In Memories

In Memories
part 122



Pagi hari ini merupakan hari pertama Aditya masuk kerja setelah beberapa hari yang lalu ia tak masuk masuk. Langkahnya masih tetap seperti biasa gagah dan percaya diri sehingga orang tak ada yang menyangka jika beberapa hari yang lalu ia adalah seorang pasien. Yang mereka tau hanyalah boss mereka tengah melakukan perjalanan bisnis hingga beberapa hari dan kini ia baru saja datang.


Aditya terus berjalan hingga menuju ruangan kerjanya, di sana seperti biasa sekertaris Angga menyambutnya dengan membukakan pintu untuk boss nya.


"Selamat pagi Tuan." ucap Angga dengan tersenyum dan membungkukan badannya kala Aditya datang dan berjalan melewatinya.


"Pagi." jawabnya dengan terus melangkah hingga ia duduk di kursi kebesarannya. Sungguh ia merindukan tempat yang merupakan bagian penting dalam hidupnya dimana dulu sebelum ada istrinya, tempat inilah yang merupakan tujuan penting hidupnya. Hanya dengan bekerja ia bisa sampai tak kenal waktu dan membuatnya bersemangat dalam hidupnya. Tapi kini setelah ia menikah tujuan hidupnya sudah berubah karena fokusnya yang sudah terbagi dan menjadikan istrinya point pertama yang membuatnya bisa berdiri sampai saat ini setelah ia tau penyakit yang ia derita.


"Tuan jadwal sudah saya atur ulang sesuai dengan perintah anda." ucap Angga dengan berdiri di depan meja Aditya.


"Bagus dan kemungkinan hari ini kita lembur karena sudah terlalu lama aku tak masuk ada banyak berkas yang harus aku pelajari."


"Mohon maaf Tuan sesuai dengan perintah dari Nona Ziana anda tidak boleh lagi lembur dan harus pulang tepat waktu."


"What?" seru Aditya merasa tak percaya dengan apa yang di dengarnya saat ini. Sejak kapan istrinya bisa akrab dengan sekertarisnya, keningnya berkerut dan sebelah tangan memegang pelipis. Kini ia tengah bingung mengahadapi permintaan istrinya, jika tak di turuti akan berbuntut panjang nantinya.


"Kapan istriku mengatakannya?" tanya Aditya.


"Saat di rumah sakit Tuan."


"Baiklah kau boleh pergi." Aditya menghela nafasnya pelan dan Angga hanya pun mengangguk setelah itu pergi meninggalkan ruangan atasannya.


Kini ia sangat bingung terhadap Ziana yang berubah menjadi sangat over protektif terhadap dirinya. Ziana kini selalu memperhatikan semua hal tentang apa pun yang berkaitan dengannya, meskipun ia tau itu demi kebaikannya tapi jauh di lubuk hatinya ia merasa menjadi lelaki lemah. Seharusnya ia yang lebih memperhatikan istrinya bukan malah sebaliknya.


Aditya menyandarkan tubuhnya pada kursi kebesarannya, ia memejamkan matanya. Merasakan lelah pada batinnya akhir - akhir ini atas sakitnya


Drrttt..drtttt


Ponselnya bergetar menandakan ada panggilan masuk.


"Hallo sweety." jawabnya begitu ia mengangkat panggilannya.


"Hallo suamiku, jangan terlalu banyak berpikir dan maafkan aku jika terlalu membatasi ruang gerak mu. Juga maafkan aku yang terkesan memperlakukan mu seperti orang lemah."


"Tidak apa sweety aku tau kau melakukannya untuk kebaikan ku."


"Aku harap kau tak marah pada ku, aku hanya ingin kau menjaga kesehatan mu lebih baik lagi. Jangan lupa minum obatmu hari ini."


"Baiklah nanti aku pasti akan meminumnya."


"Ingat ya jangan terlalu banyak berpikir, aku sangat mencintai mu."


"Aku lebih mencintai mu."


"Baiklah aku kuliah dulu ya, nanti siang kita bertemu lagi."


"Iya hati - hati sweety." panggilan pun berakhir.


Aditya tersenyum, ia merasa senang karena kini Ziana lebih banyak mengekspresikan perasaannya. Ia selalu berusaha membuat mood yang baik agar suaminya bisa dalam keadaan yang stabil.


Setelah beberapa hari dari insiden ciuman itu Lena selalu tersenyum hingga ia kadang sulit memejamkan matanya. Bayangan ciuman yang ia lakukan dengan Bara selalu terbayang di ingatannya, dan mungkin karena ini pertama baginya membuat semua kejadian itu seperti kaset yang tak pernah berhenti memutar. Dan selama itu pula ia dan Bara belum pernah bertemu lagi, karena rasa canggung di antara keduanya.


Ya ampun seperti ini rasanya ciuman, aneh rasanya tapi jantung gue seolah ingin lompat dari tempatnya. Akhirnya orang yang mencuri ciuman pertama gue sesuai kriteria.


"Manis apalagi wajah tampannya saat itu begitu dekat pengen banget gue bawa ke rumah." Ia menggelengkan kepala mengingatnya tapi hatinya seolah menghangat, Lena terus saja mengusap bibirnya dan tersenyum bahagia.


"Ya ampun gue lupa nanyain kabar Zi, sahabat macam apa gue ini. Dia lagi dapat ujian kok bisa gue senang - senang di atas kesedihan si Mumun." Lena menepuk keningnya, ia dengan cepat mencari ponsel nya.


Tuuuut...tuuuuutt


Lena menunggu panggilannya di angkat oleh Ziana, saat panggilan ke tiga barulah telponnya di terima oleh Ziana.


"Hallo Zi gimana keadaan lo sekarang?" tanya Lena begitu panggilan telponnya tersambung.


"Gue baik kok, yang sakit kan laki gue. Kenapa lo nanyain kabar gue?" jawab Ziana.


"Ish lo kan yang dari tiap laki lo tidur selalu nangis kejer saat di rumah sakit, gue takut lo belum bisa nerima kenyataan. Kalau laki lo gue yakin sih dia baik, kan ada lo yang rawat."


"Sekarang dia baik aja sih semoga selalu baik, jujur gue takut."


"Lo jangan pesimis gitu dong, bentar lagi udah mulai pengobatan lanjutan kan. Ingat lo harus kuat di depannya. Jangan cengeng biar nggak jadi pikiran dia juga."


"Iya sekarang gue udah mulai coba kontrol emosi gue biar nggak cengeng di depan suami gue."


"Nah gitu dong, siang ini lo mau ngapain?"


"Gue mau ke perusahaan suami gue. Oh ya gimana perkembangan hubungan lo sama Bara setelah insiden kiss waktu itu?" tanya Ziana


"Nggak ada kita belum ketemu lagi, malu gue."


"Gercep dong lo, di sosor soang betina lo nangis kejer pasti."


"Tapi gue ngerasa dia jual mahal deh sekarang, gedek gue."


"Cowok mah gitu, udah dapat yang dia mau pasti mulai jual mahal dia. Tapi berhubung status lo sama dia itu tunangan ya lo maju duluan juga nggak masalah. Beda kasus kalau cabe - cabean minta di giling, biar yang makan merem melek kena hot itu cabe."


"Lo kira rujak tuh cabe - cabean."


"Tapi lo kesel kan kalau calon lo kecantol jelmaan cabe gendot, panas dan menggoda."


"Oh tidak bisa Marisol, gue lawan gerus juga tuh gandul di d*adanya pake ulekan cabe sekalian."


"Cie ada yang cemburu sekarang, ciee ada yang jilat ludah sendiri." Ziana tertawa cekikikan mendengar perkataan sahabatnya itu.


"Apaan sih lo ah, jebak gue ini pasti. Dah bye duluan gue mules lo dari tadi bahas cabe terus." Lena memutus sepihak panggilan telponnya. Kini wajahnya memerah seperti tengah terbakar karena rasa malu akan ucapannnya.


Ia tau jika sebenarnya kini dirinya mulai tertarik pada Bara hanya saja ia masih menimang baik buruknya apakah pantas ia yang harus berjuang lebih dulu. Rasa gengsinya terlalu besar belum lagi dulu tentang pernyataan nya jika ia tak akan pernah jatuh cinta lebih dulu dengan Bara karena ia adalah wanita cantik yang menjunjung tinggi harga diri seorang wanita.