In Memories

In Memories
part 12



"Akhirnya selesai juga mata pelajaran hari ini, gue eneg bangat sumpah dari tadi liat angka!!" seru Luki.


"Halah lo tuh di setiap pelajaran juga selalu bilang eneg." Dimas menoyor kepala Luki.


"Emang bener sih gila aja 3 jam pelajaran sekaligus full ngitung.,sampai jereng ini mata." Darma ikut menimpali.


Zian hanya menggelengkan kepalanya mendengar keluhan teman-temanya.


Saat mereka tengah asik mengobrol, dari arah pintu kelas datang lah seorang wanita cantik dengan teriakan nya yang sangat khas.


"My boy Zian, kantin yu." Frida gadis yang tak pernah menyerah dengan perasaannya itu.


Zian memutar bola matanya jengah, setiap jam istirahat pasti selalu di datangi Frida ke kelasnya.


Maka dari itu kadang Zian selalu langsung ke kantin jika bel istirahat berbunyi. Tapi sih percuma saja di kantin pun Frida selalu bisa menghampirinya.


"Ayo dong Zian makan bareng gue yu." Frida mulai berjalan menghampiri Zian yang masih duduk di bangkunya.


"Tuh di panggil sama ayang beb lo, jangan pura-pura budek lo." Luki tersenyum mengejek Zian.


"Berisik lo!!" ketus Zian.


"Ngapain sih lo ke sini terus." Zjan berdiri untuk meninggalkan kelas karena perutnya sudah sangat lapar.


"Iya kan mau ngajak lo ke kantin."


"Emang lo nggak punya temen." ketus Zian.


"Kantin yu." Zan mengajak teman - temanya yang dari tadi masih memperhatikan ke dua pasangan yang sama-sama pada pendiriannya. Yang satu tetap mau dan yang satu tetap nggak mau.


Mereka serempak berdiri meninggalkan kelas. Frida tidak tinggal diam baginya penolakan Zian merupakan hal yang biasa.


Mereka berjalan menuju kantin untuk mengisi perut, sebelum berkutat lagi mengahadapi mata pelajaran selanjutnya.


***


"Ma..maafin aku Kak Ditya." wajah Ziana sudah sangat pucat, ia tau kecerobohannya kali ini sangat fatal.


"Kamu tau bukan harga laptopnya bisa saya ganti berapa kali pun saya mau. Itu mudah bagi saya tapi isinya." Aditya menekan setiap ucapannya tanda ia sangat mengatur emosinya untuk tak meluapkan emosinya dengan langsung kepada Ziana.


"Lalu apa yang harus aku lakukan?" Ziana yang tak mengerti lagi harus berbuat apa, lebih baik bertanya langkah apa yang harus ia ambil untuk kerusakan laptop milik Aditya dari pada ia salah lagi.


"Apa kamu mampu mengganti laptop dan isinya?" tanya Aditya menatap dalam Ziana.


Ziana hanya mampu menggelengkan kepalanya.


"Jadi apa yang akan kamu tawarkan?" Aditya melanjutkan ucapan nya lagi dengan menyilangkan tangannya di depan dada.


"Aku akan melakukan apa pun untuk bisa bertanggung jawab dengan apa yang sudah aku buat." Ziana hanya mengucapkan apa yang ada di dalam otaknya karena saat itu pikiran nya sudah buntu.


"Baiklah."


"Kamu harus mengikuti semua aturan saya dan apa pun yang saya minta tanpa ada nya bantahan!!" ucapan Aditya dengan wajahnya yang dingin menatap tajam Ziana.


Bagus kamu sudah masuk jebakan ku.Maaf aku harus melakukan ini karena terpaksa.


Flash back on


"Iya Tuan ada yang bisa saya bantu?" Angga memasuki memasuki ruangan Aditya setelah sebelumnya ia di panggil ke dalam ruangan nya.


"Ziana pasti datang kemari, cek cctv lobby jangan sampai lengah kabari aku jika dia datang dan kamu sendiri yang harus mengantarkannya ke ruangan ku." jelas Aditya menyampaikan perintahnya.


Ia duduk di kursinya dengan tangan menopang dagu pada kursinya.


"Baiklah Tuan." ucap Angga dengan membukuk kan badan nya ia pun pergi menuju bagian cctv dan menyuruh petugas cctv agar memberi tahu jika ada wanita seperti di foto, yang ia berikan kepada petugas tersebut.


Tak lama setelah itu ada pemberitahuan dari Angga bahwa Ziana ada di lobby. Dengan segera Aditya mengganti laptopnya dengan laptop yang rusak yang ada di laci nya.


"Binggo." seru Aditya di dalam hati nya.


Flasback off


"Kamu harus menjadi pacar ku di depan ke dua orang tua ku."


"Apa!!" teriak Ziana tak percaya dengan hal yang menurutnya konyol keluar dari mulut seorang Aditya.


"Hanya pura - pura." Aditya menekan setiap kalimatnya agar Ziana mengerti.


"Tapi apa tidak ada yang lain?" tanya Ziana yang masih sedikit bingung dengan ucapan Aditya, ia masih berdiri di dekat meja.


Sumpah demi apa pun, apa gue nggak salah denger. banting gue dong!! mimpi bukan sih gue? jangankan pura-pura, pacar beneran aja gue mau, mau banget malah. Tapi gue takut jika hanya seperti ini, gue takut jatuh cinta beneran sama Kak Ditya.


"Kamu sudah berjanji." jawab Aditya datar.


"Ah baiklah aku setuju." dengan cepat Ziana menjawab.


"Dan kamu harus selalu ada di setiap saya butuh kamu, untuk menjalankan sandiwara ini."


"Iya baiklah." Ziana mengangguk.


Mom kau membuat ku melakukan hal konyol yang bahkan di otak ku saja tak pernah terlintas untuk bisa melakukan semua ini, merepotkan.


"Apa masih ada lagi yang lain?"


"Tidak ada." ucap nya kembali.


Drttttt...drtttt


Ponsel aditya berbunyi dan ia pun langsung mengambil ponselnya dan menjawab panggilan itu..


"Hallo Mom"


"Hey anak nakal ingat janji mu."


"Iya Mom aku tidak lupa."


"Kapan kau mengajaknya ke mansion?"


"Ia ada di sini Mom."


Tiba- tiba panggilan terputus dan berubah menjadi sambungan video call


"Ckkk dasar Mom" gumam Aditya.


"Mulai dari sekarang." Aditya berdiri dan menarik tubuh Ziana dalam dekapan nya, dan mulai menjawab panggilan dari Mommy Irene.


Jantung pliss stop udah jangan lompat-lompat terus kenapa? Gerakan nya yang sopan aja. Malu gue baru mau menjalankan misi gue udah meleleh banget ini.


Ziana tidak fokus ia terus berusaha menormalkan hati dan pikirannya.


***


Mom Irene yang sudah sangat tidak sabar dengan calon menantunya itu yang sebenarnya sudah ia tau dari anak buahnya yang ia perintahkan untuk mencari tau sedetail mungkin informasi tentang gadis itu. Ia tidak ingin putra nya salah pilih maka dari itu dengan secepatnya ia langsung memerintahkan anak buahnya.


Ia tidak pernah mempermasalahkan status sosial yang terpenting asalkan ia dari keluarga baik- baik. Ternyata ia merasa mendapatkan kupon undian berhadiah yang ia tau banyak nilai plus dari gadis itu, dari sana ia sangat yakin bahwa Ziana sangat cocok dengan putra kesayangan nya itu.


Mom yakin ia adalah jodoh mu Ditya kalian pasti di takdirkan untuk berjodoh kalau pun tidak Mom yang akan menjodohkan kalian. Ah Mom suka sekali gadis itu ia pasti kan membuat hari mu lebih berwarna sayang, akan Mom pastikan ia menjadi milik mu.Tunggu saja kejutan Mom.


Mom irene yang telah mendapatkan informasi tentang kehidupan Ziana duduk dengan wajah berseri.


"Aku akan menelpon Ditya, ah benar menanyakan kapan akan membawa calon mantu ku mansion."


Dengan langkah cepat Mom pergi ke dalam kamar nya untuk mencari benda pipih itu, setelah itu ia mulai menelpon Aditya.