
Sebelum keluar dari toilet Ziana merapikan dirinya agar tak berantakan karena tangisannya tadi, ia tak ingin menimbulkan banyak pertanyaan dari teman- temannya nanti. Di rasa cukup ia pun pergi meninggalkan toilet dan berjalan melangkah menuju tempat duduknya.
"Lama amat lo?" Lena yang heran melihat wajah sahabatnya itu terlihat seperti sudah menangis.
"Biasa mules gue." Icap Ziana meringis.
"Kebiasaan sih lo tiap pagi sarapan bukannya sehat malah bikin perut melilit lo, sekarang gimana masih sakit?" tanya Lena.
"Mau gue beliin obat nggak keluar?" Dion pun ikut menimpali wajahnya terlihat cemas, sedangkan Bimo hanya mengangguk menyetujui ucapan Dion.
"Nggak usah ih, udah nggak apa-apa ko sekarang." Ziana memperlihatkan senyumnya meyakinkan temannya agar tak perlu khawatir.
Sorry guys gue bohong.
"Berhubung tugas kita udah beres, perut kita juga udah kenyang dan sekarang bagian kita bobo manis di rumah masing-masing." ujar Lena yang sudah membayangkan kasur empuk di rumahnya.
"Iya yuk ah gue juga udah capek banget ini mana tadi perut gue udah nggak enak lagi." Ziana ikut menimpali.
"Lah ko pulang kirain gue mau pada nonton dulu gitu, lagian apa enaknya kasur sih ntar pulang juga di tidurin juga tuh kasur." Ucap Dion sedikit badmood karena tadinya ia ingin lebih lama di luar, di rumah ia merasa jenuh karena ia merupakan anak tunggal.
"Pulang aja kita yon kalau lo bete, ke rumah gue aja main ps kita, gimana?" tanya Bimo karena ia tau apa yang ada dalam pikiran Dion, dulu ia pernah bercerita betapa bosannya ia menjadi anak tunggal membuat ia jarang ada di rumah.
"Oke lah kalau gitu." jawabnya.
Karena merasa sudah tak ada lagi yang harus di lakukan mereka pun serempak berdiri untuk melangkah ke parkiran.
"Oke kita pisah di sini ya, sampai ketemu besok lagi di kampus beb" ucap Dion menggoda Ziana kembali.
"Bab beb mulu lo, gue bukan bebek enak aja." Ziana mencibir ucapan Dion dengan mengerucutkan bibirnya.
"Issshhh marah nih yee." Dion menjulurkan lidahnya mengejek Ziana, dan begitupun sebaliknya dengan Ziana.
"Udah yuk pulang, lama kelarnya ntar." Lena mengajak Ziana masuk ke dalam mobilnya.
Dion dan Bimo menaiki motornya kemudian berlalu pergi meninggalkan cafe, begitupun dengan Ziana dan Lena.
Selang 25 menit mereka sampai di depan rumah Ziana karena jalanan macet di saat jam pulang kantor seperti ini.
"Lo mau mampir dulu Len?" tanya Ziana
"Nggak deh kayaknya gue langsung pulang aja, ngantuk banget gue."
"Oke deh kalau gitu gue turun dulu ya, sampai ketemu besok di kampus, bye." Ziana turun dari mobil dan melangkah memasuki rumah.
"Ya ampun ini lagi ada acara apa Bu?" tanya Ziana yang sangat kaget melihat ada beberapa teman Ibu nya sedang bersolek dengan riasan tebalnya.
"Ih Inu jawab dulu acara apaan ini?" ia bergidik geli melihat wajah Ibu - Ibu yang biasa tampil dasteran kini semua berdandan dengan sangat hebohnya.
"Ini ada acara make up gratis dari perusahaan kosemetik dan berkeliling ke tiap daerah untuk mengetahui minat masyarakat terhadap produk mereka, nah semua teman Ibu yang ada di komplek ini ikut serta berpartisipasi. Mereka dandan harus dengan gaya nya masing-masing setelah itu nanti ada pemotretan dadakan juga. Katanya siapa yang berdandan paling bagus dengan gayanya paling oke akan lolos sebagai penerima hadiah uang dan skincare gratis dari ujung rambut sampai ujung kuku." terang Bu Rinna panjang lebar mengikuti promosi dari karyawan tadi.
"Pantas saja semua ikut lumayan menghemat pengeluaran skincare." gumam Ziana.
"Ayo ZI kamu juga harus ikutan kamu itu paling muda dan cantik pasti bisa lolos untuk sampul majalah nanti." Ucap Bu Heni yang sedang mengukir halisnya yang melengkung tinggi seperti tali jemuran yang tertiup angin kencang.
"Iya lho Zi kalau kamu yang menang untuk lolos pemotretan majalah sampul nanti kita ikhlas dan sangat mendukung, kamu masih muda sedangkan kita semua itu sudah tak layak untuk di pandang di sebuah majalah." Ucap Bu Risma ikut menimpali dengan sasakan rambutnya yang menyerupai terowongan kereta api.
"Lagian Zi ini kesempatan kamu, kalau kamu berhasil hadiahnya gede. Syukur kalau kamu sampai di kontrak pasti makin gede itu uangnya." Bu Rina pun ikut mengompori sang anak agar mau ikut berpartisipasi.
"Sudah Zi menurut saya mending coba aja dulu ya iseng - iseng berhadiah gitu." sahut Bu Reti yang memakai lipstik merah menyala seperti telah memakan ayam hidup.
Benar juga nggak ada salah nya gue coba lagian kan lumayan kalau menang bisa buat uang semesteran jadi nggak usah nyusahin Bapak sama Ibu.
"Baiklah Zi mau ikut berpartisipasi, Zi masuk kamar dulu ya mau dandan dulu biar bisa bersaing dengan Ibu - Ibu di sini yang sangat cetar." Ziana lupa kalau tadi hatinya sedang sangat terluka karena perkataan Aditya tapi kini ia kembali ceria karena hiburan receh melihat berbagai macam bentuk dandanan yang menurutnya sangat menghibur.
"Oke bagaimana Ibu - Ibu apa semua sudah siap?kita mau mulai pemotretan nya ya, setiap peserta satu kali take." Ucap karyawan perusahaan tersebut.
"Nanti akan di pilih langsung siapa pemenangnya." Lnjutnya.
"Ini pesertanya sudah semua di foto kan?" tanyanya lagi karena di rasa sudah semua ikut dalam pemotretan.
"Nanti belum satu lagi." teriak Bu Rina dari kejauhan ia sedang mengambil air minum untuk semua tamu nya itu.
Karyawan dengan name tag Doni dan Diah itu mengerutkan keningnya karena ia tidak melihat peserta lagi, tadi sewaktu Ziana datang mereka sedang pamit keluar karena ada keperluan.
Sesaat kemudian Ziana yang baru keluar dari kamarnya menggunakan gaun panjangnya berwarna putih dengan potongan tangan pendek dan terusan gaun yang panjang menjuntai, membuatnya sangat cantik bak putri di negri dongeng.
"Apa aku bisa ikut acara ini?" tanya Ziana dengan wajahnya yang canggung pasalnya sekarang semua mata tertuju padanya.
Diah saja sampai melongo melihat tampilan Ziana apalagi Doni yang seorang laki-laki normal tampak tak berkedip memandang kecantikan seorang Ziana.
"Masih bisa kok, bisa banget." Ucap Doni yang terus menatap Ziana.
"Baiklah kalau gitu kita mulai." Ucap Diah, ia lalu berbisik kepada Dion untuk mengambil gambar dengan beberapa kali take. Mereka merasa jika apa yang mereka cari selama ini ada pada Ziana, atasannya pasti akan langsung menyetujuinya.
"Kok banyak banget di fotonya ya katanya cuma satu kali." tanya Ziana merasa heran.
"Karena anda yang paling muda Nona nanti akan kami kirim ke kepala bagian kami untuk di lihat apakah anda termasuk kriteria yang kami cari." ucap Diah yang melihat raut wajah bingung Ziana.
.