In Memories

In Memories
part 92



Hari sudah menjelang sore ketika pasangan absurd itu mendatangi butik yang saat ini tengah di tunggu oleh kedua Oma yang menyatakan diri nya masih cantik. Entah bagian mana definisi cantik untuk kedua Oma yang masih selalu bersolek jika akan bepergian.


"Halo cucu mantu Oma yang tampan, kalian datang barengan ya? satu mobil?" tanya Oma Rita begitu melihat mereka datang menghampiri.Dan jawaban dari Lena juga Bara hanya kompak mengangguk dua kali.


Kedua Oma itu saling bertemu pandang dengan kode tatapan mata yang hanya mereka saja yang tau apa artinya.


"Kenapa mendadak begini sih Oma?" Lena merengek manja pada Omanya.


"Memangnya apa lagi yang kau tunggu? toh kalian saja sudah setuju." jawab Oma Rita dengan tangan yang terus bergerak melihat pakaian yang ada di dalam butik.


"Tapi kan Oma, setidaknya kita juga harus di ajak untuk berunding." Lena memberi kode pada Bara agar ia membantu untuk berbicara. Tapi saat Bara akan membuka mulut untuk berbicara, terdengar Oma Ratna duluan yang berbicara.


"Apa kau tidak setuju dengan keputusan ini cucuku?" Tanya Oma Ratna yang kini tengah menatap tajam Bara.


Sial ini namanya masuk kandang macan keluar kandang harimau, aku harus mengambil sikap agar semuanya tetap berjalan pada tempatnya seperti dulu sebelum ada ombak yang menjadi kekacauan di hidupku.


flasback on


"Ayolah Oma aku tidak bisa menikahi wanita yang tidak aku cintai, sudahi perkodohan ini ya?" Bara bersimpuh seperti anak kecil yang tengah merengek untuk di belikan mainan dan permen.


"Itu tidak akan pernah terjadi Bara, sekarang Oma tanya apa yang membuatmu menolak untuk menikahi Lena?


"Aku dan dia tak pernah akur Oma bagaimana nasib rumah tangga kita nantinya? aku bahkan tak pernah bisa hanya untuk membayangkannya saja."


"Apa secara visual dia itu tipe mu?


"Not bad lah Oma masih ada dalam daftar." ucap Bara yang mendapat pukulan bantal dari sang Oma.


"Ya sudah apalagi yang kau takut kan hah? cinta itu akan timbul karena terbiasa bersama dan pasti kau orang pertama yang akan menjadi budak cinta Lena. Lihat saja nanti."


"Mana ada!"


"Mau tidak mau kau harus tetap menjalankan perjodohan ini atau semua fasilitasmu akan Oma cabut." ucap Oma Ratna dengan mode mengancam.


"Jangan Oma aku mohon jangan ya, baiklah aku akan menuruti semua mau Oma." Bara tersenyum berusaha merayu Oma Ratna.


Shittt!! Oma sangat tau kelemahan ku jika begini aku bisa apa? jalani saja lah, gadis itu juga masuk kriteria ku hanya satu yang aku tak suka mulutnya yang bawel selalu membuat kepalaku pusing.


"Ok, Begitu dong itu baru cucu Oma."


Meskipun Bara sudah punya pekerjaan tetapi baginya yang sudah terbiasa hidup dengan semua fasilitas yang ada membuatnya tak bisa hidup jika hanya mengandalkan gajinya.


flashback off


"Aku terserah Oma saja, mau cepat atau lambat pertunangan ini pasti terjadi dan aku pun sudah menyetujuinya, bagiku ini tak masalah." ucap Bara santai.


Lena membulatkan matanya mendengar jawaban yang keluar dari mulut Bara, itu artinya pertunangan pasti akan tetap di gelar. Ia menatap tajam Bara yang kini memalingkan pandangannya ke arah yang berlainan.


Mampus gue, tiga lawan satu udah pasti gue yang kalah. Awas ya kalau kau mengambil keuntungan dariku.


"Aku juga akan mengikutinya Oma." Lena tersenyum dengan terpaksa, mau apa lagi Bara yang ia harapkan akan ikut bersekongkol dengannya malah menjadi pembelot sekarang.


Dengan langkah gontai Lena pergi ke dalam ruang ganti mencoba gaun untuk acara pertunangannya. Tak ada yang bisa ia lakukan selain pasrah untuk saat ini, karena ia sudah mengangguk setuju saat dulu Oma nya sakit karena ia tetap bersikeras menentang perjodohan ini. Ia tak mau jika Oma nya akan kembali jatuh sakit.


Dengan bantuan pramuniaga Lena memakai gaun pertunangannya, setelah selesai ia pun keluar untuk memperlihatkannya kepada duo Oma yang kini berganti peran sebagai juri untuk busana yang ia pakai.


"Ah kau cantik sekali sayang nya Oma, gen ku turun banyak pada mu." teriak Oma Rita begitu melihat Lena keluar dari ruang ganti.


"Ya ampun lihat lah calon pengantin pria nya juga sangat tampan, persis Papa nya waktu muda."Seru Oma Ratna yang tak kalah hebohnya dari sahabatnya itu.


Bara dan Lena hanya memutar bola matanya jengah mendengar pendapat duo Oma yang mengharuskan mereka untuk bersatu. Owner butik yang dari tadi memperhatikan keadaan terpaksa menahan tawa nya, ia tak menyangka biasanya yang akan menjodohkan itu pasti orang tua nya tetapi kali ini berbeda duo Oma yang masih terlihat segar itu di usianya yang sudah senja.


***


Sementara itu team Eagle tengah berusaha melacak pelaku yang kini sedang dalam pengejaran. Mobil yang tadi membuntuti Aditya terus saja melaju dengan kecepatan di atas rata - rata karena jika memperlambat kecepatannya maka dirinya akan tertangkap.


Saat akan menyalip kembali terlihat mobilnya sudah tak bisa di kendalikan, mobil terus bergerak ke sisi kanan jalan beruntungnya tak banyak kendaraan lewat karena jalan ini merupakan jalur sepi perlintasan. Hingga akhirnya mobil menabrak pembatas jalan dan terjun bebas ke sungai.


Team Eagle berusaha melihat tanda - tanda orang berenang untuk menepi di keremangan malam dan hanya ada cahaya senter ponsel yang menerangi, tapi setelah sekian lama menunggu tak ada tanda orang yang keluar dari sana, kemungkinan dia tewas di dalam sana.


"****!! dia pasti tewas di dalam sana, bagaimana kita bisa mengorek informasi darinya?" ucap Bram yang terlihat kesal karena ia itu artinya semakin lama lagi pencarian team nya untuk mengetahui siapa dalang di balik kekacauan ini.


"Ada satu hal yang kita lupakan dude." sahut Devan dengan senyumnya yang mengerikan.


Mereka berdua merupakan ketua team Eagle yang terjun langsung untuk kasus ini. Bagi mereka Aditya bukan hanya sekedar Bos bagi mereka, Aditya sudah mereka anggap sebagai keluarga sendiri karena dulu mereka hampir kehilangan nyawanya jika saja Aditya tak datang tepat waktu.


"Apa?"


"Cctv, kita bisa meretasnya bukan?"


"Ah kenapa otak ku tak sampai sana, sudah kita langsung bergerak saja."


"Ok."


Di appartemen Aditya tengah menanti kabar dari team Eagle tapi hingga saat ini mereka belum juga menghubunginya. Di saat kekesalannya tengah memuncak Ziana datang membawa secangkir coklat panas dan meletakkan nya di atas meja.


"Suamiku ini minumlah selagi masih panas."


"Thanks sweety." Aditya mengambil cangkir yang berisi coklat panas dan meminumnya.


"Ada yang ingin aku bicarakan." ucap Ziana


"Apa, hmm?


"Bulan depan akan ada kegiatan kampus dan mengharuskan ku untuk pergi beberapa hari dan itu.." Belum sempat ia melanjutkannya dengan tegas Aditya langsung menjawabnya.


"Tidak boleh."


"Tapi kenapa?" Ziana merengek dengan mengerucutkan bibirnya.


"Itu karena..."