In Memories

In Memories
part 98



Malam ini adalah malam yang di tunggu oleh duo Oma yang mengaku masih muda, mereka saat ini tengah berbahagia karena sebentar lagi persahabatan yang telah lama terjalin akan segera terikat menjadi sebuah ikatan keluarga. Saat ini merupakan malam pertunangan Bara dan Lena yang di selenggarakan secara sederhana menurut keluarga mereka, tapi bagi keluarga biasa itu seperti acara pesta pernikahan.


Meski semua persiapan tidak ada campur tangan kedua calon mempelai tetapi tetap saja mereka meminta untuk tak melakukan acara yang mewah karena bagi mereka ini hanya acara pertunangan jadi Lena juga Bara sepakat agar acara berlangsung sederhana.


"Lo cantik banget calon manten." Ziana menatap Lena yang tengah selesai di rias, dan kini mereka tengah berada di kamar Lena.


"Masih jauh kali." ucap Lena yang tengah bercermin melihat hasil riasan yang sejak hampir dua jam wajah dan rambutnya menjadi manekin bagi MUA, agar terlihat tampil anggun di hadapan para tamu undangan yang hadir. Kini ia memakai gaun kebaya dengan warna tosca yang begitu pas di badannya yang ramping, dengan tampilan make up flawless agar penampilannya makin sempurna.


"Terserah lo Dah!" Ziana pun duduk di tempat tidur Lena dengan penampilan yang berbeda dari biasa nya, karena ini merupakan acara pertunangan sahabatnya maka ia pun tampil dengan sangat cantik menggunakan kebaya yang hampir mirip dengan Lena. Karena memang semua keluarga saat ini memakai kebaya untuk acara resmi Lena juga Bara.


"Inget ya lo tuh sekarang udah ada yang punya Len, jangan berbuat suka hati lo terus kalau ada apa - apa ya di omongin baik - baik biar nggak ada dusta di antara kalian."


"Nyanyi lo?" cibir Lena.


"Gue lagi kasih wejangan buat lo dodol tapi kenapa nyambungnya ke lagu ya, ah segitu juga udah dapet mikir gue Dah."


"Apa semua sudah siap?" tanya MUA yang di suruh untuk memanggil Lena ke tempat acara.


Ziana dan Lena hanya mengangguk sebagai jawaban, mereka pun kemudian berjalan keluar, sebagai pendamping Ziana pun mengapit Lena berjalan menuju tempat acara.


Setelah itu acara pun di mulai dengan tak hentinya Bara yang terus mencuri pandang melihat calon tunangan nya yang terasa berbeda saat ini, ia begitu tak menyangka jika gadis yang selama ini menjadi teman debatnya kini terlihat diam dan anggun dengan balutan kebaya yang membuatnya tampil semakin elegan.


Nggak nyangka gue ternyata titisan siluman Lele bisa berubah wujud juga, di liat saat ini sih seperti gadis ningrat yang sangat jarang bicara sangat cantik tapi liat saja nanti pasti kembali ke wujud asalnya.


Sekarang adalah giliran Bara yang akan mengungkapkan isi hatinya pada Lena, ia di sikut oleh Aditya yang kini duduk di belakang Bara.


"Ngomong lo bro apa mau gue wakilin juga? otak lo ntaran aja suruh ke rest area dulu jangan traveling terus." bisik Aditya dengan suara yang berbisik di telinga sahabatnya itu.


"Kamp*ret diem lo!" jawab Bara dengan suara pelan dan ia pun menghela nafas panjang, kemudian ia pun mulai untuk mengeluarkan kata pertama di acara penting hidupnya itu.


Di sana telah duduk kedua orang tuanya dan juga Bara dengan ke dua orang tuanya, posisi mereka kini tengah duduk dengan saling berhadapan. Sementara ke dua Oma yang menjadi orang yang paling berperan sampai acara ini berlangsung tengah duduk berdua di pojok ruangan dengan saling berbisik juga sesekali tertawa pelan melihat ke dua keluarga yang sebentar lagi akan bersatu.


"Untuk calon istriku yang kini ada di hadapan ku, aku memang tak bisa seratus persen menjadi yang kau harapkan untuk mu tapi aku punya sembilan puluh tujuh persen untuk menjadi laki - laki yang kau harapkan, aku hanya ingin kau bersedia menjadi pendamping hidup ku baik suka maupun duka, untuk selalu berpegangan tangan sampai tua nanti, maukah kau menerima lamaran ku?" ucap Bara panjang lebar dengan mengingat semua tulisan yang semalam ia buat dan di hapalkannya, karena Bara tidak ingin mempermalukan dirinya sendiri juga keluarganya. Maka semalam ia pun membuat tulisan untuk ia ucapkan hari ini meski jauh dari kata romantis bahkan terkesan narsis.


Apa aku tak salah dengar dia melamar ku dengan gayanya yang sangat percaya diri. Sudah ku duga si dokter sombong itu memang selalu membuat tensi ku naik.


Lena pun tersenyum canggung dengan menatap tajam Bara, sedangkan yang di tatap hanya mengedikan bahu dengan gaya santainya.


Rasakan balasana dar ku.


Kau memang wanita yang tak bisa ku tebak seoalu bisa membalikan keadaan, baiklah lihat saja nanti ke depannya akan seperti apa.


Dengan di terimanya lamaran oleh pihak wanita maka dengan serempak seluruh tamu undangan juga kelurga yang hadir pun ikut bertepuk tangan. setelah itu mereka pun saling bertukar cincin sebagai tanda pengikat di antara mereka.


Setelah semua acara berakhir dan tamu undangan pulang, kini Bara, Lena, Ziana juga Aditya tengah duduk di taman belakang untuk sekedar berbincang sebelum pulang.


"Selamat ya Lena sayang akhirnya udah sold out semoga lancar sampai hari H, semua kriteria yang lo mau ada sama dokter Bara." ucap Ziana dengan memeluk Lena sebagai ungkapan dari rasa bahagianya.


"Apaan sih lo." Lena mengerucutkan bibirnya kesal.


"Lah kan tadi lo bilang mau nerima yang sembilan puluh tujuh persen itu lo, udah masuk kriteria kan." Ziana terus menggoda Lena.


"Iya in aja kenapa kan memang itu faktanya." Sahut Bara dengan menyeruput minumannya.


"Helo pak dokter yang terhormat tolong di catat jangan terlalu percaya diri, itu poin utama yang harus di tulis kalau bisa kertas tulisannya di bakar terus di kocek pakai kopi di minum sampai abis. Pasti ga akan lupa lagi aku jamin itu." ucap Lena dengan menyipitkan matanya ke arah Bara.


"Aku pikir kalian cocok." ujar Aditya yang dari tadi hanya diam menyimak.


"Apanya!!" Lena dan Bara kompak menjawab dengan setengah berteriak.


"Tuh kan bisa kau lihat sweety." Aditya tersenyum ke arah istrinya yang kini tengah menatap geli pasangan yang tak pernah terlihat akur itu.


"Kau benar suami ku."


"Cih kalian berdua memang menyebalkan." ucap Bara yang kin berdiri dari duduknya.


"Kau mau kemana jangan seperti anak kecil begitu saja kau marah." Aditya tak henti meledek Bara.


"Aku mau ke toilet, puas! apa kau mau ikut? Ah sepertinya kau kangen denganku sayang, sini kemari lah." Bara terus mendekati Aditya.


"Hentikan itu sangat menjijikan!"


"Ayo kemari lah." Kini giliran Bara yang berhasil membalikan keadaan, ia yang kini membuat Aditya tak betah dan menarik paksa istrinya untuk pulang.