
Setelah berakhir kuliah nyata yang di berikan oleh Aditya di perusahaan miliknya, Ziana merasakan badannya terasa lelah hingga tak sadar ia pun tertidur di kursi sofa ruang kerja suaminya.
Aditya yang tengah sibuk memeriksa berkas tersenyum melihat istrinya yang tengah tertidur pulas di sampingnya. Dengan perlahan ia pun membenarkan posisi Ziana agar lebih nyaman, dan ia pun meneylimuti tubuh istrinya itu.
"Tidurlah yang nyenyak sweety." Ia pun mencium kening Ziana fan kembali duduk memeriksa semua berkas yang harus ia bereskan hari itu juga. Karena hari ini ia berjanji akan mengajak istrinya untuk dinner sebelum esok hari ia harus mulai untuk kemoterapi.
Awalnya ia tak mau melakukannya hanya saja melihat wajah mengiba istrinya yang selalu berusaha memberikan pengobatan untuknya membuat ia tak bisa berkata apa - apa lagi. Aditya tak ingin senyum dan harapan Ziana padanya sirna karena keegoisan dirinya.
Drrrt..Drrrt
ponsel Aditya bergetar dan ia pun segera menerima panggilan dari shabatnya itu.
"Kau sedang apa?" tanya Bara di sebrang sana.
"Kerja."
"Jangan terlalu lelah bekerja, ingat besok adalah jadwal kemo pertama untukmu."
"Ya."
"Kau pasti bisa Ditya, lihatlah ada istrimu yang tak pernah lelah melakukan segalanya demi kesembuhan mu. Jangan biarkan usahanya sia - sia,ok?"
"Aku mengerti." Aditya menarik nafasnya panjang.
"Apa seorang pesakitan seperti ku masih bisa mempunyai keturunan?"
"Tentu, tapi mungkin akan ada dampak dari obat yang selama ini kau konsumsi itu akan berpengaruh terhadap kesuburan mu. Kau tenang saja jangan terlalu banyak berpikir, semua ada solusinya.Percayalah."
"Aku hanya takut jika aku tak bisa memberikan istriku keturunan."
"Jangan berpikir terlalu jauh, aku orang pertama yang akan mengupayakan semuanya untuk mu dan juga istrimu."
"Thanks." dan panggilan pun berakhir, melihat istrinya terbangun dan ia pun beranjak untuk menghampirinya.
"Apa tidur mu terganggu?"
"Tidak, tapi aku lapar." Ziana tertunduk malu mendengar bunyi perutnya nyaring terdengar.
"Baiklah kita pulang sekarang." keduanya pun bersiap untuk pulang dan mampir terebih dahulu di sebuah restoran.
Hanya butuh waktu sepuluh menit dari perusahaan Aditya untuk sampai di salah satu restoran tempat biasa mereka makan. Ziana dan Aditya turun dari mobilnya dan mereka berjalan dengan saling berpegangan tangan seolah takut akan terpisah. Kebiasaan kecil yang membuat hati Ziana menghangat jika mengingat semua hal manis yang di berikan Aditya untuk dirinya.
Di VIP room yang seperti biasa karena mereka selalu mereservasi tempat dan juga memesan terlebih dahulu menu yang di inginkan, sehingga saat mereka datang semuanya telah siap.
"Makanlah yang banyak, kau begitu lelah."ucap Aditya dengan senyuman hangatnya.
"Kau juga harus makan yang banyak suami ku." Keduanya pun makan dengan tanpa banyak bersuara.
"Aku sudah bilang berapa kali untuk meyakinkan mu, suamiku sayang jangan pernah kau meragukan aku bahkan satu inci pun aku tak akan pernah pergi meninggalkan mu dan aku akan selalu menerima apa pun kondisi mu."
"Maaf membuat mu lelah menjadi istriku." Ziana mengeratkan pelukannya ia tak kuasa untuk melihat wajah suaminya yang sedang menahan tangisnya karena sangat terdengar jelas dari suara Aditya yang bergetar.
"Tidak, aku sangat bahagia bersama mu." Ziana tau kekuatannya saat ini sedang di ambang batas, sedikit saja air matnya jatuh maka tangisnya akan pecah dan itu akan membuat pikiran Aditya semakin terbebani.
Aku pasti bisa, harus kuat demi suamiku. Kau harus sembuh demi Tuhan sebenarnya aku sangat takut tapi akan ku pastikan kau sembuh sayang.
"Tapi bagaimana jika semuanya tak sesuai dengan harapan?"
"Maka aku akan selalu berjuang untuk mu, aku akan menjadi tangan dan kaki mu di saat kau tak mampu, dan aku akan selalu ada di saat kau jatuh dan terpuruk. Lihat aku percaya pada ku ya." Ziana meraih kedua telapak tangan Aditya untuk membingkai wajahnya.
"Tolong jangan menyerah untuk ku." ucap Ziana lirih dan keduanya pun berpelukan dengan sangat erat dan tenggelam dalam pikirannya masing - masing.
***
Keesokan harinya yang merupakan jadwal kemoterapi Aditya untuk pertama kalinya, Kini mereka tengah berada di dalam perjalanan menuju rumah sakit. Sepanjang perjalanan Ziana dan Aditya terlibat banyak percakapan, meskipun bukan hal penting yang mereka bicarakan hanya seputar kegiatan Ziana maupun Aditya.
Ziana sengaja tak mengungkit soal kelanjutan pengobatan Aditya, ia ingin kondisi mental suaminya baik - baik saja sampai kemoterapi yang akan di lalui oleh suaminya berjalan lancar.
Akhir - akhir ini Aditya lebih banyak diam, sebelum mengahadapi hari ini. Bukan dirinya yang ia pikirkan melainkan istrinya Ziana, ia takut akan merepotkan Ziana yang bersikeras akan merawatnya tanpa bantuan perawat meski kondisi terburuk sekalipun yang mungkin nanti akan ia alami.
Kepercayaan diri nya mulai hilang, ia selalu merasa jika dirinya gagal menjadi suami bagi Ziana.
Setelah sampai di rumah sakit, Aditya memasuki ruangan yang biasa ia gunakan. Ia kini tengah berganti baju dengan baju rumah sakit, dokter Fiko dan perawat juga sudah berada di ruangan untuk melakukan tindakan medis terhadap Aditya.
Sepanjang kemoterapi berlangsung Ziana tak pernah sedetik pun pergi dari samping Aditya. Tak pernah sedikitpun ia mengeluh, melihat kesabaran Ziana membuat Aditya pun semakin bersemangat untuk selalu mengikuti anjuran dokter.
Setelah selesai kemoterapi, Ziana merawat suaminya dengan sangat telaten. Ia telah mengetahui cara perawatan yang baik dengan selalu bertanya pada dokter Fiko, jika bukan tindakan medis maka Ziana sendiri yang akan turun tangan merawat Aditya.
"Kau pasti lelah sweety, tidurlah."
"Tidak, aku akan di sini ada sedikit tugas kampus yang harus ku kerjakan. Tidurlah lebih dulu, kau harus banyak beristrihat." Ziana menaikan selimut sampai ke dada Aditya.
"Baiklah jangan terlalu lelah."
"Pasti." Ziana pun mengecup kening Aditya, mungkin karena pengaruh obat dengan cepat Aditya terlelap dalam tidurnya.
"Kau pasti bisa suamiku, semua nya berjalan dengan baik bahkan dokter pun optimis jika kau akan sembuh." gumam Ziana.
Tak terasa air mata yang sejak tadi tertahan karena tak ingin di lihat oleh suaminya pun jatuh bebas dari kelopak matanya, Ziana menangis tertahan melihat kondisi Aditya yang terbaring lemah di sisinya.
Aditya yang ia kenal tak pernah menampakan sisi lemahnya, tapi kini harus terbaring di rumah sakit. Tempat yang paling Aditya benci, menjadi tempat yang harus selalu ia datangi demi kesembuhannya. Dulu setelah penculikan itu ia harus selalu berobat demi kesembuhan luka luar dan dalam nya, dan sekarang ia pun harus memaksakan dirinya menginjakan kaki di tempat yang paling di hindarinya.