
Setelah Ziana membuat kalah lawan bicara nya, ia pun langsung menarik tangan Aditya dan melenggang meninggalkan Yola yang tengah shock mendapati dirinya kalah telak dari saingannya. Sementara Ardi yang dari tadi hanya tertunduk melihat kelakuan kekasihnya itu, ia tak bisa berbuat banyak.
"Good girl." Aditya menepuk pelan kepala Ziana, ia tersenyum mengingat kejadian yang membuat nya yakin jika Ziana bukanlah gadis lemah yang gampang di tindas, ia bisa membaca situasi dan membalikkan keadaan.
Ziana tersenyum bahagia mengingat wajah Yola yang langsung merah padam setelah ia membalasnya.
"Istrinya siapa dulu dong." Ziana menaik turunkan alisnya dengan menatap Aditya.
Mereka pun melanjutkan langkahnya dan memasuki resto jepang. Setelah itu mereka duduk di sudut resto yang bisa melihat pemandangan luar.
Setelah itu mereka memesan makanan, tak berapa lama pelayan pun datang mengantarkan pesanan.
"Besok Kak Ditya mulai masuk kantor?" tanya Ziana.
"Kau memanggilku apa?" Aditya menatap Ziana intens.
"Eh maaf suamiku, aku belum terbiasa kadang lupa kalau aku sudah punya suami." Ziana tersenyum dengan menampilkan deretan giginya yang putih.
"Biasakan lah agar kau tak mudah lupa."
"Oke siap bos." ucapnya dengan kedipan matanya menggoda Aditya.
"Jangan terus menggodaku sweety atau aku akan memakan mu saat ini juga."
"Tidak." ucap Ziana menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Itu bukan jawaban." Aditya memukulkan sendok dengan pelan ke kepala Ziana.
Ziana pun tersenyum dengan begitu manisnya dan itu membuat hati Aditya sangat bahagia.
Kau begitu manis dan lucu seperti kucing yang selalu ingin di manja tetapi kau akan berubah menjadi kucing yang mencakar mangsanya jika kau terusik.
"Sekarang makan lah yang banyak karena kau butuh tenaga untuk menyeimbangkan pergulatan kita nanti." Aditya tersenyum smirk.
"Suamiku kenapa hanya soal itu yang kau ingat? nanti malam kita harus menemui Mom dan Dad di mansion." ucap Ziana mengingatkan.
"Ah ya Mom selalu merusak mood ku, apa Mom tak mengerti jika kita masih pengantin baru." Aditya mendengus kesal mengingat malam ini ia harus pergi ke mansion padahal ia sudah membayangkan adegan panas yang akan ia praktekan bersama dengan Ziana.
Drrttt...drrrt
Ponsel Aditya bergetar.
"Hallo Mom."
"Kau dimana? kenapa berisik sekali?" tanya Mom Irene.
"Aku sedang makan di resto jepang, kenapa Mom?"
"Pulang dari sana kamu langsung ke mansion ada hal penting yang akan Mom sampaikan."
"Tapi Mom.." belum sempat Aditya melanjutkan ucapannya sudah langsung di potong oleh Mom Irene.
"Nanti bisa kau lanjutkan malam pengantin mu, cih memang Mom tak tau apa yang kini ada di kepala mu itu. Sudah sekarang juga Mom tunggu kalian." Panggilan pun di putus sepihak oleh Mommy Irene.
"Selalu seenaknya saja." gumam Aditya dengan berbicara pada ponsel yang masih ada di genggamannya.
"Ada apa suamiku?" tanya Ziana yang kini masih sibuk melahap makanan yang ada di hadapannya.
"Mom menyuruh kita ke mansion sekarang."
"Sudahlah tak apa kini mereka juga orang tuamu."
"Tapi.." Tak sempat Ziana melanjutkan perkataannya karena Aditya menatap matanya lekat seakan berkata semua baik - baik saja.
Setelah selesai makan Ziana dan Aditya bergegas untuk segera melajukan mobilnya menuju mansion orang tuanya. Ia yang hanya akan datang sesekali itupun jika ada hal penting yang akan ia bicarakan dengan orang tuanya, selebihnya entah kenapa ia sangat malas jika harus pergi ke mansion.
Begitu sampai di mansion, mereka di sambut dengan suara melengking Mom Irene yang tengah menunggu di ruang tamu.
"Halo menantu ku apa kabar mu sayang?" tanya Mom Irene dengan memeluk Ziana erat.
"Kabar baik Mom, bagaimana kabar Mom?." jawab Ziana.
"Ah kabar Mom baik."
"Ayo masuk sayang kita duduk yuk." ucap Mom Irene dengan menggandeng tangan Ziana dan melupakan anaknya yang telah berdiri dari tadi di samping istrinya itu.
"Kenapa aku merasa jadi anak tiri ya." Aditya bergumam dan menggelengkan kepalanya.
"Dad apa kabar?" Jawab Ziana dengan mencium punggung tangan Dad Gamma yang tengah duduk di sofa.
"Kabar baik, ayo duduklah."
"Baik Dad."
Mereka pun semua duduk seakan ada rapat penting keluarga yang sangat genting dan harus di bicarakan hari itu juga.
"Apa yang ingn Mom bicarakan?" tanya Aditya yang kini tengah menyandarkan kepalanya di bahu Ziana.
"Liatlah Dad anakmu sudah seperti anak kucing yang minta belas kasihan untuk di sayangi." ucap Mom Irene dengan mencibir Aditya yang tak peduli pada keadaan sekitarnya, dengan tingkah manja yang kini ia lakukan pada istrinya. Dan Ziana hanya bisa tersenyum canggung karena kelakuan Aditya kini.
"Dengar anak - anak ku Mom dan Dad sudah tua, pergilah berbulan madu."
"Apa hubungannya?" Aditya mengerutkan keningnya bingung.
"Buatlah cucu untuk kami, begitu saja kau tak mengerti apa harus juga Mom mengajari caranya seperti apa?" ucap Mom kesal.
Aditya tersenyum mendengar apa yang di ucapkan Mom Irene.
"Ini ada tiket bulan madu ke korea, jika perlu sebelum adonan jadi kalian tidak usah pulang." Mom Irene pun menyodorkan amplop besar kepada Ziana.
"Ini benar ke korea Mom?" tanya Ziana dengan mata berbinar menerima hadiah dari mertua nya.
"Iya dan kau bisa melihat indah nya korea seperti yang ada di drakor dan kalau beruntung bisa bertemu dengan idola mu." ucap Mommy Irene dengan senyum yang terus menghiasi wajahnya yang sudah tak muda lagi, ia merasa sangat bahagia melihat putra satu - satunya itu mendapatkan orang yang tepat untuk mendampinginya.
"Kenapa harus korea sih Mom?" Aditya tak suka jika ada pria lain selain dirinya yang ada di hati Ziana. Ia merasa cemburu jika melihat Ziana yang begitu berbinar jika melihat idolanya.
"Karena istri mu sangat suka korea." ucap Mom Irene yang sangat tau apa yang ada di pikiran Aditya saat ini.
"Tidak usah cemburu jika nanti istri mu bertemu dengan idola nya, kuatkan hati dan tekadkan niat mu, ok?" Dad Gamma menyauti obrolan yang mulai menarik, baginya melihat putranya yang panik seperti sekarang adalah hal yang langka.
"Dad and Mom pasti kalian merencanakan sesuatu kan?" Aditya melihat ada yang tidak beres dari senyuman kedua orang tuanya itu.
"Dasar anak nakal, kau selalu berburuk sangka jika Mom dan Dad berbuat baik pada mu." Mom Irene memukul lengan Aditya.
"Kita ke Paris aja ya sweety di sana lebih romantis untuk bulan madu, ya?" Aditya kini menampilkan wajah termanis di hadapan Ziana, membuat ke dua orang tuanya saling berpandangan merasa tak percaya dengan apa yang mereka lihat saat ini.