
Setelah drama evakuasi dua orang wanita mabuk yang berhasil di bawa ke rumah masing - masing, kini Aditya tengah membersihkan tubuh istrinya agar nyaman saat ia tertidur. Ia menelan saliva nya dengan susah payah saat melihat kemolekan tubuh istrinya yang kini tanpa sehelai benang pun untuk ia bersihkan dan menggantinya dengan pakaian yang baru.
"S*hitt!! aku harus tetap fokus untuk membersihkannya, tenang Ditya ini hanya sebentar nanti kau bisa merasakannya lagi setelah situasi aman." gumam Aditya dengan tangan yang kini mengelap kembali badan Ziana dan menggantinya dengan pakaian rumah yang bersih.
Setelah itu ia pun berbaring di samping istrinya untuk ikut terlelap memeluk tubuh istrinya yang tadi menangis dengan waktu yang lama sehingga mata nya terlihat bengkak.
"Kau tak perlu meragukan kesetiaan ku sweety, aku tak akan pernah mengkhianati mu. Tapi dengan kejadian ini aku jadi tau jika kau benar - benar cinta pada ku." Aditya tersenyum dengan mengelus pipi putih istrinya. Ia pun ikut terlelap dengan memeluk tubuh Ziana setelah sebelumnya ia membersihkan dirinya akibat muntahan Ziana.
Sementara itu di rumah lainnya, Bara yang kini tengah sampai di depan pintu rumah Lena dengan menggendongnya ala bridal style. Bara menerobos masuk setelah melihat Oma Rita yang tengah duduk di ruang tamu.
"Cucu mantu ku apa yang terjadi hah? kenapa dengan Lele?" Oma Rita terlihat panik melihat kondisi Lena yang tak sadarkan diri dengan di gendong oleh Bara.
"Dia mabuk Oma, ini di mana kamarnya Oma?" Bara yang sudah sangat berat menahan beban tubuh Lena karena Oma yang terus mengajaknya berbicara.
"Ah tidurkan di kamar Oma saja kamarnya ada di atas, Oma takut pinggang mu akan patah jika harus menggendongnya sampai atas. Ayo ikut Oma." Oma pun berjalan dengan di ikuti Bara dengan memutar bola matanya jengah mendengar ucapan Oma Rita.
Setelah membaringkan Lena di kamar Oma, Bara pun pamit untuk pulang karena ia juga harus membersihkan tubuhnya yang terkena muntahan Lena tadi di tempat karaoke. Jika bukan calon tunangannya yang sedang mabuk ia pasti akan menyuruh orang lain untuk mengantarkannya pulang, apalagi berurusan dengan wanita yang selalu membuatnya malas.
"Tunggu sebenarnya apa yang terjadi? apa kalian bertengkar?" Oma yang penasaran terus saja bertanya pada Bara.
Bara pun menceritakan kejadian yang sebenarnya dari mulai ia di telpon untuk datang membawa Lena dan kejadian di dalam tempat karaoke.
"Cucu kurang asem bikin malu saja, jangan sampai ini menjadi nilai minus Lele di mata mu ya cucu mantu ku. Pasti ada alasan kenapa dia seperti itu." Oma menepuk pelan pundak Bara.
"Oma tenang saja." ucap Bara tersenyum dan setelah itu ia benar- benar pamit untuk pulang karena ia merasa bau nya sudah sangat menyengat hidungnya dan membuatnya ikut mual, meskipun Oma memintanya untuk membersihkan diri di rumahnya tapi Bara beralasan jika ia harus pergi ke rumah sakit karena akan ada tindakan operasi.
"Dasar wanita bar - bar selalu membuatku sial, Tuhan apa benar dia yang kau kirimkan untuk menjadi pendamping hidupku? akan seperti apa kehidupan yang akan kita jalani nantinya." gumam Bara saat ia tengah di dalam mobil dengan menghela nafasnya yang terasa berat akan pilihannya itu.
Kemudian ia pun melajukan mobilnya meninggalkan rumah Lena untuk segera sampai di mansionnya. Ia yang sudah membayang kan bath up dengan sabun yang melimpah dan lilin aromatherapy agar pikirannya sedikit rileks, yang Bara inginkan saat ini hanya berendam lalu tidur agar hati dan pikirannya bisa segar kembali setelah bangun tidur nantinya.
***
Setelah beberapa jam tertidur Ziana pun membuka matanya yang terasa berat dan seketika ia memegang kepalanya yang juga sama terasa berat.
"Ah kepalaku." Ziana mencoba untuk bangun namun kepalanya tak bisa ia ajak berkompromi.
"Kepala mu pasti berat, jangan bangun dulu sebentar." Aditya terbangun mendengar suara Ziana dengan segera ia pergi ke dapur untuk membuat air jahe dan madu untuk Ziana.
"Minum lah agar pengar nya segera hilang." Ucap Aditya.
Dengan segera Ziana pun mengambil cangkir yang di berikan Aditya dan meminumnya. Setelah itu Aditya menata bantal di belakang tubuh Ziana agar istrinya bisa bersandar dengan nyaman.
"Kenapa kau mabuk, hmm?"
"Lagi pengen aja." jawab Ziana yang sebenarnya ini merupakan pertama kalinya bagi Ziana juga Lena menenggak minuman beralkohol.
"Dengar sweety jika ada yang mengganjal di hati mu, keluarkan saja aku ini suami mu tempat mu berbagi dan tempat mu bersandar."
"Jika masalah ku adalah suami ku sendiri." Ziana mencoba menatap Aditya yang kini juga tengah menatapnya.
"Sweety dengar jangan mudah percaya dengan apa yang kau lihat tanpa mencari tau bukti yang sebenarnya. Aku tak pernah mengkhianati mu." Aditya mengambil ponselnya dan menyerahkan bukti video yang sebenarnya terjadi, dan juga foto yang Ziana terima itu hanya lah sebuah editan saja. Mudah bagi Aditya untuk mencari buktinya karena ia mempunyai tangan kanan yang sangat bisa di andalkan.
Melihat semua bukti itu Ziana tersenyum simpul, ia mencurigai suaminya dengan sebelah pihak tanpa menyelidiki nya terlebih dahulu. Mungkin karena usianya yang masih labil dan juga ini merupakan hubungan yang pertama baginya sehingga tidak bisa membuatnya berpikir jernih.
"Apa ini bisa di percaya?" tanya Ziana.
"Kau ingin aku menyeret wanita itu di hadapan mu untuk menjelaskan semuanya? tak masalah bagiku asal kau bisa lega dan percaya lagi pada ku." Ucap Aditya dengan senyuman yang membuat hati Ziana menghangat.
"Tidak perlu aku percaya pada mu, maafkan aku suami ku." Ziana pun memeluk erat suaminya, ia merasa menjadi wanita paling bodoh begitu cemburu melihat hal yang sebenarnya tak perlu ia risaukan.
"It's ok sweety, dengan begitu aku tau jika kau benar mencintai ku. Aku sangat bahagia." Aditya membalas pelukan istrinya yang kini menangis haru karena sikap tenang Aditya pada Ziana.
"Apa sekarang kau yang meragukan ku?" Ziana mencubit pinggang suaminya membuat Aditya meringis.
"Kau menggoda ku, hmm?"
Kemudian di angkatnya dagu Ziana hingga mereka saling menatap, di detik berikutnya Aditya mencium lembut bibir istrinya yang begitu menggoda baginya. Ciuman yang lembut itu berubah menjadi ciuman menuntut yang terus berlanjut sampai penyatuan dua insan yang tengah di mabuk asmara.
Setiap pertengkaran suami istri biasanya akan menjadikan mereka lebih kuat menghadapi biduk rumah tangga yang sebenarnya. Karena hakekatnya rumah tangga yang di terpa badai itu merupakan hal yang pasti terjadi tetapi jika keduanya memilih untuk bertahan di dalamnya dan memilih untuk saling bergandengan tangan dan berhasil sampai ketepian maka itulah cinta yang sebenarnya.
Tanpa saling melepaskan tangan saat badai datang menghantam pernikahan, begitupun yang kini di rasakan Aditya juga Ziana.