
Drrrrrt...drrrt
"Hallo Mom" Aditya mengangkat telponnya.
"Ditya besok malam Mom tunggu kalian makan malam di mansion." Mom Irene langsung menodong Aditya jika tidak seperti itu ia tidak akan pernah mau.
"Tapi mom, Ditya besok ada ketemu klien." ucapnya beralasan.
"Mom tidak mau dengar alasan apa pun, pokok nya besok malam mom dan dad tunggu kamu di mansion." Mom Irene pun mematikan sambungan telpon.
"Kenapa Mom begitu keras kepala."
Aditya turun dari tempat tidur dan berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya setelah selesai, ia bersiap- siap untuk pergi bekerja.
Selama di perjalan ia berpikir bagaimana cara nya ia mengatakan pada gadis berisik itu, ternyata dewi fortuna sedang berpihak pada nya. Di tengah jalan yang memang searah dengan perusahaan nya ia melihat Ziana, dan langsung menghentikan mobilnya untuk turun dan berbicara dengan Ziana.
Dan ini entah pertemuan keberapa kalinya yang tidak di sengaja.
Setelah selesai berbicara dengan Ziana bahwa ia akan menjemputnya siang nanti, ia pun melajukan lagi mobilnya untuk menuju Erlangga Corp. Dengan senyum tipisnya ia mengingat bagaimana ekspresi wajah gadis itu.
"Lucu." gumam nya.
Tak berapa lama sampai lah aditya di perusahaan nya, ia turun dari mobil dan menuju lift. Setelah sampai ia berjalan menuju ruangan nya.
"Selamat pagi Tuan." Sekertaris Angga menyapanya.
"Hmmm.. " Aditya mengangguk dan langsung menuju tempat duduknya.
"Siapkan semua yang tadi malam saya pesan, sebelum jam istirahat."
"Baik Tuan akan saya kerjakan." jawab Angga.
"Kalau begitu saya permisi tuan." Angga membungkuk kan badan nya kemudian berlalu pergi.
***
Sementara itu kampus Ziana.
"Ziana sayang kangen banget gue." Lena langsung memeluk Ziana begitu Ziana duduk di sampingnya.
"Apa sih lo ah, emang kita nggak ketemu berapa abad hah?" Ziana melepaskan pelukan sahabat nya itu.
"Ish lo tuh, eh ko bisa bareng si Dion?" Lena memicingkan matanya dan melihat ziana juga dion.
"Kita ketemu di depan." jawab Ziana
"Gue kira pasangan baru tadinya mau minta traktir gue ternyata.."
"Ngarep banget gratisan, kan lo kaya Odah." Ziana menoyor kepala Lena.
"Jangan salah lo liat emak-emak kalau belanja meski kaya tetep aja paling doyan diskonan apalagi gratisan."
"Terserah lo dah."
"Eh Zi tadi ada yang ke sini nanyain lo." lanjut Lena
"Siapa?"
"Lo pasti nggak percaya Evan Marcello."
"Apa? Ngapain?" Ziana yang sedang memainkan ponselnya langsung diam dan memperhatikan Lena.
"Dia nggak ngomong apaan sih cuma ke sini terus nanyain lo." Lena mengedik kan bahu nya.
"Woless lah cinn lo jangan celebek alias clbk ya jangan goyah lo buktiin sama hati lo kalu lo udah move on meski kata orang cinta pertama itu susah untuk di lupakan dan indah untuk di kenang." Lena menyemangati Ziana dengan menepuk - nepuk pundaknya
"Iya lah udah selow juga sih gue, cuma jadi gemes aja gitu. Udah sekian lama kenapa muncul lagi. takdir kaya nya senang banget bikin gue bimbang." lirih Ziana.
Tak berapa lama dosen pun datang dan memulai mata kuliah nya. Selama mata kuliah berlangsung pikiran Ziana bercabang dengan memikirkan 2 pria yang hari ini tengah mencarinya. Yang satu cinta pertama nya yang satu cintanya yang akan datang mungkin.
"Zi pulang yu." ajak Lena.
"Lo duluan aja ya gue tadi udah bilang mau bareng Zian." ucapnya bohong mana mungkin ia mengatakan kalau akan di jemput aditya, ia belum bisa untuk menceritakan yang sebenarnya pada lena.
"Emang Ziaan udah balik? ini kan masih siang Zi." Lena melihat jam tangannya karena waktu menunjukan pukul 11.
"Iya katanya gurunya ada rapat jadi siswa nya di pulangkan."
"Oh gitu tadinya gue mau ngajak lo jalan tapi ya udah lain kali aja deh."
"Iya sorry ya soalnya abis ini gue di suruh ibu belanja." Ziana sebenarnya tak enak baru kali ini ia tidak terbuka kepada Lena.
"Kalemin aja sih mun tegang amat." Ia mencucit pipi sahabatnya itu.
"Kalau gitu gue duluan ya, apa lo mau gue nungguin lo sampe Zian datang?" Lena yang hendak pergi duduk kembali setelah ia berpikir untuk menunggu Ziana.
"Nggak usah len ntar lagi juga tuh anak datang."
"Oh ya udah gue pamit ya, bye." Lena melambaikan tangan dengan berlalu pergi dari hadapan Ziana.
"Untunggg aja." Ziana menarik nafas pelan.
"Gue nunggu dimana ya di kelas udah mulai kosong, ah ke perpus aja dulu ngisi waktu satu jam lagi dari pada nggak ada kerjaan."
Ziana pun berjalan menuju perpustakaan yang ada di sebelah taman kampus, taman sering juga di pakai mahasiswa untuk membaca buku atau sekedar berdiskusi di atas hamparan rumput. Di taman juga tersedia beberapa bangku taman, jika udara sedang tidak panas dan angin yang bertiup sepoi - sepoi akan banyak mahasiswa yang memilih taman menjadi tempat untuk bertemu.
Hampir satu jam ia berada di perpus memilih buku yang ada membuat nya pusing jika harus terus membaca buku yang berkaitan dengan materi perkuliahan. Yang ada ia kembali melanjutkan membaca novel online agar tidak terlalu berat bacaannya.
Saat tengah asik membaca tiba-tiba ponsel nya bergetar dari no yang tidak di kenal maka ia abaikan tak lama kemudian no yang sama kembali menghubunginya.
"Ini siapa sih gue nggak kenal no nya dan lagi ini kan no baru, kok bisa? tapi angkat aja deh siapa tau penting." gumam Ziana.
"Hallo ini si..." belum sempat Ziana bertanya suara di seberang langsung memotongnya.
"Cepat ke depan saya tunggu 10 menit." panggilan pun di putus oleh si penelpon yang ternyata Aditya.
"Isssh ini orang suka seenaknya aja." Ziana menutup bukunya lalu beranjak pergi dan berlari untuk secepatnya sampai di depan kampus.
Setelah sampai ia lalu melihat sebuah mobil sport merah lamborghini aventador svj roadster grigio telesto yang sedang terparkir di depan kampus tak lain pemiliknya adalah Aditya.
Tok..tok..tok
Ziana mengetuk kaca samping mobil tersebut dan langsung membuka pintu mobilnya, begitu kaca mobil itu di buka. Ia langsung duduk di kursi penumpang.
Ya Tuhan ini pertama kalinya naik mobil sport, kemarin bukan yang ini mobilnya kok sekarang beda lagi, dasar orang kaya!! makin insecure gue, kecil banget gue buat dia, tapi gue makin nggak bisa nolak pesona ini patung es gimana dongg? lanjut apa mundurr .
"Telat 1 menit 3 detik." aditya mengangkat tangannya melihat jam di tangannya.
"Ya ampun cuma satu menit doang, ini aku udah lari sampe ngos-ngosan gini lho." Ziana mengatur nafasnya setelah tadi ia berlari.
"Emang kita mau kemana sih?"
Aditya tak menjawab pertanyaan Ziana, ia langsung melajukan mobil sport nya.