In Memories

In Memories
part 39



Di ballroom hotel Evan dan Lena sedang kebingungan mencari orang yang sama yaitu Ziana yang menghilang begitu saja dari pesta. Lena terus berusaha menghubungi namun ponsel Ziana tidak aktif.


"Kemana sih ini orang main kabur gitu aja, acaranya aja belum beres. Awas aja kalau ketemu abis lo Zi." Lena yang kesal terus saja mengomel.


"Zi kemana sih lo? nggak mungkin kan kalau lo ilang pantes tadi gue pengen banget nganter ke toilet sampai sekarang lo belum juga balik." Evan terus saja berjalan kesana kemari dan mengedarkan pandangannya mencari Ziana, tapi tetap saja nihil orang yang di cari tak ia temukan.


Sementara itu di dalam mobil Ziana dan Aditya yang masih saling menatap satu sama lainnya dengan keheningan dan hanya ada suara mesin mobil yang menyala.


"Maaf." Lirih suara Aditya memecah kesunyian yang tercipta di antara mereka.


"Maksudnya?" Ziana yang kaget mendengar kata maaf yang baru pertama ia dengar dari mulut seorang Aditya, pria arogan yang tak pernah sedikitpun merendahkan ego nya untuk mengucapkan kata maaf.


"Maaf sudah membuatmu terluka karena ku." ucapnya lagi dengan menatap lekat mata Ziana, kini posisi mereka masih saling berhadapan setelah adegan ciuman dadakan mereka.


Mata Ziana berkaca-kaca mendengar apa yang baru saja ia dengar, permintaan maaf dari orang yang memenuhi ruang hatinya. Seseorang yang selalu membuatnya menangis di setiap pertemuan mereka, termasuk pertemuannya kali ini ingin rasanya ia ingin menangis.


"Sebenarnya aku juga sangat marah pada diriku sendiri, karena selalu menyakiti mu."


"Kenapa Kak Ditya melakukan itu padaku?" tanya Ziana


"Aku marah melihatmu dengan laki-laki lain, itu membuat ku selalu lepas kontrol." Jawab Aditya dengan dengan menghela nafasnya kasar.


"Kenapa harus marah? bukannya Kak Ditya tak suka pada ku?" Ziana yang mendadak menjadi loading otak akan arah pembicaraan, tak bisa menangkap apa maksud dari Aditya.


"Apa aku harus menjelaskan sekarang secara detail?" Aditya mulai kehilangan kesabarannya, mencoba untuk tetap tenang agar semuanya tak menjadi lebih kacau.


"Aku bingung maksudnya gimana ini?" Ziana yang tadi nampak berkaca-kaca sekarang malah terlihat menggemaskan karena wajahnya yang terlihat bingung.


"Itu artinya aku menyukaimu, sampai sini apa kau paham?"


"Oh Kak Ditya menyukai ku." Ucap Ziana mengulangi perkataan Aditya tanpa menyadari arti dari ucapannya itu.


"Apa???apa aku tak salah dengar Kakak menyukai ku?" ucap Ziana setengah berteriak dan baru menyadari nya, dan Aditya hanya memejamkan mata dan menghela nafas melihat kelakuan Ziana kali ini.


"Apa benar Kak?" Ziana mengulangi pertanyaan nya lagi karena merasa belum mendapatkan jawaban dari Aditya, ia hanya ingin memastikan bahwa pendengarannya masih normal.


"Hmmm.." Aditya pun mengangguk.


"Itu artinya aku tak bertepuk sebelah tangan, dan apa itu artinya....." Ziana tak melanjutkan kata-katanya lagi ia terlalu takut dan malu jika tebakannya tak sesuai dengan apa yang di pikirkan aditya.


"Artinya mulai sekarang kau tak boleh lagi berdekatan dengan semua laki-laki mana pun, karena kau milikku." Ucap Aditya dengan wajahnya yang serius dan tanpa ekspresi.


Oh Tuhan apa ini mimpi kalau memang ini hanya mimpi tolong jangan bangunkan aku, tapi kalau ini kenyataan aku sangat bersyukur ternyata doaku cepat sekali kau kabulkan. Apa mungkin karena aku anak yang soleha jadi dengan cepat kau kabul kan doa ku untuk mendapatkan si patung es ini.


"Apa kau mengerti?" lanjut nya dengan terus menatap wajah Ziana.


"I...iya aku mengerti." Jawab Ziana dengan gugup karena merasa ini seperti mimpi yang menjadi kenyataan.


Ya Tuhan sumpah demi apapun dia tampan sekali manusia yang satu ini, baru pertama kalinya aku melihat dia tersenyum dan itu hanya untukku. aaaaaaahhhh senangnyaa berarti memang aku benar anak soleha mendapatkan laki-laki tampan seperti dia dan semoga saja dia adalah calon imam yang baik untukku.


"Apa kau mau turun untuk melihat pantai dari dekat."


"Tidak Kak Ditya sebaiknya antarkan aku ke hotel lagi kasian temanku pasti menunggu ku." Ziana yang mencoba mengaktifkan kembali ponselnya langsung terdiam melihat sorotan mata tajam yang mengarah padanya.


"Temanku Lena bukan laki-laki." Jelasnya lagi karena ia mengerti apa yang di pikirkan Aditya.


Mereka pun meninggalkan pantai tersebut untuk menuju tempat resepsi pernikahan yang ia tinggalkan beberapa jam yang lalu, dan karena khawatir Ziana mencoba menelpon lena.


Tuuttt...tuuuuuuut..


Panggilan pun tersambung.


"Hallo." Ziana baru mengucapkan sepatah kata dan saat akan membuka mulutnya kembali ucapanya terpotong dengan suara yang sama cemprengnya dengan dirinya.


"Zianaaaaa lo kemana aja sih? gue udah nyari seisi hotel ini lo nggak ketemu juga. Lo tau nggak si evan dari tadi kayak orang bingung nyariin lo, kasian tau dia udah persis anak ayam di tinggal mati emaknya!!" ucap Lena di sebrang sana dengan suara 5 oktafnya yang membuat pengeng kuping yang mendengarnya.


"isssh lo tuh ya kebiasaan banget tau, gue ngomong juga belum lo nyerocos aja kaya burung beo nggak di kasih makan lo. Berisik!!" ucap Ziana.


Ckk apa dia tidak sadar, kalau dia lebih berisik mungkin melebihi temannya itu. Kenapa aku bisa menyukai gadis sepertinya.


Aditya yang tengah menyetir mobil nya pun hanya tersenyum tipis mengingat betapa ia menyukai gadis berisiknya dan tak mau kehilangannya lagi.


"Heh Odah acaranya belum beres kan?" tanya Ziana dengan sedikit membenarkan tatanan rambutnya.


"Belum masih 2 jam lagi, buruan sini lo gue udah akaran ini nungguin lo. Mulut gue juga udah gatel ini nggak ada tempat buat gibahin gaya nya orang - orang."


"Iya tungguin bentar gue nyamperin lo, yang tenang lo ya jangan sampe lo aja Pak Wanto supir lo gibah kasian dia."


"Gila aja lo, gue gibah sama Pak Wanto gue udah ngomong sampe korea nah dia masih di bantar gebang, lemot bisa dower mulut gue bukannya happy yang ada gue pengen garuk pantat orang."


"Iya udah tungguin gue, udah lo jangan banyak tanya lagi." Ziana pun mematikan panggilan telponnya.


Ia tersenyum canggung baru menyadari kalau ia sedang bersama sang pujaan hati yang baru beberapa menit yang lalu telah resmi menjadi kekasihnya.


"Maaf ya Kak Ditya pasti berisik ya." Ziana menoleh untuk bisa melihat wajah aditya.


"It's ok." Jawabnya tetap fokus menyetir.


Udah resmi juga tetap aja dingin, gue curiga dulu Mommy ngelahirin dia di kutub utara deh. Terus Mommy ngidam pengen lahiran di temenin beruang kutub jadilah anaknya model begini tapi untung tampan.


"Kabar Mommy dan Daddy gimana Kak?" tanya Ziana yang sangat merindukan calon mertuanya yang sangat baik dan perhatian padanya itu.


"Mom dan Dad baik sejak pertemuan terakhir dulu mereka pergi ke jerman sampai sekarang belum pulang."