In Memories

In Memories
part 70



Sore pun beranjak berganti menjadi gelap, cahaya gemerlap bintang di langit menghiasi malam yang dingin. Lampu di sepanjang sudut kota yang terang dengan berbagai macam bentuk dan ukuran untuk menyambut datangnya malam.


Di rumah sederhana milik keluarga Ziana tapi selalu ramai dan hangat karena anggota keluarga mereka termasuk yang paling kompak, sehingga rumah pun tak pernah sepi.


Kini duduk lah tamu istimewa yang tengah di tunggu oleh keluarga Ziana. Hari ini Aditya datang bersama dengan Angga sebagai perwakilan keluarga untuk meminta secara langsung putri dari keluarga Pak Risman.


Orang tua Aditya berhalangan hadir karena kebetulan Oma dari Mommy Irene masuk rumah sakit jadi hanya Angga lah perwakilan dari keluarga Aditya.


Kini mereka tengah duduk bersama di atas karpet yang telah di gelar di dalam rumah, meski acara nya sederhana hanya di hadiri oleh keluarga inti Ziana tapi ini adalah moment yang sangat penting untuk kedua nya.


"Maaf sebelumnya saya sebagai perwakilan dari keluarga Tuan Aditya ingin menyampaikan permintaan maaf yang sebesar - besarnya kepada keluarga Nona Ziana atas ketidak hadiran orang tua dari Tuan Aditya di karena kan Oma Berta masuk rumah sakit. Sehingga hanya saya yang hari ini hadir sebagai perwakilan keluarga." Ucap Angga memulai percakapan terlebih dahulu.


"Adapun maksud kedatangan kami ke sini untuk meminta secara langsung putri dari Bapak Risman untuk di pinang oleh Tuan Aditya secara resmi. Kami di sini berharap semoga niat baik kami mendapat sambutan baik pula dari pihak keluarga wanita."


Aditya yang tengah duduk bersebrangan dengan Ziana tak hentinya menatap pujaan hatinya yang begitu cantik malam ini, ia memakai kebaya merah hati dan kain batik yang senada dengan batik yang ia kenakan. Dengan riasan natural memancarkan kecantikan Ziana malam hari ini. Mereka selalu saling pandang saat acara berlangsung.


"Kami dari pihak wanita hanya bisa memberikan doa restu, sebagai orang tua hanya satu yang kami inginkan melihat putri yang kami sayang bisa mendapatkan kebahagiaan nya,itu sudah lebih dari cukup untuk kami. Jadi semua keputusan berada di tangan putri kami, Ziana." Ucap Pak Risman dengan memandang ke arah Ziana.


"Ziana, aku memang tak pandai untuk merangkai kata tapi aku bisa membuatmu selalu tersenyum setiap hari. Jadilah pendamping hidupku sampai tua nanti, apakah kau bersedia?" tanya Aditya.


"Iya aku bersedia." jawab Ziana dengan tersenyum dan menganggukan kepalanya.


"Alhamdulilah." ucapan serempak dari semua yang ada di ruangan setelah Ziana berbicara.


Aditya tersenyum bahagia mendengar jawaban dari Ziana, ia pun berdiri dan memakaikan kalung berlian dengan inisial nama mereka sebagai ikatan sebelum menuju hari pernikahan tiba.


Karena ini hanya di hadiri keluarga inti maka setelah acara setelahnya hanya makan bersama yang telah di sediakan oleh Bu Rina. Barang seserahan yang di bawa Aditya memenuhi ruangan itu, Ibu Rina sampai geleng kepala melihat kelakuan calon menantunya itu.


Ini seserahan apa mau dagang sih? aku sampai bingung menyimpannya dimana, sekalinya dapat calon mantu kaya sangat pengertian tapi juga selalu membuat kepala ku berdenyut melihat apa yang di lakukannya selalu di atas normal.


Sedangkan orang yang tengah bahagia mereka makan dengan saling bersebelahan dan kadang saling bertemu padang dengan senyum yang tak pernah pudar dari keduanya.


Acara lamaran sederhana kali ini memang kemauan dari keduanya, karena bagi mereka yang terpenting nanti adalah acara pernikahan itu yang sakral dan harus di ketahui oleh orang banyak agar tak terjadi fitnah nantinya.


Malam pun semakin larut Aditya dan Angga pamit untuk pulang setelah sebelumnya mereka melakukan sesi foto sebagai bentuk kenangan nantinya.


"Aku pamit dulu ya, semoga nanti kita ketemu lagi." ucap Aditya pada Ziana saat mereka tengah berada di luar rumah.


"Kok ketemu lagi? emang Kak Ditya mau balik ke sini lagi?" Ziana yang tak mengerti arah pembicaraan dari Aditya mengerutkan keningnya bingung.


"Di mimpi mu." Aditya mengedipkan sebelah matanya lalu ia pun masuk ke dalam mobilnya dan setelah itu mobil pun berlalu pergi meninggalkan rumah Ziana.


"Zi apa yang harus Ibu lakukan dengan semua barang ini? Ibu pusing mau di pindahin kemana lagi." Ibu Rina menepuk keningnya yang terasa berdenyut.


"Udah lah Bu besok aja lagi, sekarang biarkan saja begini lagian kita semua juga kan capek, lebih baik kita istirahat saja dulu Bu."


"Ah benar juga, ide siapa sih ini bawa seserahan kayak ngangkut satu toko di pindah ke rumah ini semua." Ibu Rina terus menggelengkan kepalanya menatap tak percaya hamparan seserahan di depan matanya. Tadi aditya bahkan membawa satu mobil box khusus untuk membawa seserahannya.


"Zi juga nggak tau Bu." Ziana mengedikkan bahu nya.


"Ah sudahlah lebih baik kita tidur saja, besok kita bereskan semuanya."


Karena hari sudah makin larut semua anggota keluarga masuk ke kamarnya masing - masing untuk tidur merajut mimpi yang mungkin bisa menjadi bunga tidur yang indah selepas penat yang di rasakan setelah seharian beraktifitas.


***


Pagi hari ini di awali dengan repotnya pasangan Ibu dan Anak yang tengah membuka semua seserahan tadi malam untuk di simpan agar tak terlalu berantakan di dalam rumah.


"Tunggu dulu Zi, jangan dulu di buka." Bu rina menghentikan Ziana yang akan membuka kotak seserahan.


"Ada apa sih Bu?" ucap Ziana.


"Sebentar Ibu foto dulu semuanya, mau Ibu buat status biar satu perumahan heboh dengan apa yang di bawa calon menantu Ibu." dengan segera Ibu mengambil ponselnya dari dalam kamar dan mengambil gambar sebanyak - banyaknya, padahal gambarnya hanya itu saja setelah di ambil yang terbaik hanya 2 foto yang di buat status.


"Ibu aku pikir ada apa?" Ziana menggelengkan kepalanya dan setelah pengambilan foto oleh Ibu nya yang justru paling antusias dengan seserahan itu, yang katanya membuatnya pusing tadi malam.


"Ya ampun Zi ini merk terkenal semua, Ibu baru pertama kali melihatnya. Kamu beruntung sekali." ucap Bu Rina dengan tak hentinya menatap semua barang yang ada di hadapannya.


Dan Ziana hanya tersenyum melihat apa yang di belikan Aditya untuk dirinya itu. Saat tengah asyik membuka semua kotak seserahan, tiba - tiba ada yang mengetuk pintu.


Tok..Tok..Tok..


"Permisi apa ini benar dengan rumah Nona Ziana?" ucap kurir pengantar bunga.


"Iya saya sendiri, ada apa ya?" tanya Ziana yang kebetulan membuka pintu itu sendiri.


"Ini tolong di tanda tangani ya Nona, ada kiriman bunga dari Tuan Aditya." Kurir pengantar bunga pun menyerahkan buket mawar merah berbentuk hati pada Ziana dan nota penyerahan bunga sebagai bukti jika bunga telah sampai pada pemiliknya.


"Terimakasih." ucap Ziana pada kurir tersebut.


"Tunggu dulu Nona.."