In Memories

In Memories
part 13



"Hay sayang, ah pantas saja Ditya selalu menolak setiap wanita yang Mom jodohkan, ternyata kamu sangat cantik." ucap Mom Irene dari seberang sana.


"Ah tante bisa aja." Ziana tersenyum canggung karena ini baru pertama kali baginya mengobrol dengan calon mertua, meskipun ini hanya sandiwara, itu membuatnya gugup.


"Eh jangan panggil tante tapi panggil Mom, oke?!"


"Emm baiklah Mo..Mom."


"Ah senangnya akhirnya aku punya anak gadis juga hahaha..." Mom Irene tertawa bahagia rasanya seperti sudah punya menantu pikirnya.


"Udah dulu ya Mom, aku harus mengantarnya pulang." Aditya langsung memotong ucapan m


Mommy nya ia takut kalau Mom akan semakin berbicara yang makin tak jelas.


"Ishh kamu ya ganggu aja. Ya udah sayang Mom tunggu kedatangan kalian ke mansion, bye."


panggilan pun berakhir.


Jangan salahkan kalau setelah hari ini yang gue lewati akan berjalan normal seperti bisanya ini benar - benar di luar dugaan. Tuhan mahluk di sebelah ku ini sangat tampan dan wanginya harum banget sih, jadi nyaman kan gue.


"Ehm ehm." Aditya mencoba menyadarkan Ziana dari lamunan nya.


"Eh maaf ada apa?" tanya Ziana dengan mode polosnya. Ia lupa kalau dirinya belum beranjak pergi dari dekapan Aditya.


"Apa senyaman itu?" Aditya menjawab Ziana dengan mata yang melihat tubuh Ziana masih menempel dengan tubuhnya.


"Astaga!!!" teriak Ziana dengan sedikit berlari menjauh dari Aditya.


"Akting mu lumayan, jangan terlalu gugup itu akan menghancurkan rencana kita."


Heh apa dia bilang rencana kita??itu hanya rencana mu. Dasar tukang maksa!! selalu aja gue nggak punya pilihan kalau berhadapan dengan manusia satu ini.


"Baiklah kalau begitu aku permisi pulang." Ziana pamit untuk pergi.


"Hmmm.." Aditya hanya mengganguk.


Setelah sampai di depan lobby perusahaan Ziana terkejut karena di hampiri oleh supir perusahaan. Ia tetap memaksa agar Ziana pergi di antar olehnya karena ini perintah dari big boss nya Aditya Erlangga.


"Ayolah Nona jika anda tidak saya antar maka pekerjaan saya taruhannya." supir dengan name tag Rinto itu memelas membujuk Ziana.


"Huffft baiklah saya akan ikut dengan anda." Ziana menarik nafas pelan dan mulai masuk ke dalam mobil dan mobil pun melaju meninggalkan perusahaan.


***


Sementara itu di rumah


Semalam aku mimpi


mimpi bujur pahili


(mimpi pantat tertukar)


ku takut berakibat


buruk pula lambenyaa


Ibu Rina sedang bersenandung dengan tangannya yang tidak lepas dari kegiatan nya di dapur. Ia saat ini tengah memasak, tadi laudryan cukup banyak dan menjadikannya tidak bisa untuk nongki cantik untuk gibah berjamaah.


"Eh suara mobil siapa ya?? kayak berhenti di depan rumah." ucapnya sembari berjalan ke arah depan dan ia sangat terkejut mendapati orang yang turun dari mobil itu adalah putrinya Ziana.


"Terima kasih Pak." Ziana berbicara pada Pak Rinto sebelum keluar dari dari mobil.


"Ia Nona sama - sama."


Dengan pelan mobil melaju meninggalkan rumahnya.


"Itu jelas buka grab mana ada mobill grab bagus gitu." Bu Rina bergumam dengan kening yang berkerut.


"Ziana!!!!!" teriak Bu Rina dengan mengangkat spatula yang di pegangnya dari tadi.


"Ada apa sih bu?" seru Ziana kaget.


"Kamu pulang dengan siapa hah? kamu nggak macam - macam kan?" Bu Rina yang memang harus selalu tau kegiatan anak - anaknya untuk memantau mereka agar tak salah jalan menurutnya.


"Itu supir perusahaan Kak Ditya bu. Tadi aku dari perusahaannya mengantarkan baju yang aku tumpahin dessert itu lho Bu." Ziana menjelaskan dengan berjalan ke arah dapur mengambil air minum.


"Oh ibu pikir di antar om - om kaya!!" Bu Rina terkikik geli dengan pikirannya sendiri.


"Ibu itu kebanyakan nonton sinetron jadi pikirannya ke sana terus." sahut Ziana.


"Eh tapi ko baik banget ya Pak Ditya itu ko mau nyuruh supirnya nganterin kamu pulang?"


Bu Rina mulai berpikir.


Iya jelas lah baik banget gue kartu as nya sekarang. batin Ziana.


"Apa jangan-jangan dia suka sama kamu Zi? ibu sih nggak masalah kamu pacaran sama orang kaya, malah ibu senang." ibu tertawa bahagia jika itu terjadi karena baginya dia pasti akan menjadi orang yang paling terpandang di perumahan ini.


Ziana memutar bola matanya jengah mendengar penuturan ibunya.


"Tapi kuliah yang benar ya Zi, biar kita tidak di anggap sebelah mata. Kita hanya orang biasa, sangat jauh dari kehidupan mereka."


"Apa sih bu? ibu itu mikirnya kejauhan tau. Udah ah laper ini, Zi mau mandi dulu terus makan." Zian berlalu pergi ke kamarnya sebelum ke kamar mandi untuk membawa baju ganti nya.


"Oh astaga cumi ibu!!" Bu Rina langsung berlari ke dapur mematikan kompornya dan melihat masakan nya yang hampir saja gosong.


***


Siang hari ini cukup terik dengan cahaya matahari yang terasa menyengat tubuh, dan saat ini adalah pertandingan tim basket antar kelas.


Anak-anak yang sedang berkumpul di lapangan basket mau tidak mau harus menerima panas terik menusuk kulit mereka, tapi itu tak menyurutkan langkah mereka untuk tetap tanding basket.


Para siswi yang ada di pinggir lapangan basket untuk menonton dan menyemangati tim kelas mereka yang ikut bertanding. Lapangan basket yang hening berubah riuh setelah kedatangan para siswa.


"Kalau tim kita menang gue traktirr kalian sepuasnya minum es kelapa." Luki menyemangati ucapannya yang berapi - api.


"Monyong lo gue kira traktir apaan es kelapa doang sampe kembung gitu? idih nggak ya makasih." Ucap Dimas.


"Lo emang ya bener - bener traktir itu yang bikin kenyang bukan bikin kembung anak orang!!" Zian yang tak habis pikir dengan kelakuan Luki pun ikut berkomentar.


Luki si pencetus ide hanya tersenyum dengan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Segitu juga gue ada usaha cuy."


"Udah ah yu pemanasan dulu ntar kram lagi bukannya menang, cidera iya." Darma yang diam menyimak akhirnya ikut bicara.


Serempak mereka pun mengangguk dan mulai pemanasan sebelum pertandingan.


Saat ini pertandingan sedang berlangsung Zian yang mulai mendrible bola melemparkan nya ke arah Luki dan ia menerima bola dengan sempurna saat akan shoot bola dari arah dekat, bola kembali di ambil oleh lawan ia lalu berusaha mengejar.


Bola pun masih tetap di tangan lawan dengan tangan yang terus mendrible bola ia lempar ke arah tim nya, tapi terlambat Zian merebutnya dan terus mengecoh lawan dengan gerakan nya kali ini ia tidak ingin kecolongan lagi.


Ia harus bisa mencetak poin terakhir agar bisa menang, ia pun berusaha untuk melakukan long shoot dan seperti adegan slow motion para siswa melihatnya dengan harap cemas.


Blushhh


Bola masuk ring dengan sempurna, sontak semua siswa langsung meneriakkan namanya.


Zian aku pada mu


Zian is the best


Namanya makin melambung di sekolah seperti bola basketnya yang tadi.