
Esok harinya merupakan hari pertama Aditya untuk langsung pergi ke rumah sakit, untuk melakukan berbagai macam tes sebelum operasi sumsum tulang belakang. Tidak ada waktu untuk sekedar berjalan - jalan menikmati keindahan kota Swiss karena ini bukan perjalanan untuk berlibur melainkan perjalanan pengobatan yang bahkan tidak tau hasil akhir yang akan di dapat.
Saat ini Aditya dan Ziana beserta Mom Irene juga Dad Gamma tengah berada di rumah sakit. Aditya langsung mendapat penanganan medis terbaik yang ada, sama halnya dengan Mom Irene dan Dad Gamma saat ini mereka pun tengah melakukan serangkaian tes untuk melihat siapa pendonor yang paling cocok untuk Aditya.
Kasih sayang orang tua pada anak memang tak pernah ada batasan, begitulah yang saat ini di lakukan oleh kedua orang tua Aditya. Mereka tengah mengupayakan kesembuhan putra mereka meski harus merasakan sakit karena serangkaian tes yang di lakukan tapi itu tak sebanding jika anak yang di sayangi bisa sembuh seperti sedia kala.
"Suamiku, kau pasti bisa bersemangatlah. Kita sudah sampai sejauh ini, aku yakin semuanya akan baik - baik saja." Ziana menggenggam tangan Aditya.
"Tentu sweety." Ucap Aditya tersenyum manis dan mengeratkan genggaman tangan istrinya.
"Kau pasti jenuh kan sweety?"
"Tidak bersama denganmu, aku tak pernah merasa jenuh walau di rumah sakit sekalipun."
"Tidurlah, jangan terlalu banyak bicara kau pasti lelah."
"Ya aku sedikit mengantuk." Tak berapa lama terdengar dengkuran halus dari nafas Aditya, ia sudah terlelap dalam tidurnya.
Pintu kamar di buka dari luar, dan masuklah Mom Irene dan juga Dad Gamma yang sudah selesai melakukan medical tes. Bagi orang sehat mungkin hanya melakukan medical tes tak langsung membuat tubuh merasa lelah tapi bagi Aditya itu sangat membuatnya lelah dan mengantuk. Mungkin juga pengaruh dari obat yang di konsumsi.
"Bagaimana keadaannya sayang?" tanya Mom Irene.
"Stabil Mom, Kak Ditya jadi sering mengantuk mungkin karena pengaruh obat." jawab Ziana.
"Ah syukurlah, jika kau bosan keluarlah cari udara segar sayang atau bahkan hanya sekedar beli makanan di kantin rumah sakit."
"Tidak Mom, aku lebih suka di sini."
Bagaimana aku bisa jalan sendirian di luar sana? bahasa inggrisku saja tidak terlalu bagus, apalagi bahasa sini bisa mati berdiri karena bingung atau bahkan yang lebih parah aku tersesat dan di culik mafia. Tidak lebih baik aku diam di sini menemani suamiku itu lebih baik.
"Jika begitu Mom dan Dad akan keluar sebentar, tidak apa - apa jika kau di tinggal sendirian?" tanya Dad Gamma.
"Tidak apa Dad."
"Baiklah kalau begitu kami pergi dulu." Mom Irene dan juga Dad Gamma pun pergi meninggalkan ruang rawat Aditya.
Kini dalam ruangan besar yang begitu mewah dengan fasilitas seperti tengah berada di kamar hotel, Ziana termenung sendirian. Sebenarnya ia sangat membenci jika harus di tinggalkan sendirian seperti ini, semenjak tau jika Aditya sakit ia selalu membayangkan hal tidak - tidak. Pikiran negatifnya selalu datang silih berganti jika ia tengah sendirian.
Drrrt..drttt
Ponsel Ziana bergetar dan dengan segera ia mengangkatnya.
"Hallo Len ada apa?" tanya Ziana begitu menerima panggilan telpon.
"Lo di ruangan mana sih?
"Gue di ruangan lantai paling atas, hanya ada 3 kamar di lantai ini nah ruangannya no 1.Tunggu ngapain lo nanyain ruangan? emang lo di sini?" tanya Ziana heran.
"Iya gue di rumah sakit ini, tunangan gue oneng banget coba gue di tinggal sendiri. Tadi dia ketemu temennya yang bule kebablasan ngobrol sampai dia lupa kalau lagi bawa gue." Lena nyerocos tak henti mengungkapkan kekesalannya terhadap Bara.
"Lo tuh yah pasangan aneh tau nggak? ada aja masalah di antara kalian. Ya udah sih buruan ke sini gue tunggu."
"Ok i'm coming baby." teriak Lena dengan setengah berlari ia pun memasuki lift untuk bisa sampai di ruangan Aditya.
Tok..tok..tok
"Masuk." teriak Ziana.
Pintu kamarpun terbuka dan terlihat binar bahagia dari wajah Lena seakan mendapatkan oase di padang pasir. Dengan cepat ia menghampiri sahabatnya dan memeluknya seolah mereka tak bertemu dengan waktu yang cukup lama.
"Akhirnya ku menemukanmu."
"Lo pikir judul lagu." Ziana pun menepuk pundak Lena.
"Mana Kak Bara?" Ziana mencari Bara di belakang Lena.
"Tau ah gue tinggal kesel gue, biarin aja biar dia pusing nyariin gue. Kalau dia nelpon jangan lo angkat Zi." Lena yang tengah kesal lalu menumpahkan segala kekesalannya pada sahabatnya.
"Eh iya gimana keadaan Kak Ditya?"
"Baik kok tinggal nunggu hasilnya, jika sudah di dapat hasilnya mungkin beberapa hari kemudian bisa langsung operasi."
"Syukurlah semoga semuanya berjalan dengan lancar dan Kak Ditya bisa sembuh secepatnya."
"Amin, semoga doa dan ikhtiar kita membuahkan hasil. Kalian kok bisa di sini dengan cepat sih? bukannya Kak Bara bilang jika nanti menyusul setelah beres semuanya dan mengambil cuti lebih dulu?" tanya Ziana yang merasa heran dengan adanya sepasang kekasih rusuh yang sudah ada di swiss menyusul dirinya.
"Bukan Kak Bara namanya jika dia tidak aneh, aku pun tak tau kemarin setelah melakukan operasi dia menjemputku dan mengatakan jika kita akan langsung terbang ke swiss."
"Oh begitu."
Pintu ruangan terbuka dan memperlihatkan Bara yang tengah berusaha mengatur nafasnya dengan baik, sepertinya ia telah berlari dengan cepat karena terlihat jika ia begitu kelelahan.
"Kau ini mengapa pergi begitu saja?" tanya Bara pada Lena yang tengah duduk manis dengan menatap sinis Bara.
"Kau bicara padaku? sekarang kau baru ingat jika kau datang bersamaku?" Lena menunjuk wajahnya sendiri dengan menyipitkan matanya kesal.
"Iya baiklah aku minta maaf telah mengabaikanmu, tapi setidaknya kau angkat telpon dariku, tadi aku begitu khawatir padamu. Ini swiss dan aku takut kau tersesat."
"Oh jika bukan di swiss kau tak akan mencariku begitu?"
"Ya Tuhan salah lagi, lebih baik aku berbicara dengan kudanil mungkin dia tak akan melawan dari pada aku harus berdebat dengan wanita." guman Bara mengacak rambutnya frustasi.
"Kau mengatakan sesuatu?"
"Tidak, aku hanya sedang merutuki kesalahanku tadi."
"Baguslah jika kau sadar."
"Iya aku yang salah." ucap Bara dan kini mereka pun duduk di kursi yang sama setelah sebelumnya hanya berdiri di samping Lena.
Ziana hanya tersenyum melihat kedua pasangan rusuh yang ada di hadapannya. Mungkin karena suara berisik Aditya pun mengerjapkan matanya dan mulai tersadar dengan sekelilingnya.
"Ternyata kau datang ke sini lebih cepat dari perkiraanku." ucap Aditya begitu ia terbangun.
"Kau harus merasa bangga karena kau, aku yang sibuk ini bisa langsung ke sini di sela jadwalku yang padat." ucap Bara tersenyum dan menggerakan kedua alisnya.