera keluar dari kelasnya.
"Tunggu, emang lo mau naik apa kesana?" Tanya Lena.
"Gue mau pakai ojol."
"Nggak usah lo sama gue aja, yuk gue anter sekalian penasaran gue liat lo pemotretan, cieee foto model nih yaa."Lena terus saja menggoda Ziana dengan menggelitik pinggangnya.
"Ok kalau gitu kita ke parkiran dulu yuk sekalian gue pengen denger cerita lo secara gamblang."
"Haissshh udah lah sesuai banget sama apa yang di otak gue, liat lo baik banget sama gue emang pasti ada maunya." Ziana melirik Lena yang tengah tersenyum dengan memainkan kedua matanya.
"Iya dong rugi kalau gue ketinggalan berita bagus, yuk ah kita pergi sekarang." Lena menarik tangan Ziana dan berjalan melalui koridor kampus untuk ke tempat parkiran.
Setelah sampai di tempat parkir mereka melihat Evan yang juga akan pergi karena ia juga tengah bersiap melajukan motornya.
"Eh itu si Evan kan masa ia sekarang jadi partner kerja lo, terus gimana reaksi cowok lo?" tanya Lena saat mereka tengah berada di dalam mobil yang akan membawa mereka ke tempat kerja Ziana.
"Kak Ditya belum tau kalau gue kerja jadi foto model apalagi partner bareng ma Evan."
"Whattt?? mau sampai kapan lo sembunyiin, gue rasa secepatnya pasti cowok lo tau dan siap - siap aja liat dia ngamuk, hih." Lena bergidik ngeri membayang kan Aditya yang dingin akan sangat marah kalau ia tau nantinya.
"Lo jangan nakutin gue gitu Odah." Ziana yang tadi tampak tenang berubah gusar setelah mendengar perkataan Lena.
"Iya lo kenapa nggak jujur coba, dia itu pengusaha relasinya banyak akan sangat mudah ia tau, Mun." Lena yang tengah menyetir tetapi sesekali ia melihat ke arah wajah sahabatnya yang tengah di landa kegelisahan.
"Trus gue musti gimana dong?
"Iya lo cerita yang sebenarnya, dari pada ntar dia tau bukan dari lo, bisa abis lo."
"Oke lah ntar pulang dia dari swiss gue cerita biar enak nggak lewat telpon." Ziana mengangguk mencoba berpikir lagi langkah apa yang sebaiknya ia ambil.
"Nah gitu bagus biar dia ngerasa di hargai sebagia pasangan lo, nggak kebayang gue kalau dia tau dari yang lain, pasti ngamuk dia kaya banteng di kasih kain merah tuh. Ntar lo yang abis babak belur sama tuh patung es,, beku lo?" seru Lena.
"Udah ah lo jangan bahas itu terus, ngeri gue." Ziana juga ikut mengedikkan bahunya.
***
Aditya yang saat ini masih memimpin rapat tengah berkonsentrasi untuk memecahkan masalah yang ada, ia berharap semoga bisa secepatnya kembali ke tanah air.
Meski baru satu hari tak bertemu dengan Ziana, ia sudah sangat merindukan gadisnya itu. Pikirannya kini bercabang padahal dulu sebelum ia mengenal cinta tak pernah sedikitpun ia memikirkan seorang wanita di saat rapat penting seperti ini.
Ah aku harus bisa membereskan nya dengan cepat, ini sungguh sangat menyiksa ku.
"Ini laporan dari bagian keuangan beserta rinciannya Tuan, dan ini adalah bukti dari bank terkait transferan kemana saja aliran dana itu di kirimkan." Angga memberikan sejumlah laporan kepada Aditya, ia bergerak cepat setelah tau adanya penyimpangan dana dalam jumlah yang cukup besar.
"Hmm.." Aditya menerima laporan yang bisa menjadikannya acuan untuk bisa membuktikan siapa saja yang terlibat dalam masalah ini.
Ia terus mengerutkan kening membaca hasil laporan yang di berikan Angga, sedangkan jajaran dewan direksi yang ada di dalam ruangan mulai tegang sesaat keadaan pun berubah hening mencekam karena tidak ada satu suara pun yang terdengar.
Brakkk...
Aditya menggebrak meja menatap nyalang pada dewan direksi yang ada di sana, mereka yang ikut terlibat dalam kasus korupsi mulai menyeka keringat dingin yang membanjiri keningnya.
"Aku sudah katakan bukan jika ada yang berkhianat padaku, tunggu saja akibat nya akan ku hancurkan sampai keluarganya ikut menanggung akibat nya!" seru Aditya dengan posisi berdiri dan menghadap semua yang hadir dalam rapat.
"Aku sudah mengantongi semua nama yang ikut telibat di dalam nya, tunggu saja kehancuran kalian." Aditya mengibaskan berkas di tangan kanannya dan satu tangan nya lagi ia masukan ke dalam saku celananya.
"Angga urus mereka." Aditya yang sudah mulai muak dengan segera pergi meninggalkan ruangan tersebut.
"Baik Tuan." Angga mengangguk dan membungkukan badannya begitu Aditya melangkahkan kaki nya keluar ruangan.
Saat pikiran dan hatinya panas, tanpa sengaja ia melihat katalog Aura Kosmetik yang baru saja launching di story rekan bisnisnya. Bagai bara yang di siram bensin ia begitu marah melihat gadis nya tengah berpose mesra dengan lelaki yang sangat ia benci.
Saat ini posisi Aditya sedang berada di dalam kamar hotel. Kemarahannya yang memuncak melihat Ziana, membuat nya kalap ia membanting semua barang yang ada di kamar hotel dan berteriak seperti orang tak waras.
"Ziana apa kau pikir aku laki - laki bodoh bisa terus kau kelabui!! Jangan salahkan aku jika mulai saat ini aku tak akan bersikap lembut pada mu dan satu yang harus kau ingat sampai mati pun aku tak akan pernah melepas mu!!" Aditya berteriak menumpahkan semua rasa kecewanya seolah Ziana ada di hadapannya.
"Argggggghhhhhh kau membuat ku seperti orang bodoh, kau mau menghianati ku hah!!" Matanya menatap tajam pantulan dirinya di depan cermin, dadanya yang naik turun menahan gejolak amarahnya.
Prangggg...
Kaca yang di pukul Aditya pun pecah hingga darah segar keluar dari tangannya. Ia terdiam beberapa saat dengan tatapan kosong.
Ia pun berjalan menuju mini bar dan membuka minuman alkohol kemudian ia menenggaknya seperti orang yang tengah kehausan.
Bayangan dirinya di masa lalu sekilas datang, ia merasakan sesaat kejadian di masa lalu itu hadir kembali di depan matanya.
"Tidak jangan !!" teriak Aditya histeris ia terduduk dengan kaki yang ia dekap di dadanya dengan tangan yang menutup kupingnya dan kepala yang tertunduk menahan ketakutan.