
Setelah selesai makan, mereka semua berbincang ringan hanya untuk sekedar mengobrol sesama anggota keluarga, tidak ada satu orang pun yang membahas soal penyakit Aditya. Karena mereka tak ingin membuat hatinya bersedih, mereka ingin kunjungan kali ini hanya ada tawa dan canda tanpa harus merasakan kesedihan.
Tak terasa waktu berlalu begitu cepat, malam pun sudah menunjukan waktu pukul 9. Dan Ziana segera berpamitan untuk pulang karena besok mereka akan melakukan penerbangan ke swiss.
"Pak, Bu dan juga Zian, aku mohon maaf jika selama aku menjadi bagian dari keluarga ini, banyak salah. Aku pamit untuk berobat, mohon doa restunya. Agar semuanya bisa berjalan dengan baik." ucap Aditya sebelum beranjak pergi.
"Nak Ditya adalah orang baik tak ada sedikitpun salahmu dalam keluarga ini, Bapak akan selalu mendoakanmu Nak." ucap Pak Risman.
"Iya kau adalah menantu terbaik kami, kau pasti sembuh." lanjut Bu Rina yang sudah tak kuat lagi untuk tak menangis, matanya kini menggenang kapan saja air mata itu bisa jatuh menetes.
"Kak Ditya adalah panutanku, hingga aku selalu berusaha untuk bisa sepertimu. Aku yakin Kak Ditya pasti pulang dengan kabar baik." Zian pun ikut berbicara.
"Terima kasih doa dan dukungannya selama ini, kalau begitu kita pamit lebih dulu." Ucapnya dengan berjalan beriringan dengan Ziana. Dari tadi Ziana hanya diam menjadi pendengar saja ia tak mau menjadi cengeng jika ikut berkata - kata.
Setelah mereka pamit dan mencium tangan Pak Risman dan juga Bu Rina, keduanya pergi meninggalkan rumah yang menjadi tempat masa kecil Ziana yang penuh kesederhanaan.
***
Kini Mom Irene juga Dad Gamma telah menunggu Ziana juga Aditya di Bandara Soekarno Hatta untuk penerbangan bersama menuju ke swiss. Bara tak bisa ikut mengantar karena ada operasi mendadak.
"Dad kenapa Ziana belum juga sampai ya, apa jangan - jangan Ditya kambuh lagi ya Dad?" Mom Irene terlihat cemas karena hingga saat ini putranya belum juga menampakkan batang hidungnya.
"Tenanglah Mom, Ditya pasti baik - baik saja, kalau ada apa - apa pasti menantu kita sudah menelpon dari tadi." ucap Dad Gamma menenangkan Mom Irene.
"Mom hanya takut Dad."
"Tuh mereka datang, Dad bilang juga apa."
"Akhirnya kalian datang juga, ayo kita masuk sekarang." mereka pun memasuki Bandara Soekarno Hatta, karena menggunakan jet pribadi maka memudahkan bagi mereka jika ada keadaan darurat bisa pergi kapan saja tanpa harus menunggu jadwal dan pembelian tiket.
"Kau baik - baik saja kan Ditya?" tanya Mom Irene yang begitu mengkhawatirkan keadaan putranya.
"Aku baik Mom tak perlu mencemaskanku." Jawab Aditya dengan senyumnya dan kini tengah duduk nyaman di dalam jet pribadi.
"Syukurlah."
Saat ini mereka sedang terbang menuju ke swiss dan perjalanan ini memakan waktu hampir 14 jam. Ini merupakan pengalaman ke dua bagi Ziana pergi keluar negeri jika dulu hatinya begitu bahagia karena akan pergi kelur negeri dan bersenang senang di sana maka tidak dengan kali ini, ia merasa sesuatu yang hampa ada pada dirinya meskipun kini ia berada di antara keluarga yang begitu menyayanginya.
"Apa sudah nyaman sweetty?" tanya Aditya yang kini duduk bersama istrinya.
"Sudah." ucap Ziana yang kini telah duduk santai menggenggam tangan Aditya.
Suamiku, semoga Tuhan mendengar semua doa
dan harapan kita. Di negara lain yang akan kita kunjungi untuk berobat, karena keyakinan kita akan ada jalan lain untukmu. Aku selalu mendoakanmu
di setiap sujudku, selalu namamu yang aku sebut dalam doaku.
"Kenapa tanganmu dingin?" tanya Aditya kembali.
"Aku hanya gugup, meskipun ini bukan pengalaman pertamaku naik pesawat. Hanya saja aku selalu merasa takut."
"Sudah lebih baik?"
"Ya, jika kau mengantuk tidurlah. Aku juga merasa mengantuk." Ziana tersenyum canggung saat mengatakannya, sebenarnya memang ia selalu ingin tidur ketika di dalam pesawat, entah karena apa tapi yang pasti ia akan sangat merasa ngantuk.
"Kau ini, dulu dan sekarang sama saja kau selalu tertidur di hampir sepanjang perjalanan."
"Aku juga tak mengerti." Ziana pun mengedikkan bahunya.
"Sudahlah tidur saja jika kau mengantuk, perjalanan masih lama."
"Benar dan aku lebih baik menunggu dengan tidurku."
Karena rasa kantuk yang tak tertahankan akhirnya ia pun tidur karena rasa lelah yang ia alami, ya lelah dengan batinnya yang tidak tenang karena memikirkan suaminya.
Melihat Ziana yang tertidur begitu cepat membuat Aditya pun tersenyum, ia pun menyingkirkan helai rambut yang kini menutupi kening istrinya. Netranya tak henti memandang wajah kekasih hati yang selalu berada di sampingnya, karena pengaruh obat yang ia minum membuatnya menjadi ikut mengantuk dan mereka pun tertidur bersama dengan saling menggenggam tangan.
Setelah hampir 14 jam di perjalanan sampailah kini mereka di Zurich Airport, seperti biasa jika keluarga Erlangga tiba di swiss maka pihak hotel yang merupakan milik Aditya pun menjemput mereka ke bandara.
Hanya menempuh perjalanan beberapa menit tibalah mereka di hotel, Ziana dan Aditya langsung menuju kamar pribadi Aditya di lantai paling atas, begitu juga dengan Mom Irene dan juga Dad Gamma.
"Apa ini juga hotel ini juga milikmu suamiku?" tanya Ziana yang sejak penjemputan hingga masuk ke dalam hotel semua pegawai menunduk hormat pada mereka.
"Iya, kau kaget bukan betapa kaya suamimu ini?" jawab Aditya dengan tersenyum jumawa.
"Aku tak kaget, kau memang kaya aku tau itu." dengan melangkah menghampiri Ziana, ia pun menggandeng tangan istrinya untuk berjalan menuju ke balkon kamarnya.
"Lihatlah pemandangan di sini."
"Waw ini indah sekali." ucap Ziana terpukau melihat keindahan kota di swiss pada malam hari.
"Apa kau menyukainya?" tanya Aditya.
"Tentu." ucap Ziana dengan terus menatap keindahan kota malam ini.
"Kau bisa menetap di sini jika kau mau?
"Aku tak mau nanti setelah kau sembuh kita lebih baik tinggal di tanah air saja ya."
"Kenapa?" tanya Aditya tak mengerti, kini ia memeluk tubuh Ziana dari belakang dengan menikmati pemandangan yang ada.
"Di sini tidak ada makanan favoritku, kau tau kan suamiku seleraku hanya jajanan kaki lima." ia pun terkekeh saat mengatakannya, dan menikmati kehangatan pelukan yang di berikan oleh suaminya.
"Tapi aku yakin kau akan menyukai orangnya yang ada di sini." Ucap Aditya ambigu.
"Maksudnya?"
"Sudahlah kita masuk, udara sangat dingin aku bahkan tidak bisa merasakan ke dua tanganku ini."
"Iya sebaiknya kita ke dalam kau tak boleh terlalu lama di luar, apalagi udaranya sangat dingin." Ziana dan Aditya masuk ke dalam kamar, tubuh Aditya mudah lemah hanya karena udara saja ia akan bisa sakit. Kini ia harus selalu memakai mantel tebal dan baju yang berlapis - lapis karena udara swiss yang begitu dingin dapat membuat daya tahan tubuhnya menurun drastis.