In Memories

In Memories
part 90



"Memangnya ada apa?" ucap Bara saat mereka sampai di depan mobil Lena.


"Sudah sekarang masuk saja dulu, nanti akan aku jelaskan di jalan." Lena membuka pintu mobilnya kemudian mendorong Bara dengan paksa hingga ia duduk di belakang kemudi.


Setelah itu ia pun memutari mobilnya kemudian ia duduk di samping Bara. Lena tersenyum melihat Bara yang dengan pasrah mulai menyalakan mesin mobilnya.


"Laki - laki yang harusnya menyetir untuk seorang gadis seperti ku."


"Cih pantaskah kau di sebut gadis? dasar titisan siluman lele." gumam Bara dengan pelan dan hanya dirinya sendiri yang tau.


"Kau pasti mengumpatku!" Lena menyipitkan matanya menatap Bara yang kini tengah fokus menyetir mobil.


"Mana ada!" seru Bara.


"Tadi aku seperti mendengar kau mendengung."


"Kau pikir aku lebah?"


"Sudah lah berdebat denganmu selalu tak pernah ada habisnya." Lena menyandarkan tubuhnya di kursi mobil.


"Kita mau kemana ini?" tanya Bara yang bingung dengan arah tujuan yang belum ia ketahui.


"Ah ya hampir lupa aku, nasib kita sedang di ujung tanduk kedua Oma energik itu tengah mempersiapkan pesta pertunangan kita."


Karena kaget dengan ucapan Lena dengan spontan Bara mengerem mobilnya hingga kepala Lena membentur dashboard mobil.


"Aww kau mau membunuhku hah?" Lena terus saja mengusap keningnya yang sakit akibat benturan tersebut.


"Dari mana kau tau?" Bara tak mengindahkan omelan Lena, ia malah balik bertanya dengan posisi mereka yang kini saling berhadapan.


"Saat ini mereka tengah ada di butik dan aku di minta untuk fitting baju pertunangan kita, bagaimana ini?" Lena seperti ikan yang terkapar di darat ia gelisah dan tak bisa diam.


"Terus apa permasalahan nya?" Bara kembali melajukan mobilnya,ia bersikap santai tanpa ada beban apa pun.


"What, kenapa kau bisa santai begitu?" seru Lena yang merasa heran dengan ekspresi yang di tampilkan Bara.


"Apa aku harus mengikuti gerakan mu yang aneh itu, kita sudah menyetujui nya kan. Sekarang apalagi yang membuat mu panik begitu?"


"Aku pikir tak akan secepat ini, bahkan aku berharap nanti setelah aku lulus kuliah." ucap Lena dengan menggebu.


"Memang apa bedanya sekarang dan setelah kuliah, apa nanti kau berubah exstra large begitu? Bara terus fokus tanpa memperhatikan gadis di sampingnya yang terus mengoceh, hingga sebuah pukulan mengenai tangannya dan terpaksa ia pun menoleh dengan wajah meringis karena pukulannya itu.


"Kau itu bisa lembut sedikit tidak?"


"Kau yang mulai duluan, apa maksud ucapan mu hah! kau pikir tubuh ku adonan donat, mengembang jika di biarkan lama?" Lena mengerucutkan bibirnya dengan tatapan mata yang tatapan tajam mengarah pada Bara.


"Lalu apalagi yang kau takutkan? seharusnya kau bersyukur calon suami mu adalah pria yang mendekati sempurna."


"Kau memang selalu satu tingkat lebih tinggi dari orang normal lainnya, bisakah kau berpikir menurunkan sedikit saja pola pikirmu yang tinggi itu. Jatuh itu tak kenal tempat bung!" Lena memutar bola matanya jengah mendengar perkataan Bara yang terlampau percaya diri.


"Terserah apa kata mu, Ah begini saja kalau pun nanti kita menikah setelah dua tahun kita berpisah, dan juga selama pernikahan itu berlangsung kita tidur terpisah."


Bara menghentikan mobil beberapa km dari butik yang akan mereka datangi, karena ucapan Lena yang baginya sangat tak masuk akal.


"Dengar kan baik - baik pernikahan itu sangat sakral aku tak mau menambah dosa, apalagi kau menyamakan pernikahan seolah permainan. Bangun dari tidur mu, jangan samakan dunia nyata dengan cerita novel yang sering kau baca." Bara menunjuk - nunjuk kening Lena yang tengah diam mendengarkan ucapannya.


Ia pun lalu melajukan kembali mobilnya yang hanya tinggal beberapa menit saja.


"Tunggu jangan bilang kau ingin rumah tangga normal seperti yang lainnya."


"Aku tak yakin akan melakukannya jika pasangan ku saja seperti mu. Ah sudah lah pikiran mu jangan terlalu jauh, aku saja ngeri jika harus membayangkannya."


"Apa kau bilang." Lena mengatupkan bibirnya dengan kesal karena jawaban Bara saat itu.


"Sampai kapan kita akan berdebat? cepat turun."


Mereka pun melangkah pergi menuju butik yang ada di depan mata mereka saat ini, untuk mencoba gaun pertunangan yang telah di pesan oleh duo Oma sebagai biang kerok dari kekacauan ini.


***


"Sweety apa kau bahagia hidup bersama ku?" tanya Aditya setelah pergulatan panas mereka di atas ranjang. Kini tubuh Aditya tengah bersandar pada headboard tempat tidur dan Ziana yang tengah memeluk suaminya erat.


"Tentu, aku sangat bahagia." Ucap Ziana tersenyum mendongak menatap manik mata Aditya.


"Suami ku boleh aku minta sesuatu?"


"Apa pun akan ku berikan, kau mau apa hmm?"


"Kita harus belanja keperluan kita di dapur sudah tak ada stok makanan, biar pun badan ku kecil tapi makan ku banyak. Apalagi sekarang aku mudah lapar karena mu." ucap Ziana dengan mulut tanpa saringan seolah ia sudah tak malu dan canggung lagi untuk bersikap di hadapan suaminya.


"Aku pikir kau ingin membeli sesuatu seperti kebanyakan wanita lainnya, ayo kita bersiap bila perlu satu toko makanan kau boleh memborongnya." Aditya tersenyum bahagia, ia menggelengkan kepalanya mendengar permintaan aneh yang keluar dari istrinya, karena cerita yang ia dengar dari rekan bisnisnya jika istri mereka itu sering belanja barang mewah dan branded. Tapi kali ini jauh berbeda dengan istrinya yang hanya menginginkan stok dapur dengan penuh.


"Kau begitu menggemaskan." Ziana berlari menuju bathroom ia tak ingin jika suaminya berubah pikiran dan akan memakannya lagi.


Setelah keduanya bersiap untuk pergi ke mall XX, Aditya juga Ziana turun hingga menuju parkiran dan kemudian mereka melajukan mobilnya menuju mall XX. Setelah sampai Ziana berlari untuk membawa troli belanjaan. Baginya berburu makanan itu sangat menarik di bandingkan ia harus pergi untuk berbelanja kebutuhan wanita lainnya.


"Hati - hati sweety." Aditya mengikuti Ziana dari belakang kemudian ia yang mendorong troli belanjaan. Bagi Aditya ini adalah kali pertama ia mendorong troli belanjaan untuk belanja keperluan dapur appartemennya karena biasanya akan ada maid yang ia suruh untuk selalu mengecek dan juga mengisi keperluan dapurnya.


"Apa aku boleh membeli semua yang aku mau?"tanya Ziana dengan menggigit bibir bawahnya.


"Jangan terus menggodaku sweety, kau boleh beli apapun yang kau mau bahkan jika perlu kau bisa membeli semua yang ada di sini." Aditya tersenyum saat mengatakan ini pada istrinya, seolah mengatakan jika aku mampu memberi mu begitu banyak kebahagiaan yang kau mau agar senyum mu tak pernah meredup selama berada di sampingku.


"Mode pamer si patung es." Gumam Ziana dengan sangat pelan kemudian ia menoleh ke arah Aditya dengan senyum lebarnya.


Mereka tak menyadari ada dua pasang mata yang kini tengah memperhatikan mereka dengan tatapan tajam dan tangannya terkepal kuat karena menahan amarahnya.