
Ziana dan Evan saling bertatapan satu sama lain dengan tangan Evan yang menyentuh pundak Ziana, di parkiran cafe seolah teman-temannya yang ada di sana menjadi tak terlihat.
Tanpa Ziana sadari di sebrang jalan ada seseorang yang sedang menatap nya dengan tatapan tajam yang menusuk, ia meremas stir mobil yang ada di depan nya. Lalu pergi melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh.
"Ternyata benar dugaan ku, kau sama seperti ****** di luar sana, yang tak tau malu." gumam Aditya.
Saat itu Aditya yang sedang mencari tempat makan karena dirinya sudah lapar, ia mencoba melihat ke arah kanan dan kiri yang tanpa sengaja melihat Ziana yang tengah berdiri di parkiran dengan seorang laki-laki dan saling bertatapan intens.
"Ehm ya udah." Ziana mengangguk menyetujuinya.
Evan tersenyum dan mereka pun melangkah menuju mobil, setelah itu mobil pun melaju meninggalkan cafe.
"Ini langsung ke rumah?" tanya Evan memecah keheningan.
"Iya lah pulang." Ziana tersenyum menoleh ke arah Evan di sampingnya.
"Baiklah, oh ya dimana alamat nya?
"Di perum bukit indah." Jawab Ziana singkat, sebenarnya ia sungguh tak nyaman berada satu mobil dengan Evan tapi di sisi lain ia tak enak jika terus menolak ajakan Evan.
Di dalam mobil mereka saling mengingat moment tentang masa sekolah dulu, dengan mengalirnya pembicaraan di antara mereka maka kecanggungan yang ada tadi pun mencair.
Selang waktu 20 menit mereka pun telah sampai di depan rumah Ziana.
"Sudah sampai ya kok cepat banget." Evan yang masih betah mengobrol dengan Ziana pun merasa belum puas hanya sekedar berbincang singkat di mobil tadi.
"Kan dekat Van nggak keluar kota, mau mampir?" Ziana bertanya pada Evan sebelum ia keluar dari mobil.
"Kayak nya lain waktu aja ini udah sore banget, kalau lain hari gue mampir boleh nggak?"
"Iya boleh masa nggak boleh."
"Ok pasti lain kali gue mampir." Ucapnya lagi.
"Kalau gitu gue turun ya. makasih tumpangan nya." Ziana turun dari mobil dan melambaikan tangan sebelum Evan melajukan mobilnya meninggalkan rumahnya.
"Rasa ini memang sudah hilang mungkin hanya tersisa ruang sedikit untuknya, tapi kenapa ya ko hati gue nggak karuan gini rasanya?" guman Ziana dan ia pun melangkahkan kaki menuju rumahnya.
Sementara itu di dalam mobil Aditya ia terlihat sangat marah, mobil yang ia kendarai dengan kecepatan penuh karena amarah yang ada di hatinya melihat Ziana tadi. Ia merasa di bodohi oleh ziana, hatinya yang dingin bagai tersulut api yang berkobar besar dan egonya merasa tersentil dengan harapannya tentang gadis yang mulai ia percaya.
"Arrrrgggggghhhhht shittt!!!!!!!!!"
Ia terus memacu mobilnya tak tentu arah sampai tibalah ia di suatu danau yang tenang. Ia berhenti di sana dengan nafas yang masih naik turun karena amarahnya yang meledak.
Sudah hampir satu jam ia berada di dalam mobil, hari pun sudah beranjak gelap, ia pun pergi meninggalkan danau itu dengan hati yang mulai sedikit tenang.
***
Di tempat camping yang seharian penuh kegiatan game dan tentang adu wawasan antar para siswa membuat mereka kelelahan. Sekarang adalah jam istirahat, mereka yang memanfaatkan waktu dengan tidur adalah sebagian siswa laki-Laki sedangkan siswa perempuan banyak yang memilih di luar tenda bercengkrama dengan sesama siswi karena tenda terasa panas setelah seharian terjemur sinar matahari.
"Pasti lagi tidur dia Wen ini kan jam istirahat dimana pun dan kapan pun tuh cowok pasti tidur."jawab Frida.
"Iya juga sih, Lo apa nggak cape ngejar si Zian terus? gue kasian sama lo, karena dia lo banyak makan hati." Weni manatap Frida ingin melihat reaksi sahabatnya itu.
"Gue ada kalanya cape, sakit hati itu pasti tapi ya gimana gue udah sayang banget sama dia, cinta emang nggak bisa di paksa tapi selagi dia masih jomblo gue akan tetap usaha, nanti ada saatnya hati gue lelah sendiri baru gue stop." Ujar Frida sendu.
"Kalau misal ntar dia nggak jomblo lagi? apa lo tetap ngejar dia?"
"Segila nya gue ngejar Zian kalau dia udah bahagia sama yang lain gue stop lah, meski hati gue nggak akan pernah bisa untuk berhenti sayang sama Zian."
"Gue akan tetap menjadi bayangan di belakangnya Wen, ibaratnya sekalipun hujan turun gue akan tetap memayungi nya meski pun gue basah kuyup dan di depan nya ada orang yang dia perhatikan." Lanjutnya dengan menggigit bibir bawahnya, menahan tangis.
"Gue salut sama hati lo Fri, lo tuh tipe cewek yang setia banget ya bego aja si Zian nggak sadar kalau di depan nya ada orang yang tulus sayang dia. Semangat oke Fri!!" Weni mengacungkan tangannya menyemangati Frida.
"Selalu dong." Ucap nya tersenyum.
Hari pun mulai gelap siswa dan siswi semua sudah segar karena mereka sudah membersihkan diri mereka untuk bisa melanjutkan aktifitas malam dengan badan yang bugar.
"Hari ini kegiatan nya unjuk kebolehan kan ya?" Dimas memulai percakapan setelah mereka pulang dari sungai membersihkan diri.
"Iya dari kelompok kita apaan ya?" Darma ikut menimpali.
"Lo aja lah kan lo jago nyanyi sama maen gitar." Luki menunjuk Zian yang sedang diam melamun.
"Woy malah bengong lo." sahut Dimas menyikut perut Zian.
"Apaan sih lo ah." ketus Zian.
"Iya ntar malam bagian lo aja ya buat perwakilan kita, kan tiap tenda nyumbang ntar juga masuk penilaian itu." Ujar Luki.
"Males gue pengen pulang kangen kasur gue."
"Ayolah Zian ntar lo minta apa aja balik dari sini kita kasih kan cuma lo yang punya bakat, si Dimas kalau lo suruh nyanyi bisa pengeng kuping gue denger nya." Luki yang tau seperti apa suara Dimas jika sedang bernyanyi.
Suaranya mirip orang yang tercekik cempreng, apalagi saat ia nyanyi lagu rock seperti kaleng rombeng yang dalemannya di kasih petasan. Pokoknya bisa bikin orang yang mules lagi lahiran langsung bukaan lengkap, saking merdu nya nggak bakal ada yang kuat dengerin dia nyanyi sampai lagu selesai.
"Ck hina aja terus gue hina." Ucap Dimas yang seolah kesal dengan perkataan Luki. Dengan bibirnya yang mengerucut pura - pura cemberut.
"Iya pake rok aja lu baperan amat, kan emang itu fakta nya dodol." Darma tergelak dan menyikut lengan Dimas yang ada di sampingnya.
"Kalau gue bilang suara lo merdu itu baru namanya fitnah lo pasti lebih sakit dim dengernya haha.." mereka pun tertawa bersama termasuk Dimas sendiri.
"Oke gue ntar yang maju tapi ingat janji kalian kalau ntar balik, gue tagih lo pada."
"Siap lah nggak bakal ingkar janji kita, jangan minta yang aneh aja lo!"
"Hmmmm.." Zian menjawab dengan seringai di wajahnya.