In Memories

In Memories
part 80



Setelah selesai berkemas Ziana dan juga Aditya berpamitan untuk segera berangkat menuju ke appartemennya, suasana haru yang masih menyelimuti keadaan di rumah Ziana tampak masih berlangsung ketika orang tua Ziana mengantarkan mereka menuju mobil Aditya yang terparkir manis di depan rumah.


"Ingat pesan Ibu ya Zi, dan sering - sering main ke rumah meskipun kau sudah punya tempat tinggal yang baru." ucap Bu Rina dengan mengusap rambut putrinya itu.


"Iya Zi jangan lupa ini juga masih rumah mu, Bapak pasti akan sangat merindukan mu." ujar Pak Risman dengan senyuman yang tulus tetapi tak bisa di pungkiri mata nya menyimpan kesedihan.


"Bapak dan Ibu jangan bersedih ya, Zi masih tinggal di kota yang sama kok. Pasti jika senggang nanti Zi nginep di sini." Setelah itu mereka pun bergantian memeluk Ziana.


Bagi Ibu Rina yang tak pernah bersedih atas putrinya, kali ini merupakan moment yang paling menyedihkan dalam hidupnya karena ia pasti akan sangat kehilangan putrinya yang berisik itu.


Mobil pun melaju meninggalkan rumah, kini Ziana menatap kosong ke arah depan seolah memorinya diputar kembali mengingat semua kenangan di rumah bersama keluarganya.


Aditya mengerti akan apa yang dipikirkan istrinya itu, ia tau pasti berat bagi Ziana meninggalkan rumah yang sudah puluhan taun ia tinggali bersama dengan orang - orang yang terkasih. Ia pun menggenggam tangan Ziana erat, menyalurkan ketenangan bagi istrinya kini.


"Jangan bersedih kita bisa sering mengunjungi mereka." ucap Aditya dengan tetap menggengam tangan Ziana dan tangan kanannya memegang kemudi mobil.


"Iya Kak, aku hanya merasa aneh baru kali ini aku pergi dan tak tinggal di rumah ku lagi." ucap Ziana sendu.


"Sudah ya nanti juga kau akan terbiasa, aku akan selalu ada untukmu jadi nanti kau tak akan kesepian." Ia pun mencium tangan Ziana.


Setelah 20 menit perjalanan sampailah mereka di appartement Aditya, mereka memasuki ruangan appartement dengan desain modern yang elegan. Ziana yang baru pertama masuk ke dalam appartemen Aditya seakan terbuai ketika melihat desain ruangan dengan sentuhan yang sangat mewah itu.


Ia bahkan selalu menampakkan ekspresi wajah yang seakan kagum akan semua ruangan yang ada di dalam appartement itu tanpa merasa malu akan tingkahnya yang mungkin terkesan norak. Tapi tidak bagi Aditya melihat istrinya seperti itu membuatnya gemas, Ziana yang selalu apa adanya itu yang membuatnya mempunyai nilai plus di matanya.


"Bagaimana sweety apa kau suka?" ucap Aditya dengan memeluk Ziana dari belakang.


"Aku sangat menyukainya, aku pasti akan betah di sini." ucapnya dengan tatapan mata yang tak lepas menatap setiap sudut ruang kamar yang nantinya akan menjadi kamar tidurnya dan Aditya.


"Iya kau harus betah tinggal di sini karena aku akan selalu membuat mu nyaman berada di sisiku." Aditya mengecup leher Ziana dan mengeratkan pelukannya.


Karena pelukannya itu membuat yang ada di bawah sana terbangun. Ia kini memang tak pernah tahan jika menyentuh istrinya pasti akan ada sesuatu yang bergejolak dalam dirinya. Tubuh Ziana telah menjadi candu baginya.


Perlahan Aditya mengecup dan menghisap leher jenjang Ziana, membuat tanda kepemilikan pada leher Ziana. Karena serangan mendadak itu membuat nya tak sadar melenguh panjang, suara yang akan semakin membangkitkan gairah Aditya.


Dengan cepat Aditya pun menggendong Ziana ke dalam pelukannya ala bridal style, ia pun membaringkan Ziana di tempat tidur big size miliknya itu.


Aditya menatap manik mata Ziana dengan intens, ia pun mengecup kening Ziana lama.


"Aku ingin memakanmu lagi untuk pertama kalinya di kamar kita." bisik Aditya di kuping Ziana.


Ziana yang mengerti arah pembicaraan suaminya hanya mengangguk pelan tanda setuju. Tak butuh waktu lama Aditya pun membuka baju yang menjadi penghalang baginya, setelah tubuh mereka sama polosnya ia pun mulai melakukan apa yang sudah ia bayangkan sedari tadi.


Mereka terus melakukan kegiatan panas mereka menyalurkan rasa cinta di antara mereka berdua. Aditya terus memacu dirinya, tangan dan bibir nya tak tinggal diam dan terus melakukan kegiatan yang selalu membuatnya nyaman. Tangan yang selalu bermain di kedua milik istrinya itu dan bibirnya yang selalu mencium lembut Ziana.


***


"Apa yang ingin kau bicarakan, hmm?" ucap Bara yang kini tengah duduk di depan Lena.


"Aku ingin membicarakan tentang perjodohan kita." ucap Lena dengan tatapan mata yang mengarah pada Bara dan tangannya yang dari tak henti memutar sedotan dalam minuman yang kini ada di hadapannya.


"Apa usaha mu kali ini?" Bara menyilangkan kedua tangannya di atas dada dan menyandarkan dirinya pada kursi cafe.


"Aku tau usaha apa pun yang kita lakukan untuk menggagalkan perjodohan kita pasti akan berakhir dengan sia - sia. Karena aku tak ingin Oma kambuh lagi karena penolakan ku."


"So??" ucap Bara dengan menaikan sebelah alisnya menatap Lena.


"Aku juga sebenarnya bingung, apa kau punya solusi untuk jalan keluarnya?" mereka pun kini saling berhadapan dengan tatapan mata dari keduanya.


"Menurutku lebih baik kita terima saja."


"Apa? kau mau mengambil kesempatan dalam kesempitan kan?" Lena memicingkan matanya menatap Bara yang kini dengan santainya mengatakan hal yang sangat ia hindari untuk di dengar.


"Terserah pada mu, jika kau ingin Oma tak kambuh karena mu maka ikuti saran ku tapi jika sebaliknya kau tanggung resikonya sendiri, bagaimana Nona?" Bara tersenyum smirk.


"Tapi sampai kapan kita harus menjalankan pernikahan yang aku sendiri tak pernah yakin bisa melewatinya bersama orang seperti mu."


"Kau pikir aku begitu ingin menikah dengan mu? dengar ya aku hanya ingin menyelamatkan mu dari anggapan orang nanti nya."


"Apa maksudmu?" Lena mengerutkan keningnya tak mengerti.


"Jika Oma kambuh karena penolakan dari mu, pasti kau lah tersangka satu - satunya dan kau akan di cap sebagai cucu durhaka." Ucap Bara yang kini seakan tengah menyudutkan Lena.


Lena kini tengah membayangkan Oma nya yang kritis masuk rumah sakit karena ia menolak perjodohan yang menjadi impian Oma nya selama ini, ia pun di salahkan oleh semua orang atas keegoisan nya dalam mengambil keputusan.


"Tidak!!" Seru Lena dengan menggelengkan kepalanya mencoba menghapus apa yang ia bayangkan.


"Jadi apa keputusan mu?" Ucapa Bara yang dari tadi melihat Lena dengan tatapan aneh karena secara tiba - tiba Lena menggeleng dan berteriak.


"Oke aku akan menerima perjodohan ini. Kau?" tunjuk Lena pada Bara.


"Aku? bagaimana ya karena aku kasian pada mu maka baiklah aku akan menolong mu agar kau tak di cap sebagai cucu durhaka."


"Issh jual mahal." Lena melirik Bara yang kini tengah tersenyum merasa berada di atas angin karena kini Lena menurut pada ide yang diberikan.