In Memories

In Memories
part 19



Setelah jam 10 malam Ziana dan Aditya pamit pulang, tadi nya Mom Irene menginginkan agar mereka menginap di mansion. Tapi Aditya maupun Ziana sama - sama menolak nya.


Di dalam mobil yang tengah melaju dengan jalanan yang mulai sepi. Mereka duduk seperti biasa hening, tidak ada satu pun yang mulai membuka suara hingga Aditya yang mulai membuka percakapan.


"Aktingmu lumayan, natural." ucap Aditya.


"Kalau itu bukan akting bagaimana?" Ziana menjawabnya dengan menatap wajah Aditya.


Cittttttt....


Seketika mobil berhenti mendadak karena rasa terkejutnya akan ucapan Ziana. Dan Aditya pun menoleh dengan terus menatap Ziana.


"Lupakan." sahut Aditya dengan kembali menatap lurus ke depan dan melajukan mobilnya kembali.


"Aku juga lagi berakting ini, apa nggak keliatan ya,


kalau gitu aku akan ikut casting dan semoga bisa jadi bintang film terkenal." Ziana terus berceloteh tanpa melihat raut wajah yang merah dari Aditya.


Ia hanya diam tanpa mau mengomentari apa yang Ziana bicarakan sejak tadi. Sehingga sampai lah ia di depan rumah Ziana.


"Ah sudah sampai ya, mau mampir dulu?"


"Sudah malam"


"Baiklah kalau gitu aku turun ya, bye!!" Ziana pun turun dari mobil sport Aditya.


Begitu pintu di tutup kembali ia langsung melajukannya dengan kecepatan yang tinggi.


"Apa tadi aku terlihat akting Ditya? apa kamu tidak pernah melihat aku? kamu memang sangat jauh untuk ku gapai tapi aku akan berusaha semampuku untuk menggapai mu, aku tak ingin menyerah lagi dengan keadaan. Aku akan berjuang sampai dimana nanti keberuntungan memihak pada ku." gumam Ziana


Ia pun melangkah masuk ke dalam rumahnya, saat ia masuk ke dalam ibu nya yang duduk diam menatapnya dengan pandangan lurus memandang Ziana.


"Astaga Ibu ih kaget aku tuh!!" seru nya setengah mundur ke belakang.


"Kamu udah pulang, mana si ganteng tadi kok nggak masuk rumah?" Ibu bertanya dengan tatapan menyelidik.


"Ini udah malam Bu kan nggak enak jadi dia langsung pulang."


"Apa itu tadi pacar mu?"


"Isshh Ibu ini selalu aja pengen tau, suttt belom saat nya di publish Bu." jawab Ziana tertawa dengan berlari ke arah kamarnya.


"Dasar anak durhakim di ajak ngomong malah lari masuk kamar, untung sayang kalau nggak udah Ibu kutuk kamu jadi panci biar Ibu jewer terus kamu pas lagi masak." Bu Rina misuh - misuh kesal terhadap putrinya.


***


Malam yang gelap dan panjang mulai berganti pagi, hari yang panjang untuk segala aktifitas sudah menyambut untuk dapat di mulai dari pagi yang dingin kali ini.


"Bu mana aku minta jatah ku ini ntar pulang sekolah mau beli perlengkapan buat camping besok." Zian yang baru keluar dari kamar nya untuk sarapan pagi langsung menengadahkan tangan nya untuk meminta uang.


"Iya tunggu sebentar Ibu ambilkan dulu, yang hemat kamu jangan boros kalau di kasih uang itu. Beli seperlunya aja, sisa nya bisa buat bekal kamu." Bu Rinna berlalu pergi dengan wejangan yang tiada henti.


"Iya Bu pasti itu percaya lah pada anak mu yang tampan ini." Zian pun duduk dan mulai mengambil sarapan nya.


"Awas lo pake traktir cewek, jangan so kaya lo ya." Ziana yang baru tiba pun ikut menimpali.


"Dih rugi banget gue buang duit traktir cewek, yang ada jaman sekarang itu cewek yang traktir cowok."


"Halah lo nya aja yang nggak modal, di kamus gue nggak ada ya yang kayak gitu." cibir Ziana.


"Yee pan lo bilangnya gitu harus hemat, ya beda kamus lah gue. Ntar kalau gue udah kerja baru deh gue revisi kamus gue."


"Terserah lo deh." Ziana pun memakan sarapan nasi gorengnya dengan lahap


"Ini Ibu udah kasih yah, jangan sampe kamu amunisi jangan minta lagi kamu." Ibu memberikan beberapa uang lembar uang berwarna biru.


"Amnesia Bu." Ziana dan Zjan serempak menjawab nya.


"Iya maksud Ibu juga ke situ, udah lanjut sarapan kalian."


"Iya udah dari tadi seperti biasa."


"Tadi malam langsung tidur ya Bapak soalnya aku nggak liat Bapak?"


"Iya katanya tadi malam capek banget jadi langsung tidur cepat." Ibu menjawab kembali.


"Lo malam pasti maen di pos ronda lagi ya? mau jadi kuncen pos lo? Ziana mendelik pada Zian.


"Bodo ah yang penting main gue aman ya nggak yang bikin repot orang rumah."


"Cuma Ibu saksi mata kamu Zi." Ibu memandang Ziana dengan tajam.


"Kamu masih hutang penjelasan sama Ibu."


"Wah ada kejadian apa nih? hot news gini gue ketinggalan info." Zian memandang Ibu dan Ziana bergantian.


"Apaan lo udah kaya Ibu - Ibu aja cari update tan gosip pake rok aja sana lo!!" seru Ziana.


"Ada apaan sih Bu." tanya Zian.


"Mau tau aja kamu, dapat apa kamu di pos masa nggak dapat bahan kamu?" sahut Bu Rina.


"Ibu ini emang aku cepu gosip, di pos ya cuma maen gitar sama yang lain, kalau ada selintingan ya baru aku dengerin."


"Sama aja dodol terus lo kasih tau Ibu kan." Ziana pun ikut menimpali.


"Ishhh repot amat urusan sama cewek nanya cuma a di jawab nya sampe z, udah ah pusing gue buruan lo mau berangkat nggak ko masih pake baju rumah?"


"Gue bagian kelas siang, lo duluan aja lah ntar gue pake ojol aja males bawa motor."


"Oke lah gue pergi dulu."


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam." jawab Ibu dan Ziana serentak.


Drrrrt...drrttt


"Hallo apaan Len?"


"Zi anter gue yu di suruh nyokap ngambil pesenan kue buat arisan nih, ntar kita sekalian langsung berangkat ke kampus, gimana?" jawab Lena dari sebrang sana.


"Oke lah gampang itu bisa di atur, lo ke rumah gue aja ya?"


"Sip ntar gue ke rumah lo jam 9 ya."


"Oke lah gue tunggu lo."


Panggilan pun berakhir, setelah itu ia pun membereskan meja makan dan mencuci nya. Kali ini laudryan Ibu tidak begitu banyak jadi Ibu bisa mengerjakan nya tanpa bantuan dari nya, ia bisa sendikit lebih lega untuk bersantai dulu di teras rumah.


Sesaat di pikiran nya terlintas kejadian tadi malam.


"Entah kapan aku menyukai mu tapi yang jelas kamu sudah berhasil membuat hati ku bergetar saat kita bertemu, izinkan aku untuk masuk ke dalam hidup mu." gumam Ziana dengan tatapannya menerawang mengingat wajah Aditya.


***


Sementara itu di langit yang sama tapi di tempat yang berbeda aditya yang sejak tadi malam terus memikirkan perkataan Ziana. Ia tau sebenarnya arti dari tatapan dan perkataan gadis itu adalah kebenaran tapi ia berusaha untuk tidak terlalu menanggapi nya.


"Ada apa dengan ku, biasanya tidak pernah sedikitpun aku terpengaruh dengan ungkapan hati gadis mana pun." gumam nya


Saat ia akan bangun berdiri dari tempat tidurnya tiba-tiba ponselnya berbunyi.


Drrrt drrrrrt


"Hallo.."