
Ziana yang saat ini tengah berada di perusahaan Aura Kosmetik untuk pemotretan mendadak hatinya terasa begitu gelisah. Ia terus saja memegang dadanya yang terasa begitu tak nyaman, sehingga membuatnya kurang fokus saat akan memulai sesi pemotretan.
"Lo kenapa Zi?" tanya Lena yang tengah menatap heran sahabatnya itu.
"Kenapa ya hati gue nggak nyaman banget nggak enak gitu ada apa ya?" Ziana malah balik bertanya pada Lena yang saat itu tengah berada di ruang make up.
"Ah perasaan lo doang kali, karena gue liatin lo ntar ya jadi gegap gempita." ucap Lena.
"Gugup maksud lo? di liatin sama lo gitu, nggak ya ngarang, tapi ini beneran Len hati gue kok nggak nyaman banget ya?" Ziana yang saat itu tengah bersiap mencoba melihat ponselnya ia takut ada yang menghubungi nya dengan memberikan kabar yang tak baik.
"Lo konsentrasi aja kerja dulu, kalau ada apa - apa sama orang rumah atau cowok lo juga pasti ada yang ngasih kabarkan." Lena berusaha menenangkan Ziana dengan mengusap pundaknya menyalurkan semangat.
"Iya juga sih ini juga hp gue nggak ada notif apa pun juga, hanya perasaan gue aja kali ya."
"Gimana udah beres bisa langsung take kan?" seru salah satu team masuk ke dalam ruangan yang Ziana tempati.
"Iya udah beres kok, yuk." Ziana pun melangkah menuju ruang pemotretan, kali ini ia hanya sendiri tanpa di temani oleh Evan.
Setelah sesi pemotretan berakhir, Lena yang setia mendampingi Ziana terus memperhatikan dari awal hingga akhir pemotretan. Ia terus menggeleng tak percaya jika Ziana yang begitu cerewet dan tak bisa diam seperti dirinya begitu anggun jika sedang berada di depan lensa kamera. Pengarah gaya pun hanya membantu sedikit karena pose Ziana yang sudah seperti model profesional.
"Gila lo nggak nyangka gue ternyata lo punya bakat terpendam, untuk sekarang udah ke gali ya." ucap Lena dengan menyetir mobilnya karena setelah pemotretan tadi mereka langsung melangkah pergi untuk mengisi perut.
"Lo kata sumur pake di gali segala." Ziana yang tengah menghapus sebagian make up di wajah nya agar tak terlalu terlihat tebal.
"Ya kali aja gitu, Evan nggak ikut pemotretan bareng lagi?"
"Nggak lah kemaren kan tema couple buat valentine gitu, kalau sekarang sih sendiri lagian gue masih deg - degan deh ketauan apa nggak nya pemotretan kemaren sama Kak Ditya." Ziana teringat lagi ucapan Aditya yang melarangnya untuk berdekatan dengan pria manapun.
"Kalau pun udah kepalang basah lo ketauan ya udah sih sekalian nyebur aja di baik - baikin aja biasanya cowok luluh sendiri nantinya."
"Kata siapa jurus lo ampuh nggak tuh, punya pacar juga belum lo."
"Iya kan kan kata orang - orang gue dengernya gitu."
"Oke ntar gue coba saran lo." Lena memacu mobilnya dengan menambah kecepatannya agar bisa secepatnya sampai karena perut mereka yang sudah meminta untuk segera di isi.
***
Sementara itu Aditya mengerjapkan matanya yang masih terasa berat karena pengaruh obat yang tadi ia minum. Kepalanya juga terasa masih pusing, ia melihat sekeliling kamar hotel yang jelas bukan kamarnya. Di sofa Aditya melihat Angga yang tengah tertidur dengan posisi berbaring dan tangan yang bersidekap di depan dada.
Aditya memijat keningnya agar sedikit lebih baik dengan tangan yang berbalut kain kasa, badannya masih terasa lemas hingga merasa tak ada tenaga yang tersisa hanya untuk mengambil air minum yang berada di nakas samping tempat tidur.
"Hissss kepala ku berat sekali." gumam Aditya.
"Apa Tuan membutuhkan sesuatu?" Angga yang mendengar adanya pergerakan dari Aditya dengan segera membuka matanya dan menghampiri Aditya.
"Aku haus."
"Kau tak memberi tau Mom dan Dad kan?" tanya Aditya dengan tatapan penuh selidik
"Tidak Tuan." Jawab Angga dengan posisi masih berdiri di samping tempat tidur Aditya.
"Bagus jangan sampai ada yang tau, apa urusan di sini sudah beres?" lanjutnya setelah ia meneguk air minumnya.
"Hampir beres Tuan mungkin besok akan clear semua nya."
"Bereskan hari ini juga, aku harus pulang."
"Baik Tuan." Angga mengangguk dan membungkuk mengerti akan perintah atasannya itu.
Oh Tuhan betapa enaknya menjadi boss. Tinggal menyuruh tanpa tau betapa pusingnya aku mengurusi masalah ini. Ya ya aku yang hanya remahan peyek hanya bisa diam dan menurut kalau tidak di tendang lah aku menjadi gelandangan.
Angga refleks tak sadar dia bergidik dan menggelengkan kepalanya mengingat apa yang barusan ia pikirkan.
"Kau kenapa?" tanya Aditya yang melihat jelas bahasa tubuh sekertarisnya itu.
"Ah tidak Tuan, kalau begitu saya permisi dulu." Angga pamit setelah itu ia melangkah pergi untuk segera membereskan kekacauan yang telah terjadi sebelum Aditya murka.
Angga sangat tau dengan sifat dari Aditya jika mood nya sedang buruk maka hal baik apa pun yang ada di depan mata akan di anggap salah, apalagi jika itu hal tak baik sudah dapat di pastikan kemarahan dari seorang Aditya semua orang akan terkena dampak dari emosi yang tak terkontrol darinya.
"Tunggu aku sayang akan ku tunjukan siapa kekasih mu ini, dan dapat ku pastikan kau akan menyesal telah membohongiku." Aditya menyeringai dengan tatapan tajam nya seolah ingin menerkam mangsa yang ada di depan matanya.
***
Matahari mulai merangkak naik, membuat udara semakin panas dan menjadikan siapapun ingin membasahi tenggorokannya yang kering karena cuaca yang begitu panas menyengat kulit.
Di saat itu Bu Rina yang tengah duduk santai tengah berkumpul dengan teman - temannya menyantap rujak yang di buat sendiri beserta air es jeruk yang membuat segar untuk di santap di tengah hari yang terik saat itu.
"Aduh Bu Rina sekarang tinggal santai aja ya sudah punya karyawan baru." ucap Bu Heni sambil menyantap rujak di depannya.
"Iya Bu agak santai sekarang nggak terlalu capek." sahut Bu Rina.
"Eh Bu tau ga sih Bu Endang kemarin beli kulkas 4 pintu lho, ya ampun Bu pamernya sampai ke blok ujung sana." ucap Bu Rida.
"Emang ada ya Bu kulkas 4 pintu, saya baru denger lo." tanya Bu Rina dengan tatapan heran.
"Issh ada kok Bu memang mahal lho itu." sahu Bu Heni.
"Iya emang mahal tapi ya sebelum kulkas di beli mbo ya beli daleman dulu yang baru, saya pernah liat pas lagi di jemur itu daleman udah penuh jaitan mana warnanya udah ga jelas putih apa ungu." Bu Rida yang paling bersemangat gibah mulai mencolek kembali bumbu rujak di hadapannya.
"Ah masa sih Bu?"
"Beneran lho liatin aja nanti kalau Bu Endang lagi jemur baju pasti itu daleman di umpetin di tengah jemuran biar nggak keliatan, kan kalau di depan sama aja di pajang kayak di etalase toko."