In Memories

In Memories
part 32



"Aku Rania kita pernah sekampus dulu waktu di LA, pernah satu kelas juga." Ucapnya dengan senyum yang terus mengembang di bibirnya karena ia sangat senang bisa bertemu lagi dengan Aditya.


"Oh maaf saya lupa." Jawab Aditya.


"Iya tidak apa - apa itu kan sudah lama apalagi kita tak begitu akrab jadi wajar jika lupa."


"Hmm.." Aditya mengangguk.


"Oh iya kau CEO Erlangga Corp kan? Kebetulan aku di tugaskan untuk meeting besok di perusahaan mu. Ternyata malah bertemu di sini." ujar Rania yang sepertinya berusaha untuk membuka percakapan dengan Aditya.


"Hmm baiklah sampai bertemu besok." Aditya pamit dan membalikkan badan nya, ia ingin segera pulang dan meninggalkan acara tersebut.


Rania hanya mengangguk tersenyum, ia tak menyangka jika akan bertemu lagi dengan laki-laki yang pernah singgah di hatinya dulu.


"Aku harus mendapatkan mu tak akan aku biarkan kau lepas lagi." Ucapnya dengan senyum miringnya.


Dulu saat di kampus Aditya memang seperti tak tersentuh siapa pun yang mendekatinya tidak ada yang berhasil. Ia dulu pun sama pernah berjuang akan perasaannya tetap saja nihil seperti yang lain nya.


Kini ia sudah mulai mengerti dan berpengalaman ia merasa yakin kalau kali ini usahanya tak akan gagal seperti waktu dulu. Ia sangat percaya diri dengan apa yang ada dalam dirinya dan kehidupan nya saat ini.


***


Setelah menempuh perjalanan panjang yang memakan waktu selama 4 jam, akhirnya rombongan SMA Merdeka sampai di sekolah, dengan segera mereka membubarkan diri untuk pulang menuju rumahnya masing-masing.


Zian yang pulang ke rumah menggunakan ojol tiba di depan rumahnya dengan senyum mengembang di wajahnya ia memasuki rumah.


"Assalamualaikum orang ganteng is back." teriak Zian.


"Waalaikumsalam aduh putraku yang tampan ingat pulang juga kamu?? selama di sana kenapa nggak pernah kasih kabar ke Ibu hah?" Bu Rina yang baru datang dari dapur langsung menjewer kuping Zian.


"Aduh sakit Bu, di sana mana ada sinyal Bu. Nyari sinyal susah yang penting sekarang gantengnya Zian nggak luntur pulang juga masih utuh." jawab Zian sekenanya.


"Issh kamu ini."


"Bapak blum pulang Bu?" tanya Zian.


"Belum."


"Aku lapar Bu kangen masakan Ibu di sana makan seadanya terus nggak enak." Zian merengek mengggelayut di tangan Bu Rina.


"Iya sudah bersih - bersih dulu sana ini masakan Ibu udah sebentar lagi juga matang." Bu Rina kembali lagi ke dapur untuk memasak.


"Ko sepi Bu? Zi mana apa kuliah?"ntanya Zian sebelum ia masuk ke dalam kamar.


"Sini, Kakakmu itu sepertinya lagi ada masalah dia nggak cerita sama Ibu. Dari kemarin ngurung diri terus di kamar, ajak berantem lagi aja Ibu lebih baik lihat kalian berdebat dari pada liat salah satu dari kalian murung." Bu Rina berbisik di telinga Zian agar tak terdengar ke kamar Ziana.


"Ckk paling masalah cowok itu, patah hati kali." Zian menimpali.


"Apapun itu Ibu pengen liat Zi ceria lagi. nggak enak udah dua hari ini dia nggak kayak biasanya meski Zi nutupin tapi Ibu tau pasti ada yang nggak beres."


"Iya udah ntar aku liat Bu, sekarang mau mandi dulu makan trus bobo ganteng dulu." Zian pun berlalu ke kamarnya.


Malam hari Ziana duduk di teras rumah dengan pandangannya yang kosong, Zian yang sedari tadi memperhatikannya mencoba untuk mendekati. Ia duduk di sampingnya, Ziana yang tengah berada dalam lamunannya tak menyadari kehadiran Zian.


"Ehm ehm kemarin ayam tetangga mati gara-gara kebanyakan melamun." Zian membuka percakapan.


"Apa sih lo." Ziana tersadar dari lamunannya.


"Lo nggak kangen gue gitu?" tanya Zian.


"Lo kenapa sih? kalau ada masalah cerita ke gue walaupun mungkin gue nggak bantu banyak tapi kan seenggaknya beban lo berkurang. Lagian kita tuh saudara susah senang harus selalu ada jangan sendirian aja."


"Tumben lo otaknya bener." Ziana menoleh mencibir perkataan Zian.


"Lo nya aja yang terlalu anggap gue nothing, ada masalah apaan sih?"


"Lo tau nggak rasanya kehilangan sesuatu yang belum pernah menjadi milik lo?" tanya Ziana.


"Apaan kentut? kan belum jadi milik kita dianya udah ilang duluan." Zian menjawab konyol pertanyaan Ziana.


Ziana yang mulai memasang wajah kesal dengan bibirnya yang mengerucut dan mendelik ke arah Zian.


"Oke deh gue jawab yang benar, intinya ya ikhlasin. seberapa kuat lo genggam sampe berdarah sekalipun biar nggak lepas kalau itu bukan takdir lo pasti lepas, tapi kalau lo lepas dan lo udah lupa sama apa yang lo pegang tadi, pasti suatu saat akan jadi milik lo kembali jika itu emang takdir lo." Ucap Zian dengan wajahnya yang serius.


Ziana tersenyum mendapati jawaban dari zian.


"Ternyata lo ada gunanya juga ya."Ziana menepuk - nepuk kepala zian.


"Gue bilang juga apa, lo sih terlalu remehin gue." Zian tersenyum jumawa.


"Ish mulai deh lo, udah ah mau gue traktir bakso nggak lo?" Ziana beranjak berdiri, 2 hari yang lalu belum sempat ia makan bakso karena kejadian pahit yang ia alami membuatnya tak berselera.


"Oke siap Tuan putri yang sudah sadar dari mati surinya, mariii hamba antar untuk menikmati semangkuk bakso pelepas lara hati." Zian membungkuk kan badan nya mencoba membuat hati Ziana mencair seperti biasanya.


"Stress lo buruan ambil kunci motornyaa, gue juga mau ambil jaket dulu." ia berlari ke dalam kamarnya untuk membawa jaket.


"Siappp." Zian pun melakukan hal yang sama dengan Ziana.


***


Setelah 2 minggu sejak kejadian waktu itu Ziana berusaha untuk melupakan Aditya dengan mengalihkannya pada kesibukan agar tak ada celah sedikitpun untuk mengingat Aditya.


"Hay lagi pada ngumpul nih?" Ziana baru sampai di kelasnya saat mendapati Lena dan yang lainnya sedang berkumpul.


"Zi ntar balik kampus kita ngumpul buat ngerjain tugas kuliah ini kan per kelompok, katanya di cafe x." ujar Lena.


"Itu mau ngerjain tugas apa mau cuci mata?" cibir Ziana.


"Kan sambil menyelam minum air biar nggak tenggelam." Ucap Dion.


"Iya yang ada kembung lo." Ziana menimpali.


"Nggak apa-apa asal bareng kamu beb."Dion menggoda Ziana denga halisnya yang ia mainkan.


"Issh ogah gue." Jawab Ziana dengan menjulurkan lidahnya pada Dion.


"Eh emang bahannya udah ada gitu? apa nggak sebaiknya kita ke perpus dulu bawa buku yang sekiranya di perlukan." Bimo si kutu buku yang menjadi andalan anak-anak jika ada tugas seperti ini.


"Iya lo aja yang ngerti ntar ke perpus dulu bawa yang sekiranya bisa buat bahan." sahut Dion.


"Oh oke lah ntar gue ke perpus dulu sebelum berangkat."


"Udah ya fix berarti ntar balik kampus kita langsung ke cafe x." ujar Lena meyakinkan.


"Oke fix." serempak mereka menjawab dengan tangan jari telunjuk dan jempol yang membentuk huruf O.